
Surabaya – Produsen Tepung tanah air PT Bogasari Flour Mills mencatatkan tren positif pada awal 2026. Penjualan tepung terigu di wilayah Indonesia Timur pada periode Januari–Februari meningkat 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Vice President Marketing Bogasari Wilayah Indonesia Timur, Yulius Ronadi, mengatakan kenaikan penjualan ini sudah dirasakan sejak awal ramadan dengan meningkatnya permintaan pasar, baik dari sektor industri manufaktur maupun Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Permintaan terbesar dari UMKM sengan penjualan terbanyak tepung terigu Kunci Biru kemasan 1Kg. Selama dua bulan pertama kami mencatatkan oertumbuhan yang meningkat signifikan,” ujar Yulius.
Kenaikan tersebut didapatkan dari pelaku industri kecil (UMKM) yang menyerap sekitar 60–65 persen total pasokan dan sektor industri ada diporsi 20–25 persen. Sisanya tersebar di konsumen kecil lainnya.
Ditambahkan Yulius, penjualan di tahun 2026 masih stabil dengan pertumbuhan sekitar 3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. UMKM sebagai penyumbang terbesar dan paling dominan demikian retail juga tinggi, sementara industri tetap tumbuh.
“Jika dibandingkan tahun lalu, ada pertumbuhan sekitar 3% untuk dua bulan pertama. Biasanya memang menjelang Ramadan permintaan mulai naik.Saya nilai kenaikan ini dinilai selalu terjadi mengingat awal tahun menjadi fase pemanasan sebelum memasuki Ramadan, ketika konsumsi bahan baku makanan meningkat signifikan,” imbuhnya.
Menanggapi situasi geopolitik di Timur Tengah dengan ditutupnya jalur pelayaran di wilayah tersebut durasakan dampaknya pada biaya logistik global atau freight cost.
“Yang pasti ke freight cost karena jalur kapal harus . memutar lewat Tanjung Harapan di Afrika yang dampaknya dengan menaikkan biaya distribusi karena rute yang lebih jauh,” jelasnya.
Namun demikian, dari sisi harga, dipastikan belum ada kenaikan. Harga terigu sendiri dipengaruhi tiga faktor utama, yakni harga gandum global, keseimbangan suplai dan permintaan, serta biaya transportasi. Gangguan cuaca di negara produsen, seperti kekeringan di Australia beberapa tahun lalu, pernah memicu lonjakan harga akibat turunnya produksi.
“Dengan pasokan yang masih terjaga dan permintaan domestik yang solid, Bogasari optimistis kinerja penjualan tetap tumbuh sepanjang Ramadan hingga akhir 2026,” pungkas Yulius. info/red

Berita Lainnya
Dukung Ekosistem Sepak Bola Usia Muda, BRI Region 12 Surabaya Gelar Youth Champions League 2026
Bupati Ipuk Apresiasi Peran Masyarakat Jaga Tradisi, Jadi Kunci Pariwisata Banyuwangi
KAI Pastikan Seluruh Lokomotif Gunakan Biosolar B40