
Surabaya – Metaverse dipastikan akan menjadi teknologi paling menarik yang layak dipertimbangkan perbankan di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Pengalaman imersif yang ditawarkan metaverse bisa dikemas perbankan sebagai new experience bagi nasabahnya yang bermuara pada customer satisfaction.
Managing Director Shinta VR, Andes Rizky mengatakan pasca-Mark Zuckerberg mengumumkan mengganti nama Facebook menjadi Meta Platforms Inc atau Meta pada 28 Oktober 2021 lalu, metaverse tiba-tiba menjadi topik paling aktual dan banyak dibicarakan orang di muka bumi ini. “Apalagi, ketika pendiri Microsoft, Bill Gates memprediksi dalam 2-3 tahun mendatang rapat-rapat kantor juga akan diadakan di metaverse,” kata dia dalam webinar “Banking in Metaverse: a Hype or Real, Rabu (26/1/2022).
Sebagai gambaran, teknologi imersif merupakan teknologi yang mengaburkan batasan antara dunia nyata dengan dunia digital atau dunia simulasi, sehingga penggunanya bisa merasakan suasana yang mirip dengan dunia nyata
Bahkan perbankan, menurutnya adalah salah satu industri yang paling diuntungkan dengan adanya teknologi metaverse. “Pengalaman imersif yang ada pada metaverse mampu menciptakan pengalaman baru mendalam sehingga bisa memuaskan pelanggan,” ujarnya
Salah satu studi mengungkapkan bahwa pengalaman baru membuat pelanggan lebih bahagia daripada objek fisik. Perusahaan yang lebih memprioritaskan pengalaman dibanding produk memiliki kemungkinan rujukan 200% lebih besar dan loyalitas pelanggan 25% lebih banyak. “Teknologi metaverse mampu mengaburkan batas antara kenyataan dan dunia virtual. Nah, saya kira, bank tak perlu lagi menunggu dalam keraguan, sebab di metaverse ada banyak peluang yang bisa dimanfaatkan bank,” tutur Andes.
Beberapa peluang itu antara lain bank dapat menjangkau nasabah baru yang tidak dapat pergi ke cabang dan masih menawarkan pengalaman yang imersif.
“Pengalaman imersif mampu mengaburkan batasan antara dunia nyata dengan dunia digital atau dunia simulasi, sehingga penggunanya bisa merasakan suasana yang mirip dengan dunia nyata. Di metaverse aktivitas transaksi sederhana seperti pengiriman uang dapat dikelola di jendela teller, sementara avatar karyawan di dalam ruang VIP virtual dapat membantu klien menganalisis atau merancang portofolio investasi bagi pelanggan. Ini bisa menjadi new experience tersendiri bagi nasabah,” kata Andes.
Co-Founder dan Chief Editor digitalbank.id Safaruddin Husada menuturkan, saat ini sudah banyak bank di luar negeri, sebut saja di Korea Selatan seperti KB Kookmin Bank, Industrial Bank of Korea, NH Nonghyup dan Hana Bank menyatakan masuk ke metaverse untuk meningkatkan layanannya pada nasabah. Kemudian Bank of America, BNP Paribas, Bank of Kuwait, dan terakhir Microbank di Swedia.
“Jadi tak berlebihan kalau kita bilang bahwa teknologi metaverse adalah masa depan perbankan, termasuk perbankan di Indonesia. Banyak hal bisa dieksplor perbankan di metaverse untuk memberikan new experience bagi nasabah dan menciptakan customer satisfaction,” kata Safaruddin Husada.
Contoh paling jelas di mana metaverse dapat mempengaruhi perbankan adalah dalam interaksi pelanggan, apalagi di masa pandemi seperti saat ini. Banyak bank telah menawarkan layanan video tatap muka dengan nasabah dan menggunakan mesin teller interaktif menggunakan konektivitas video dan fungsionalitas yang lebih kuat daripada ATM. Namun ke depan melayani pelanggan di dunia virtual akan menjadi satu kemutlakan. “Dan, metaverse adalah jawabannya,” tegasnya. info/red

Berita Lainnya
Mulcindo Ikut Serta di INDOBUILDTECH 2026, Hadirkan Beragam Produk Material Bangunan Berkualitas
inDrive Terapkan Perpres Perlindungan Pekerja Transportasi Online, Tegaskan Komitmen terhadap Kesejahteraan Pengemudi
Pasar Ekspor Sepi, HIPKI: Sudah Waktunya Pemerintah Serius Membenahi Tataniaga Kelapa Bulat