11 July 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Pengabdian Untag Surabaya di Desa Kertosono: Pemanfaatan AI Generatif untuk Village Branding melalui Kanvas Desa Digital

52 / 100 SEO Score

KKN Untag AI

Mahasiswa kampus Universitas 17 Agustus 1945  Surabaya (Untag Surabaya) melakukan pengabdian kemasyarakatan di Desa Kertosono, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik sebelah utara selama 12 hari. Hari Sabtu, 11 Juli 2026 yang merupakan hari keenam, Untag Surabaya melakukan program patriotisme kalangan pemuda pemudi Desa Kertosono terhadap “Kanvas Desa Digital”. Kanvas Desa Digital ialah bagaimana praktis pemanfaatan Artificial Intellligence Generatif untuk membangun village branding secara cepat dalam beberapa menit.

Sejak jam 13.00 WIB mahasiswa Kuliah Kerja Nyata di Balai Desa Kertosono memulai dengan pembagian kertas pretest pertanyaan berkaitan dengan Karang Taruna yang merupakan organisasi sosial kemasyarakatan yang menjadi wadah pengembangan generasi muda, tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial dari, oleh, dan untuk masyarakat Desa/Kelurahan. Kemudian, salah satu mahasiswa kampus Merah Putih, Bima Putra Purnawirawan memberikan wawasan pengetahuan tentang media massa digital, salah satunya Instagram, bisa membuat konten dengan bantuan AI. Salah satunya ChatGPT untuk teks. Sedangkan untuk AI gambar ialah Canva AI untuk mendesain konten dalam gambar supaya menarik.

Bima menjelaskan tentang anatomi perintah AI dengan rumus PTLH. Pada dasarnya, ini adalah kerangka sederhana namun ampuh untuk merancang instruksi kepada AI agar menghasilkan jawaban yang sempurna dan sesuai kebutuhan. Rumus ini terdiri dari empat komponen utama, yaitu Peran, Tugas, Latar Belakang, dan Hasil. Pertama, kita perlu menentukan peran, yaitu meminta AI untuk berperan sebagai ahli di bidang tertentu, misalnya ahli media sosial desa, agar sudut pandang dan gaya bahasanya menjadi relevan. Kedua, kita harus merumuskan tugas secara spesifik, seperti membuat jadwal konten bulanan, supaya AI tidak melenceng dari tujuan utama. Ketiga, menyertakan latar belakang atau konteks sangat penting, misalnya menjelaskan kondisi nyata Desa Kertosono dan tujuan acara yang sedang digelar, agar AI bisa menyesuaikan ide dengan situasi aktual. Keempat, kita wajib menentukan format hasil akhir, seperti tabel berisi emoji, agar output yang diberikan langsung praktis dan siap pakai tanpa perlu diedit ulang. Dengan menggabungkan keempat unsur ini secara utuh dalam satu perintah, AI akan memberikan respons yang terarah, kontekstual, dan sesuai ekspektasi, sehingga interaksi dengan AI menjadi jauh lebih efektif dan efisien.

Kemudian dijelaskan juga tentang AI gambar dari Canva dimana permintaan (prompt) ke AI dalam bahasa Inggris agar akurat dan tepat sesuai dengan kemauan warga Desa Kertosono. Dan juga, tidak mungkin hasil poster berisi bahasa Indonesia seluruhnya. Maka setelah beberapa yang proses penting, diubah menjadi bahasa Indonesia. Bima juga menjelaskan tentang AI Presentasi alias PPT, namanya ialah Gamma.

Gamma adalah platform berbasis kecerdasan buatan yang memungkinkan pembuatan presentasi, dokumen, dan halaman web secara instan hanya dengan memasukkan perintah sederhana. Berbeda dengan PowerPoint biasa yang harus mendesain slide satu per satu, Gamma bekerja otomatis menyusun kerangka, konten, gambar, dan tata letak dalam hitungan detik. Cara penggunaannya sangat mudah, buka situs Gamma.app, pilih “Buat dengan AI”, lalu ketikkan prompt seperti “Buat presentasi tentang potensi wisata Desa Kertosono dengan gaya cerah dan modern”. Dalam satu sampai dua menit, AI akan menghasilkan 8 sampai 10 slide lengkap yang masih bisa diedit sesuai keinginan, lalu diekspor ke PPT, PDF, atau dibagikan melalui tautan.

Keunggulan Gamma antara lain mendukung bahasa Indonesia, terintegrasi dengan stok foto gratis, serta memiliki versi gratis yang cukup untuk kebutuhan pengabdian desa. Dalam program Kanvas Desa Digital di Kertosono, pemuda pemudi bisa memanfaatkannya untuk membuat materi promosi, laporan kegiatan, atau proposal tanpa perlu keahlian desain. Mahasiswa Untag menekankan pentingnya prompt yang spesifik, seperti sebutkan tema, audiens, dan gaya yang diinginkan agar hasil maksimal. Jika kurang cocok, tinggal tekan “Regenerate” atau edit manual, sehingga proses pembuatan presentasi jadi jauh lebih cepat dan praktis, fokus utama pun tetap pada eksekusi program, bukan terjebak urusan teknis desain.

Bima membimbing pemuda pemudi Desa Kertosono bahwa tiga AI yang dijelaskan sebelumnya bisa dikaitkan atau diikat menjadi satu kesatuan. Cara kerjanya sederhana dan berurutan. Pertama, pemuda pemudi memasukkan prompt ke ChatGPT untuk menghasilkan naskah promosi, misalnya tentang potensi wisata kuliner Kertosono. Kedua, hasil teks tersebut dipindahkan ke Canva AI sebagai inspirasi untuk membuat desain gambar yang menarik, seperti poster atau spanduk digital. Ketiga, semua teks dan gambar yang sudah jadi dimasukkan ke Gamma untuk disusun menjadi presentasi yang rapi dan profesional dalam hitungan menit. Dengan alur ini, ketiga AI bekerja seperti tim, ChatGPT sebagai penulis, Canva AI sebagai desainer, dan Gamma sebagai penyaji akhir. Hasilnya, pemuda pemudi desa bisa menghasilkan materi branding yang lengkap, dari ide, visual, hingga presentasi, hanya dalam waktu singkat, tanpa perlu keahlian khusus di bidang masing-masing.

Meskipun ketiga AI ini sangat membantu, Bima menekankan kepada pemuda pemudi Desa Kertosono bahwa teknologi hanyalah alat, bukan pengganti peran manusia. AI seperti ChatGPT, Canva AI, dan Gamma bekerja berdasarkan perintah yang diberikan oleh manusia, sehingga kualitas hasilnya sangat bergantung pada kreativitas, pemikiran kritis, dan kejelasan instruksi dari penggunanya. Pemuda pemudilah yang menentukan ide, mengarahkan gaya, menilai kesesuaian konten dengan budaya lokal, serta memastikan pesan yang disampaikan tepat sasaran.

Dengan kata lain, manusia tetap memegang kendali penuh atas AI, bukan sebaliknya. Penguasaan teknologi ini justru bertujuan untuk mempermudah aktivitas sehari hari, menghemat waktu, dan meningkatkan produktivitas, namun segala keputusan akhir tetap berada di tangan manusia. Bima berpesan kepada Karang Taruna Desa Kertosono tidak bergantung sepenuhnya pada AI, melainkan menjadikannya sebagai mitra cerdas yang membantu mewujudkan ide ide besar mereka untuk kemajuan desa.

52 / 100 SEO Score