15 May 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

PGI dan AYANA Tegaskan Peran Strategis Gereja dalam Keadilan Iklim

61 / 100 SEO Score

Salinan dari Desain Tanpa Judul 1775556059 copy 1472x981

Jakarta – Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Amanah Daya Nusantara (AYANA) bersama Bidang Kesaksian dan Keutuhan Ciptaan (KKC) Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Aksi Iklim Berbasis Iman, Budaya, dan Komunitas di Grha Oikoumene, Salemba, Jakarta, Selasa (7/4).

Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan PGIW Jakarta, PGIW Jawa Barat, PGIW Banten, PGIS Bekasi, serta sejumlah lembaga mitra seperti Adventus Development and Relief Agency (ADRA) Indonesia, World Vision Indonesia (WVI), dan Yayasan Cita Wadah Swadaya (YCWS). Forum ini menjadi ruang bersama untuk memperkuat peran komunitas iman dalam merespons krisis iklim yang semakin nyata dan mendesak.

Dalam sambutan saat membuka FGD, Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn F. Manuputty, menegaskan bahwa isu krisis ekologi bukanlah hal baru bagi gereja, melainkan pergumulan panjang yang terus berkembang seiring dinamika zaman. Ia mengingatkan bahwa sejak 1940, gereja-gereja di dunia telah bergumul dengan isu ekologi dan telah menghasilkan dokumen tentang keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan. “Isu krisis ekologi selalu hadir sebagai tantangan global sekaligus kenyataan konkret yang kita hadapi setiap hari. Karena itu, gereja tidak bisa melepaskan diri dari tanggung jawab ini,” ujarnya.

Pdt. Jacky Manuputty juga menyinggung Dekade Ekumenis Aksi Keadilan Ekologi 2025–2034 yang diluncurkan secara global sebagai respons gereja-gereja terhadap keadaan darurat iklim. Dekade ini menekankan pentingnya pertobatan ekologis (ecological repentance) yang menyentuh perubahan cara hidup, pola pikir, dan praktik iman secara mendasar.“Gereja dipanggil bukan hanya untuk berbicara, tetapi menjadi bagian dari transformasi. Dari pola hidup yang eksploitatif menuju relasi yang memulihkan, dari dominasi menuju tanggung jawab, dari keterpisahan menuju harmoni dengan seluruh ciptaan,” tambahnya. Secara khusus PGI telah menempatkan krisis ekologis sebagai salah satu isu yang mendapatkan perhatian dalam tujuan strategis program-progam bidang dan biro di PGI.

Ia juga menegaskan pentingnya peran gereja sebagai pusat ketahanan komunitas, yang menghadirkan praktik nyata seperti penggunaan energi terbarukan, konservasi air, serta pemulihan keanekaragaman hayati. Selain itu, gereja didorong untuk terlibat dalam advokasi kebijakan, termasuk mendorong keadilan iklim, pendanaan ekologis, hingga pengakuan kejahatan ekologis (ecocide).

Sementara itu, Rully Amrullah (Direktur Program AYANA) menyampaikan bahwa organisasi tersebut merupakan bagian dari jaringan global Our Common Home yang berfokus pada penguatan aksi iklim berbasis komunitas iman. Indonesia, khususnya di kawasan Asia Tenggara, dipercaya menjadi salah satu simpul penting dalam pengembangan gerakan ini.

Dalam paparannya, AYANA menyoroti situasi kerentanan lingkungan di Indonesia. Dari sekitar 80.000 desa, lebih dari 53.000 di antaranya berada dalam status rawan bencana. Pengalaman bencana di berbagai wilayah, termasuk di Sumatera, menjadi pengingat kuat bahwa krisis iklim bukan ancaman masa depan, melainkan realitas yang sudah terjadi. “Komunitas agama memiliki posisi strategis dan tingkat kepercayaan tinggi di tengah masyarakat.Karena itu, peran tokoh agama sangat penting untuk menggerakkan kesadaran dan aksi nyata di tingkat akar rumput,” ungkap Rully.

FGD ini merupakan bagian dari rangkaian dialog lintas iman yang telah dan akan dilakukan ANAYA bersama berbagai komunitas keagamaan, termasuk dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Perwakilan Umat Budha Indonesia (WALUBI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) , Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN), bertujuan membangun kolaborasi yang lebih luas dalam menghadapi krisis iklim secara bersama.

Selain pemaparan konseptual, forum ini juga diisi dengan berbagi pengalaman konkret dari para peserta mengenai berbagai inisiatif yang telah dilakukan di tingkat gereja dan komunitas.

Melalui FGD ini, para peserta tidak hanya bertukar gagasan, tetapi juga membangun komitmen bersama untuk memperkuat aksi nyata di tingkat komunitas. Pendekatan yang kontekstual, kolaboratif, dan berbasis nilai iman diharapkan mampu menjangkau masyarakat lebih luas.

Forum ini menegaskan bahwa krisis iklim adalah tanggung jawab bersama yang melampui batas agama dan institusi. Gereja, bersama komunitas linta iman, dipanggil untuk menjadi bagian dari solusi menghadirkan harapan, ketahanan dan perubahan nyata. Info/red

61 / 100 SEO Score