
Malang – Di tengah pesatnya perkembangan ilmu manajemen modern, sekelompok mahasiswa Universitas Ma Chung memilih menggali kembali kearifan lokal Jawa untuk mencari pendekatan baru dalam mengelola usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Melalui penelitian bertajuk “Jiwa dalam Laba: Integrasi Kosmologi Jawa Sedulur Papat Limo Pancer dalam Perancangan Model Tata Kelola UMKM Heritage Malang Berbasis Budaya”, mereka meraih pendanaan Pekan Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) 2026 dari Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi. Penelitian ini dibimbing Bagas Brian Pratama, S.Tr.Ak., M.Tr.Ak., CAAT, dosen Program Studi Digital Business Accounting, dan kabar pendanaan tersebut diterima tim pada 22 Mei 2026.
Tim yang diketuai Silvie Gunawan, bersama Maulida Tri Atmajayanti, Sherly Natalia Sunaryo, dan Andi Natan Kamil Azzumarzidan, berangkat dari persoalan yang dihadapi sejumlah pelaku UMKM dalam menerapkan tata kelola modern. Mereka melihat nilai-nilai budaya lokal dapat menjadi pendekatan yang lebih dekat dengan karakter masyarakat, khususnya di kawasan heritage yang memiliki kekuatan sejarah dan budaya seperti Kampoeng Heritage Kayutangan. “Nilai-nilai budaya lokal sesungguhnya dapat dimanfaatkan sebagai pendekatan tata kelola yang lebih relevan, terutama di kawasan heritage yang memiliki karakter sosial dan budaya kuat,” ujar Bagas.
Penelitian ini menjadikan filosofi Sedulur Papat Limo Pancer sebagai landasan untuk merancang model tata kelola UMKM yang tidak hanya berorientasi pada keberlanjutan usaha, tetapi juga menjaga identitas budaya setempat. Pelaku UMKM di Kampoeng Heritage Kayutangan dilibatkan secara langsung sebagai informan dan responden melalui wawancara mendalam, kuesioner, serta Focus Group Discussion (FGD). Tim juga menggandeng Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampoeng Heritage Kayutangan sebagai mitra penelitian, mulai dari membantu proses perizinan dan pemilihan informan hingga memberikan masukan terhadap model yang dirumuskan.
Pemilihan Kayutangan sebagai lokasi penelitian dinilai relevan karena kawasan tersebut mempertemukan pelestarian warisan budaya dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Penelitian berlangsung selama lima bulan, Mei hingga September 2026, dengan tahapan mulai dari observasi lapangan, pengumpulan dan analisis data hingga FGD. Pendekatan yang digunakan berupa metode kualitatif yang diperkuat data kuantitatif melalui wawancara dan penyebaran kuesioner. “Kami berharap model tata kelola yang dihasilkan nantinya dapat benar-benar diterapkan oleh para pelaku UMKM, sehingga usaha mereka semakin berkembang tanpa harus meninggalkan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas kawasan ini,” kata Silvie.
Melalui penelitian tersebut, tim PKM-RSH Universitas Ma Chung berharap dapat menghasilkan model tata kelola UMKM yang aplikatif sekaligus mempertemukan kebutuhan pengelolaan usaha dengan nilai-nilai kearifan lokal Jawa. Upaya itu diharapkan menjadi langkah kecil untuk menjaga agar perkembangan ekonomi di kawasan heritage tidak berjalan terpisah dari akar budaya yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Kayutangan. info/red

Berita Lainnya
Bupati Kediri Mas Dhito Tegaskan Tidak Boleh Ada Lagi Bulying di Sekolah
UK Petra Ajak Anak-anak Kampung Dolly Belajar Membatik dengan Canting dari Limbah Kertas
Bupati Kediri Mas Dhito Berikan Beasiswa Pelajar Kediri Peraih Medali Emas LKS Nasional 2026