
“Melatih Sabar dan Rasa: Perjalanan Faris, Pemanah Kampus 17 Agustus 1945”
Surabaya – Panahan masuk ke Indonesia diperkirakan sejak zaman prasejarah, terbukti dari ditemukannya mata panah dari batu di gua-gua seperti di Maros, Sulawesi Selatan. Saat itu, panahan digunakan suku-suku Nusantara untuk berburu hewan dan berperang antarsuku atau melawan penjajah, misalnya di Kerajaan Majapahit yang menjadikan pemanah sebagai bagian dari pasukan kerajaan.
Masuknya panahan sebagai olahraga modern tak lepas dari pengaruh Belanda pada awal abad ke-20. Klub-klub panahan didirikan di kota-kota besar seperti Batavia dan Bandung untuk kalangan Eropa. Setelah kemerdekaan, olahraga ini mulai berkembang dengan berdirinya Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) pada 1953, yang kemudian diakui sebagai induk organisasi panahan nasional dan membawa Indonesia berlaga di ajang internasional seperti Asian Games dan SEA Games.
Beberapa atlet muda yang berprestasi di bidang olahraga panahan. Salah satunya mahasiswa kampus Universitas 17 Agustus 1945 yang memiliki hobi panahan, beliau bernama Faris. Olahraga panahan baginya ialah olahraga melatih perasaan dan kesabaran. Dari tahun 2014 sampai sekarang beliau berprestasi di olahraga pemanahan. Beberapa peraihan juara selama 12 tahun, terdiri dari:
1. Juara 1 Beregu POMNAS, Semarang 2025
2. Juara 2 Beregu PORPROV, Malang 2025
3. Juara 1 Aduan KEJURPROV, Pacitan 2025
4. Juara 1 Mix Team KEJURPROV, Pacitan 2025
5. Juara 1 Beregu KEJURPROV, Pacitan 2025
Kadang kala, para atlet memiliki tantangan luar biasa dalam kehidupan mereka. Namun mereka tidak menyerah, tetap menghadapi tantangan dan berlatih dengan konsisten. Tanpa konsistensi atau disiplin, tidak akan ada keberhasilan. Maka beliau mengucapkan dalam berharap, “Jangan cepat menyerah, nikmati proses dan tingkatkan kemampuan.” Info/red/pram

Berita Lainnya
Mahasiswa Kampus Merah Putih Membangun Branding Digital UMKM Teh Kota & Anak Babi
Eksistensi Jajanan Telur Gulung di Kawasan Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Menangkap Pesona Tersembunyi Pantai Ngantep melalui Komunikasi Pariwisata di Era Digital