10 August 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Mengapa Gen-Z Butuh Komunikasi Pariwisata yang Edukatif

62 / 100 SEO Score

IMG 20260616 WA0008

Mengapa Gen-Z Butuh Komunikasi Pariwisata yang Edukatif

Generasi Z (Gen-Z) kini telah sepenuhnya mengambil alih lanskap perjalanan global. Bagi generasi yang lahir dan tumbuh besar dalam dekapan ranah digital ini, aktivitas traveling atau yang akrab mereka sebut dengan istilah healing, bukan lagi sekadar kegiatan rekreasi musiman untuk melepas penat. Lebih dari itu, perjalanan telah bergeser menjadi sebuah kebutuhan identitas, ruang pelarian kesehatan mental, serta sarana utama dalam mengaktualisasikan diri di media sosial. Sesi berburu foto berlatar pemandangan alam yang memukau atau sudut kafe yang unik kini menjadi ritual wajib. Namun, di balik gemerlapnya tren healing dan maraknya visualisasi estetis yang berseliweran di linimasa, tersimpan sebuah tantangan komunikasi yang besar. Bagaimana sebuah informasi pariwisata disampaikan, diterima, dan diinterpretasikan secara benar oleh generasi muda ini?

Persoalan krusial inilah yang baru-baru ini memantik diskusi akademis yang sangat hangat di dalam ruang kelas kami. Saat itu, dosen pengampu kami, Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A., melontarkan sebuah pertanyaan pemantik yang sangat mendalam mengenai sejauh mana Gen-Z benar-benar memahami esensi, sejarah, dan dampak dari tempat-tempat yang mereka kunjungi. Diskusi tersebut membuka mata saya, Kumara Bayu Tirta Pamungkas, bahwa komunikasi pariwisata di era modern tidak boleh lagi dipandang sebelah mata sebagai sekadar urusan brosur digital atau strategi promosi jualan. Komunikasi pariwisata adalah jembatan vital yang menentukan apakah sebuah destinasi akan lestari atau justru hancur di tangan para pencari konten.

Fenomena pergeseran gaya berwisata ini mewujud dalam bentuk digital-driven tourism, di mana keputusan berkunjung ke suatu tempat hampir 100% dipengaruhi oleh apa yang terlihat di layar ponsel. Momentum ini terasa sangat masif sejak pulihnya sektor pariwisata pasca-pandemi hingga memasuki pertengahan tahun 2026 ini. Gen-Z kini secara statistik tercatat sebagai salah satu segmen penggerak roda ekonomi kreatif terbesar di sektor pariwisata. Mereka adalah kelompok yang mendatangi desa-desa wisata terpencil, menghidupkan coffee shop di sudut kota, hingga memenuhi destinasi alam tersembunyi (hidden gems) yang mereka temukan lewat algoritma media sosial.

Masalah komunikasi pariwisata ini muncul merata di berbagai destinasi, mulai dari wisata alam pegunungan, situs warisan budaya yang sakral, hingga kawasan wisata urban. Pihak yang terlibat di dalam ekosistem ini sangat kompleks. Di satu sisi, ada pengelola destinasi, pelaku UMKM, dan pemerintah selaku pemangku kebijakan. Di sisi lain, ada influencer, content creator, dan Gen-Z itu sendiri sebagai konsumen informasi. Ketika sebuah tempat menjadi viral di TikTok atau Instagram, gelombang wisatawan muda akan langsung memadati lokasi tersebut. Namun, ketiadaan strategi komunikasi pariwisata yang matang di lokasi sering kali memicu kekacauan. Wisatawan datang hanya untuk berfoto di titik yang viral, tanpa peduli pada kebersihan lingkungan sekitar atau aturan adat yang berlaku di sana.

Mengapa kita perlu memberikan perhatian khusus pada cara berkomunikasi dengan Gen-Z? Jawabannya terletak pada karakteristik psikologis dan perilaku konsumsi media mereka. Gen-Z adalah generasi yang sangat bergantung pada ulasan digital (user-generated content), video dokumenter pendek (vlog), serta rekomendasi berbasis visual. Jika komunikasi yang dibangun oleh pengelola wisata tradisional masih menggunakan pola lama yang kaku, searah, dan penuh dengan bahasa jargon birokrasi, maka informasi tersebut dipastikan akan diabaikan.

Tanpa adanya pola komunikasi pariwisata yang efektif dan mengedukasi, ketergantungan Gen-Z pada tren viral dapat berdampak fatal. Kita menyaksikan maraknya fenomena overtourism, di mana sebuah wilayah kelebihan beban kapasitas wisatawan hanya karena semua orang ingin meniru foto dari seorang pembuat konten terkenal. Dampak buruk lainnya adalah pudarnya nilai luhur dan kesakralan suatu tempat budaya akibat kurangnya pemahaman dan minimnya informasi yang diterima oleh wisatawan muda tersebut sebelum mereka menginjakkan kaki di sana.

Sebagai mahasiswa komunikasi yang mengkaji fenomena ini, saya memandang perlunya sebuah reformasi dalam cara kita menyampaikan pesan-pesan pariwisata kepada kaum muda. Menyelaraskan pemikiran dengan perspektif akademis yang sering ditekankan oleh Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A. dalam perkuliahan kami, strategi komunikasi pariwisata modern harus bersifat interaktif, dua arah, dan mengedepankan nilai edukasi budaya, bukan sekadar komersialisasi keindahan visual semata.

Gen-Z dikenal memiliki kepekaan yang tinggi terhadap keaslian (authenticity); mereka sangat tidak menyukai bentuk promosi yang kaku, berlebihan, atau terasa “palsu”. Oleh karena itu, penerapan komunikasi pariwisata yang tepat harus diwujudkan melalui beberapa langkah strategis.

Pada akhirnya, komunikasi pariwisata bagi Generasi Z bukan lagi sekadar pilihan pelengkap bagi divisi humas atau pemasaran, melainkan sebuah urgensi mutlak demi masa depan industri pariwisata kita. Melalui tulisan ini, Kumara Bayu Tirta Pamungkas ingin mengajak rekan-rekan sesama generasi muda dan para pengelola wisata untuk melihat lebih jauh ke depan.

Komunikasi yang dirancang dengan tepat, kreatif, dan transparan akan mampu mengubah pola pikir Gen-Z. Mereka yang awalnya datang hanya sebagai “Pemburu konten estetis demi validasi digital” akan bertransformasi menjadi “Wisatawan bertanggung jawab yang menghargai keberlanjutan”. Dengan menyajikan informasi yang jujur dan mengedukasi, kita bersama-sama dapat memastikan bahwa keindahan pariwisata nusantara tidak hanya dinikmati sesaat di layar gawai hari ini, melainkan tetap lestarikan untuk generasi-generasi yang akan datang.

Oleh: Bayu

62 / 100 SEO Score