
Surabaya, Pustakalewi.Net – “Pelayanan” adalah kata yang teramat sering kita dengar dalam khasanah kekristenan. Hampir seluruh umat Kristen yang terbeban mengekspresikan hasrat untuk menjadi saksi Kristus menggunakan kata “pelayanan” sebagai bentuk dan jati diri aktivitasnya.
Namun apa lacur, kata “pelayanan” telah berubah makna. Kemewahan dan pragmatisme-lah yang mengedepan. Pelayanan kini berarti fasilitas lengkap, di hotel dan plasa Megah dan menjadikan orang kaya sebagai sasaran dari pelayanannya.
Untuk keperluan itu, adanya investor di balik sebuah pelayanan menjadi sebuah kelaziman. Pelayanan dikelola bak mengelola sebuah perusahaan di dunia sekuler. Keuntungan besar diberi istilah baru: “Berkat”.
Ditengah fenomena yang menyesakkan itu, keberadaan Yayasan Karya Kasih yang diilhami semangat hidup ibu Theresa bak setitik cahaya dikegelapan pekat. Kerinduan Fransiska Matam Uran (47 tahun) – pendiri Yayasan Karya Kasih – untuk melayani rakyat kecil dan miskin seperti antitesa atas fenomena penyimpangan makna pelayanan tadi.
Keteguhan Suster Fransiska – yang lebih senang dipanggil Ibu Fransiska ini- terhadap rakyat papa dapat dilihat dari konsep Cari-Bina-Rawat (CBR) yang dipakai. Yayasan Karya Kasih melalui pelayanan konseling, penyembuhan dan panti asuhan mencari kaum miskin yang membutuhkan pertolongan, membina dan merawatnya dengan penuh cinta kasih.
Bukti dari keteguhannya itu adalah lebih dari dua ribuan umat telah dipulihkan dari sakit-penyakit yang diderita. Pendekatan konseling dan fisio terapy yang dikembangkan Yaysan Karya Kasih efektif menjangkau rakyat kecil. Mereka juga mengelola tiga (3) panti asuhan yang terletak di Flores, Surabaya dan yang terakhir di Kota Kediri. Untuk rakyat miskin kota yang terdapat di kota Surabaya, Yayasan Karya Kasih secara rutin membina 300 Kepala Keluarga pemulung korban penggusuran yang dilakukan pemkot Surabaya.
Bermula dari kamar kos
Pelayanan Ibu Fransiska bermula dari keputusannya pada tahun 1997 keluar dari Yayasan Bakti Luhur, tempat pelayanannya selama empat (4) tahun lebih. Selama melayani di Yayasan Bakti Luhur yang bermarkas di Kota Malang, Ibu Fransiska bertanggungjawab mengelola ALMA (Asosiasi Lembaga Misisonaris Awam).
Keputusan Ibu Fransiska keluar dari tugas mengelola ALMA mengandung konsekuensi yang lumayan besar. Hasratnya untuk terus bekerja untuk kaum papa memaksanya untuk menanggalkan jubah kesusteran yang selama ini dikenakannya.
Awal bulan April tahun 1997 adalah momen terpenting bagi Ibu Fransiska. Panggilan untuk melayani kaum papa dimulai Fransiska dari sebuah kamar kos yang terletak di bilangan Gilimanuk-Kota Malang.
Setelah merenung dan melakukan kontemplasi yang dalam, Ibu Fransiska memulai pelayanannya dari kelebihan yang diberikan Tuhan atasnya. Dari pengalaman panjangnya semasa masih menjadi seorang suster, Ibu Fransiska oleh Tuhan diberi kemampuan dan ketekunan dalam merawat orang sakit. Dengan tekun ia menerima dan mencari orang yang membutuhkan pertolongannya.
Setelah setahun berlalu, Ibu Fransiska berhasil mengontrak sebuah rumah di wilayah Kuntabeswara di kota Malang. Pada tahun 1998 uskup Flores Timur mengontak Fransiska dan memintanya untuk mendirikan Panti Asuhan di sana. Berkat pertolongan Tuhan, setelah bekerja selama dua tahun,tahun 2000 panti Asuhan akhirnya dapat berdiri.
Setelah peresmian Panti Asuhan di Flores, Fransiska meminta ijin ekspansi ke kota Surabaya. Semangat pelayananya terus bertumbuh. Berawal dari mengontrak di daerah Ketintang pada tahun 2001, Yayasan Karya Kasih pada bulan agustus 2003 kemudian pindah ke Rungkut. Pada bulan Januari tahun 2005 mereka akhirnya mendapatkan markas tetap di Jl. Gembong IV /26 Kapasan-Simokerto. Dalam markas barunya itu Yayasan Karya Kasih selain melakukan terapy penyembuhan bagi orang yang berbeban berat juga dijadikan tempat Panti Asuhan.
(P-sib)

Berita Lainnya
BPJS Kesehatan Klaim Program JKN Makin Kuat Tembus 282,7 juta Jiwa Total Penduduk Indonesia
UKKKP UNESA Undang UK3 Untag dalam Unesa Cup 2026
Film ‘Foufo’, Angkat Kisah Alien Mendarat di Keluarga Madura Yang Membawa Pengalaman Baru Bagi Karina Aliya