13 July 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Bukan Aib, Melainkan Mahakarya: Persekutuan Pewaris GKJW Rungkut Teguhkan Harga Diri Disabilitas

56 / 100 SEO Score

gkjw rungkut event

Surabaya – Suasana GKJW (Greja Kristen Jawi Wetan) jemaat Rungkut, Surabaya, terasa berbeda. Di pelataran gereja, tawa kecil dan langkah kaki yang beragam irama berpadu menjadi satu. Persekutuan Warga Disabilitas (Pewaris) GKJW Majelis Daerah Surabaya Timur 1 digelar kembali. Bukan hanya sekadar ibadah, melainkan sebuah perayaan bahwa setiap jiwa berharga di mata Tuhan, Sabtu sore (13/6/2026).

Acara dimulai pukul 17.00 WIB. Kali ini, yang memandu bukan pembawa acara biasa. Kak Yudi orangnya sangat akrab disapa dengan nama Kak Iyud yang tampil mendampingi Kak Angel, seorang penyandang disabilitas tunanetra yang penuh semangat. Interaksi keduanya mengalir hangat dan cair. Mereka membuat jemaat dari anak-anak hingga dewasa tak henti tersenyum dan bersorak. Inilah wajah persekutuan yang merangkul semua tanpa kecuali.

Setelah alunan pujian pembuka, Pdt. Abednego Adi Nugroho, mewakili Pelayan Harian Majelis Daerah (PHMD) GKJW ST1, menyampaikan sambutan sekaligus membuka ibadah dengan votum dan salam. Ia menegaskan kembali tema persekutuan: “Rumah Kita, Rumah Tuhan.” “Gereja menghadirkan wajah Tuhan kepada setiap orang,” ujarnya, mengingatkan bahwa rumah Tuhan adalah tempat bagi semua insan tanpa syarat.

Kehangatan langsung mengalir lewat penampilan Pniel Band, kelompok musik dari teman-teman penyandang autis. Mereka membawakan “Ku Kasihi Kau dengan Kasih Tuhan” dan “Hari yang Terindah” dengan penghayatan yang membuat banyak mata berkaca-kaca. Tepuk tangan membahana, mengapresiasi setiap nada yang lahir dari hati yang tulus.

Suasana bertambah menyentuh saat Pak Yono dan Bu Dina, suami istri penyandang tunanetra dari GKJW Darmo, tampil ke depan. Dengan petikan gitar sederhana, mereka menyanyikan lagu ciptaan sendiri berjudul “Bersyukur” terinspirasi dari kitab Yeremia 29:11. Bait-bait syukur itu mengalun syahdu, mengundang jemaat ikut bergumam dalam hati. Tak lama, seluruh ruangan bergemuruh riang saat jemaat bersama-sama menyanyikan “Nggandol Gusti” dengan penuh semangat. Persembahan diiringi lagu “Pekerja Kristus yang Mulia” , menambah khidmat momen tersebut.

Pewaris sore itu sungguh merayakan keberagaman talenta. Kosa, penyandang disabilitas fisik dari Pepanthan Gunung Anyar, tampil melantunkan “Yesus Penolong yang Setia” dengan suara merdu. Kemudian, sebuah suguhan tak biasa mencuri perhatian: fashion show dari Grace, Valen, Kazu, dan Evelyn. Dengan penuh percaya diri, keempat penyandang disabilitas ini melangkah di depan altar, memeragakan busana mereka seolah tengah berjalan di catwalk gemerlap. Tepuk tangan dan sorakan dukungan memenuhi ruangan—bukan karena kasihan, melainkan karena kagum.

Sekolah Luar Biasa (SLB) Bangun Bangsa juga turut membawa semangat lewat medley lagu “Hari Ini Harinya Tuhan” dan “Kingkong Badannya Besar” . Anak-anak menyanyi dan menari dengan sukacita yang menular ke seluruh hadirin.

Firman Tuhan hari itu disampaikan dalam dua sesi: untuk anak-anak dan dewasa. Sesi dewasa dibawakan oleh Ps. Suhardiman Eko, seorang ayah dari penyandang disabilitas. Suaranya bergetar namun tegas saat menyampaikan pesan yang membebaskan: “Keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus bukanlah keluarga yang dikutuk.” Kristus, katanya, adalah fondasi kesempurnaan sebuah keluarga bukan dibangun di atas rasa malu, perbandingan, atau tuntutan manusia. Keluarga dibangun di atas kasih Allah. Dengan pandangan berkeliling ke arah para orang tua yang hadir, ia menegaskan, “Semua anak adalah masterpiece, mahakarya ciptaan Tuhan.”

Firman ditutup dengan alunan lagu “Ku Mau Cinta Yesus Selamanya”. Bersamaan dengan itu, anak-anak yang sebelumnya mengikuti sesi terpisah masuk kembali ke ruang utama. Dalam sesi anak-anak diingatkan dalam FirmanNya “Tuhan mengasihi mereka tanpa syarat”. Para orang tua dan pelayan menyambut mereka, menumpangkan tangan dan menyampaikan berkat sebuah pemandangan yang menghangatkan hati, seolah rumah Tuhan itu memeluk erat setiap penghuninya.

Seluruh rangkaian ibadah pun usai, tetapi kehangatan belum berakhir. Jemaat lalu berbagi dalam makan malam bersama. Di situlah, di antara denting sendok dan celoteh polos, terasa nyata bahwa rumah Tuhan adalah tempat di mana setiap orang dikasihi tanpa syarat dan mereka semua adalah mahakarya-Nya. info/red/pram

56 / 100 SEO Score