
Surabaya – Sore itu, pelataran GKJW (Greja Kristen Jawi Wetan) Sukolilo, Surabaya, berubah menjadi ruang sukacita yang tak biasa. Sabtu (9/5/2026), derap langkah dan tawa kecil terdengar sejak dari pintu masuk. Penggiat PEWARIS menyambut setiap kedatangan bukan hanya dengan senyum dan tepuk tangan, melainkan dengan mini games transportasi yang heboh dan seru. Seorang anak penyandang Down syndrome tertawa renyah saat tangannya lincah memindahkan miniatur mobil. Di sudut lain, seorang anak penyandang Disabilitas menggenggam erat lengan pendampingnya, tersenyum mendengar riuh rendah canda di sekelilingnya. Bahkan sebelum ibadah dimulai, sukacita sudah terasa. Inilah cara PEWARIS mengatakan: “Kamu sangat berharga, bahkan sebelum kamu melangkah ke altar-Nya.”
PEWARIS—singkatan dari Persekutuan Doa Warga Disabilitas—adalah kelompok yang melayani warga Disabilitas di jemaat-jemaat GKJW. Mereka mendampingi warga disabilitas lintas generasi, dari anak-anak hingga lansia, dengan berbagai kondisi: penyandang gangguan psikososial (skizofrenia, bipolar, depresi, kecemasan), gangguan pancaindra (buta, tuli, bisu), serta disabilitas intelektual seperti tunagrahita dan Down syndrome.
Persekutuan PEWARIS diinisiasi KPT (Komisi Pembinaan Theologia) MD-Surabaya Timur 1 GKJW kali ini mengusung tema “Mendekat Kepada-Nya”. Kegiatan berlangsung di gedung gereja jemaat GKJW Sukolilo pukul 16.30–18.30 WIB. Jemaat-jemaat GKJW yang hadir berasal dari GKJW Sidotopo, GKJW Gubeng, GKJW Darmo, dan lainnya. Turut hadir pula perwakilan sekolah khusus disabilitas, salah satunya Sekolah Luar Biasa Bangun Bangsa.
Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Pdt. Fajar Dwi Kristyawan selaku tuan rumah pendeta GKJW Sukolilo dan Pdt. Budi Cahyono dari GKJW Ngagel selaku ketua KPT Majelis Daerah Surabaya Timur 1 GKJW. Warga disabilitas yang hadir dimeriahkan dengan sukacita lewat lagu-lagu pujian kepada Tuhan. Persembahan lagu kemudian mengalun dari dua sahabat tuna netra GKJW Darmo, Pak Yono dan Bu Dina, yang menyanyikan “Jadikan Kami Gembala dan Domba”.
Suasana bertambah syahdu ketika rekaman video Joseph ditayangkan. Pria yang pernah merasa kehilangan sesuatu dalam hidupnya itu tampak memainkan piano, membawakan lagu “Seperti Rusa Rindu Sungai-Mu” dengan penghayatan mendalam. Joseph telah berpulang pada 4 April 2026, namun suara dan ketulusannya seakan hadir kembali di tengah persekutuan. Grup Pniel Band yang semua anggotanya penyandang disabilitas kemudian mempersembahkan lagu “Ku Berharga”—sebuah penegasan tentang identitas diri di dalam Kristus.
Sesi anak-anak dibuka dengan persembahan pujian dari Sekolah Bangun Bangsa yang menyanyikan “Jalan Serta Yesus”. Firman Tuhan disampaikan oleh Kak Devi yang mengangkat tema “Mendekat Kepada-Nya”. Ia menggunakan analogi sederhana: hubungan dengan Tuhan ibarat koneksi WiFi pada ponsel. Semakin dekat, sinyalnya semakin kuat. Sebaliknya, menjauh membuatnya melemah. Mendekat kepada-Nya, kata Kak Devi, bisa dilakukan lewat memuji Yesus, berdoa, dan membaca Kitab Suci. Warga disabilitas diajak menghidupi perintah Allah yang terutama: mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Angel kemudian menutup sesi anak dengan pujian “Satu Dua Tiga”.
Sesi dewasa dibawakan oleh Pdt. Ev. Paulus Roi, sahabat tuna netra dari GBI Kapasari. Ia merenungkan Markus 12:28-34 tentang relasi dengan Tuhan. Dengan suara lembut dan penuh keteguhan, ia menceritakan pengalaman pribadinya: bagaimana kasih Tuhan justru ia temukan secara utuh lewat peristiwa disabilitas penglihatan yang dialaminya. “Manusia punya kekurangan dan kelebihan. Janganlah kita rendah diri, karena masing-masing dari kita memiliki kelebihan sendiri. Mari bersyukur atas kehidupan sekarang,” pesannya, disambut anggukan dan air mata haru dari jemaat yang hadir.
Acara ditutup dengan doa bersama dan salam hangat dari seluruh penggiat PEWARIS. Satu per satu, penggiat menghampiri jemaat—menjabat tangan, menepuk bahu, memeluk erat. Warga disabilitas, anak-anak, hingga lansia saling berpelukan dan berbagi senyum. Di sini, seorang warga disabilitas akan berbisik pelan kepada pendampingnya, “Hari ini… saya merasa benar-benar dikasihi Tuhan.” Suasana haru dan sukacita menyelimuti GKJW Sukolilo, sebuah bukti bahwa kasih Kristus tidak mengenal batas, dan rasa syukur tak memerlukan syarat apa pun. Info/red/pram

Berita Lainnya
Pemkab Kediri Gelar Ibadah Perayaan Paskah Bersama 2026, Bupati Kediri: Bentuk Perhatian Pemerintah
PGI dan AYANA Tegaskan Peran Strategis Gereja dalam Keadilan Iklim
Pernyataan Sikap PGI Atas Peristiwa Tangerang