
Pariwisata Indonesia kini tidak lagi hanya bergantung pada brosur cetak atau agen perjalanan konvensional. Di era digital saat ini, ujung tombak promosi pariwisata telah bergeser ke layar ponsel (smartphone) dalam genggaman masyarakat. Dalam mata kuliah Komunikasi Pariwisata yang diampu oleh Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A. membuka mata mahasiswa terhadap pergeseran lanskap komunikasi pariwisata ini menciptakan fenomena baru di mana destinasi wisata yang dulunya tersembunyi (hidden gem) dapat meledak secara eksponensial berkat kekuatan media sosial. Fauzan Iskandar mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya, melihat salah satu bukti nyata dari fenomena ini adalah pesona Pantai Kondang Merak di pesisir selatan Jawa Timur. Berbeda dengan pantai-pantai arus utama lainnya, Kondang Merak menawarkan lanskap alam yang tenang dan kekayaan kuliner bahari, yang eksistensinya kini semakin kuat berkat jejak komunikasi digital dari para pelancong.
Lantas, apa yang membuat komunikasi pariwisata digital sangat krusial bagi Pantai Kondang Merak? Destinasi ini tidak hanya menawarkan pasir putih dan ombak yang dipecah oleh karang, melainkan juga sebuah pengalaman kuliner ikonik, yakni sate tuna dan gurita pedas hasil tangkapan nelayan lokal. Potensi pariwisata hulu ke hilir ini membutuhkan jembatan komunikasi agar sampai ke audiens yang lebih luas.
Siapa yang menjadi aktor utama dalam komunikasi ini? Tidak lagi hanya pemerintah daerah, tetapi para wisatawan-terutama generasi Z-dan content creator lokal yang bertindak sebagai agen promotor secara sukarela (User-Generated Content). Kapan fenomena ini memuncak? Terutama pada hari-hari biasa hingga akhir pekan, seperti pantauan pada Kamis pekan lalu, di mana hiruk-pikuk wisatawan muda terlihat sibuk mengabadikan momen alam dan kuliner mereka ke platform Instagram dan TikTok secara real-time.
Keindahan pesisir yang terletak dimana, tepatnya di Desa Sumberbening, Kabupaten Malang ini, sempat terkendala oleh akses jalan makadam yang menantang. Namun, mengapa minat wisatawan tetap tinggi? Jawabannya terletak pada keberhasilan komunikasi pariwisata visual. Foto dan video pendek (Reels/Shorts) yang tersebar di ranah digital berhasil membangun aspek fear of missing out (FOMO) dan menanamkan persepsi bahwa rintangan perjalanan tersebut sepadan dengan keindahan visual dan cita rasa kuliner yang didapatkan setibanya di sana. Lalu, bagaimana bentuk komunikasi digital ini dioptimalkan? Komunikasi berjalan dua arah.
Para wisatawan merekam secara sinematik pesona Kondang Merak dan memberikan ulasan jujur mengenai harga dan rasa kuliner lokal, kemudian algoritma media sosial mendistribusikannya ke jutaan layar pengguna lainnya. Hal ini menciptakan pemasaran mulut ke mulut (Word of Mouth) digital yang jauh lebih efektif, murah, dan masif dibandingkan iklan televisi konvensional.
Pada akhirnya, Pantai Kondang Merak adalah representasi ideal dari bagaimana komunikasi pariwisata di era digital bekerja. Media sosial telah mendemokratisasi promosi wisata, memberikan panggung bagi warga lokal dan nelayan pesisir untuk ikut merasakan dampak perputaran ekonomi dari sektor pariwisata. Meski demikian, literasi dan tanggung jawab dalam berkomunikasi secara digital tetap harus dikedepankan agar lonjakan kunjungan ini tidak merusak ekosistem dan keaslian alam Kondang Merak itu sendiri. Pariwisata berkelanjutan kini dimulai dari satu klik, satu unggahan, dan satu narasi positif di media
sosial.
oleh: Fauzan Iskandar mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya

Berita Lainnya
Mahasiswa Kampus Merah Putih Membangun Branding Digital UMKM Teh Kota & Anak Babi
Eksistensi Jajanan Telur Gulung di Kawasan Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Menangkap Pesona Tersembunyi Pantai Ngantep melalui Komunikasi Pariwisata di Era Digital