2 July 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Mahasiswa Kampus Merah Putih Membangun Branding Digital UMKM Teh Kota & Anak Babi 

59 / 100 SEO Score

IMG 20260624 WA0034 copy 562x516

Mahasiswa 17 Agustus 1945 Surabaya (Kampus merah putih), Ilmu Komunikasi melakukan pendampingan UMKM, yang terdiri dari Teh Kota dan Anak Babi pada bulan Juni. Pada tahun 2026 UMKM memiliki sebagian besar ialah barcode. Maka mahasiswa kampus merah putih mendukung perkembangan UMKM dengan lain salah satunya peningkatan penjualan melalui media digital, dengan menerapkan pengembangan promosi melalui media sosial. Mahasiswa kampus merah putih membantu dalam peningkatan penjualan secara digital dengan fotografi dan videografi.

Komunikasi bisa menjadi senjata untuk mendukung UMKM, tidak hanya berdialog, tetapi juga fotografi dan videografi. Dalam hubungannya mendukung UMKM untuk menjadi bangun lebih baik dari sebelumnya. Ala fotografi, fotografi produk berfungsi sebagai etalase digital. Dalam hitungan detik, konsumen akan memutuskan berhenti atau menggulir layar berdasarkan kualitas foto. Fotografi tidak hanya sekadar jepret, tetapi persoalan membangun selera visual. Penggunaan pencahayaan (Lighting) yang hangat dan sudut pengambilan (Angle) yang tepat mampu membuat tekstur makanan terasa ‘Hidup’ dan menggugah air liur, bahkan sebelum konsumen mencium baunya. Jika fotografi menghentikan jari, maka videografi mengajak konsumen masuk ke dalam cerita. Konten video pendek, terutama yang berdurasi 30-60 detik, saat ini menjadi raja di platform seperti Instagram Reels dan TikTok.

UMKM katering “Anak Babi” di Surabaya (Spesialis menu non-halal seperti Babi Rica, Babi Kecap, dan Babi Goreng) menerapkan sistem Pre-Order fresh by order. Mahasiswa Untag Surabaya mengoptimalkan fotografi makanan dan desain visual sebagai strategi pemasaran utama. Melalui food styling yang matang, seperti piring kayu berkesan hangat, pencahayaan yang memperkuat tekstur daging dan uap panas, serta alas kain kotak berwarna kuning hidangan rumahan tampil profesional dan menggugah selera. Visual estetis ini menjadi komunikasi non-verbal yang ampuh untuk meyakinkan calon konsumen di media sosial akan kualitas produk.

Di sisi lain, desain menu dan identitas visual di Instagram (@anak.babi.id) dirancang informatif dengan dominasi warna merah tegas berpadu latar putih, serta logo karakter khas. Kemasan visual ini memudahkan audiens menangkap informasi produk, termasuk varian 250 gram seharga Rp45.000 dan 500 gram seharga Rp85.000. Secara keseluruhan, pemanfaatan fotografi dan desain visual terbukti menjadi ujung tombak efektif dalam membangun citra merek sekaligus mendukung pemasaran UMKM katering tersebut.

Selain penerapan fotografi sebagai alat pendukung UMKM, mahasiswa kampus merah mendukung dalam pembangunan UMKM berupa videografi sebagai branding konten reels pada ‘Teh Kota’. UMKM ‘Teh Kota’ berlokasi di Jl. Nginden II No.93, Nginden Jangkungan, Kec. Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur 60118. Teh kota memiliki beragam jenis teh mulai dari 8k-12k. Mahasiswa Kampus Merah Putih meningkatkan penjualan ‘Teh Kota’ dengan branding video reels. Mereka memproduksi dua konten bagi ‘Teh Kota’. konten pertama berisi tentang menceritakan bagaimana suasana pembeli yang menjadi target pasar dari teh kota. Lalu konten kedua mencerita untuk pengingat memori ke pembeli tentang harga murah, dan juga enak dan menyegarkan didekat kampus.

Mahasiswa kampus Merah Putih meningkatkan penjualan digital dalam pendekatan emosi dan storytelling harus dibangun dari kebiasaan kecil yang dekat dengan keseharian konsumen, misalnya dengan mengangkat momen “Pelarian singkat” di tengah kesibukan kota, di mana secangkir teh hangat menjadi simbol ketenangan yang mereka rindukan. Cerita bisa dimulai dari proses penyeduhan yang ditampilkan secara jujur dan hangat, seperti tangan yang menuang teh perlahan, uap yang membumbung, hingga suara sendok yang mengaduk gula, lalu dikaitkan dengan karakter tetap seperti “Mbah Teh” atau “Kang Teh” yang ramah dan selalu tersenyum, sehingga konsumen tidak hanya membeli minuman, tetapi merasakan kehadiran sosok yang peduli. Setiap konten perlu memiliki ritual penutup yang khas, misalnya toast gelas ke kamera sambil berkata “Teh Kota”, hangatnya sampai ke jiwa,” serta efek suara ikonik seperti desisan uap atau gemerincing es yang dipakai konsisten di setiap video, agar otak penonton langsung mengasosiasikan suara itu dengan Teh Kota. Selain itu, cerita bisa menghadirkan pelanggan setia yang menceritakan kembali kenangan pertama kali mereka minum Teh Kota saat lelah atau galau, lalu memotong ke masa kini di mana mereka tetap memesan minuman yang sama, memperkuat pesan bahwa Teh Kota adalah teman setia di berbagai fase kehidupan. Walaupun video hanya berisi beberapa detik aja namun sarat makna, serta visual yang fokus pada detail autentik seperti tetesan embun di gelas atau gula batu yang larut perlahan. Konsumen akan merasakan kejujuran produk sehingga mereka tidak hanya ingat rasanya tetapi juga hangatnya emosi yang dibawa pulang dan pada akhirnya tergerak untuk memesan, merekomendasikan, atau bahkan kembali lagi hanya untuk merasakan momen itu sekali lagi.

Mahasiswa Kampus Merah Putih mengembangkan UMKM dan meningkatkan penjualan secara digital melalui branding dalam fotografi dan videografi. Branding ini bukan sekadar teknik visual, melainkan komunikasi emosional yang menghadirkan keaslian produk, mulai dari keindahan tampilan, proses pembuatan yang penuh dedikasi, hingga kebersamaan saat produk dinikmati. Dengan pendekatan humanis ini, konsumen diajak merasakan cerita dan kehangatan di balik setiap produk, sehingga mereka tidak hanya tertarik secara visual, tetapi juga tergerak hatinya untuk mendukung UMKM lokal.

Penulis: Pramodya, Bryan, Andrew, Fauzan, dan Syahril (Mahasiswa 17 Agustus 1945 Surabaya)

59 / 100 SEO Score