18 April 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Strategi Investasi Properti Iwan Sunito, Urban Chess dan 1.000 Mitra

59 / 100 SEO Score

Iwan Sunito

Surabaya – Di atas lahan yang dulunya hanya showroom mobil bekas dengan ceceran oli dan bising truk-truk berat, Iwan Sunito berdiri membayangkan masa depan. Tak ada pesta peresmian, tak ada peliputan media. Hanya dering telepon, proposal sederhana, dan segenggam keyakinan bahwa lahan di 155 William Street, Five Dock, memiliki takdir berbeda.

“Tanpa peliputan dari media, tanpa pesta peresmian, hanya dering telepon, proposal sederhana, dan tentu saja optimisme,” kenangnya atas peristiwa yang sudah berlalu 30 tahun lamanya.

Five Dock: Ketika Lahan Tak Dilirik Menjadi Pusat Perubahan
Five Dock, kawasan suburban Sydney, dulu bukanlah primadona para pengembang. Tapi bagi Iwan — pengusaha kelahiran Surabaya yang besar di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah — daerah seperti inilah yang menyimpan emas.

Pada 2002, bersama koleganya, ia mengakuisisi lahan tersebut seharga Rp150 miliar. Selama lebih dari satu dekade, tanah itu disewakan sebagai showroom mobil, dengan harga sewa AUD1 juta per tahun.

“Sekadar cukup untuk membayar bunga dan biaya operasional—hingga waktunya dikembangkan,” tuturnya.

Momentum yang ditunggu akhirnya datang pada 2019. Pemerintah New South Wales (NSW) meluncurkan Parramatta Road Transformation Strategy, yang mengubah aturan zonasi dan membuka potensi besar di koridor tersebut.

Five Dock pun ditetapkan sebagai pusat pertumbuhan baru. Sebuah stasiun metro modern direncanakan akan menghubungkan Parramatta dan Sydney CBD dengan cepat dan efisien.

Tak hanya pemerintah yang antusias. “Five Dock adalah studi kasus ideal bagaimana transportasi publik dan perencanaan terpadu menciptakan pusat kota baru yang inklusif dan bernilai tinggi,” kata Prof. Nicole Gurran, pakar perencanaan dari University of Sydney.

Sementara Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, yang juga merupakan warga Five Dock, menyatakan, “Dengan demikian, Five Dock akan menjadi titik strategis dalam konektivitas kota.”

Hasilnya dramatis. Zonasi lahan berubah, potensi GFA (Gross Floor Area) melonjak menjadi 65.000 m², membuka kesempatan pembangunan 750 apartemen. Nilai lahan yang dulu dibeli seharga Rp150 miliar, kini meroket menjadi Rp1 triliun. Bahkan, potensi pengembangannya diperkirakan bisa melampaui Rp10 triliun.

“Ini bukan spekulasi, tapi strategi, riset mendalam, kesabaran, dan kemampuan membaca arah pengembangan tata kota,” tukas Iwan Sunito.

Dalam konteks inilah, kutipan Louis Glickman menemukan relevansinya: “The best investment on Earth is earth.”

Strategi Urban Chess: Membangun Kota, Bukan Sekadar Portofolio
Di dunia properti, di mana para pemain sering terjebak dalam euforia proyek jangka pendek dan angka ROI instan, Iwan membawa filosofi yang berbeda. Ia menyebutnya “urban chess” — strategi jangka panjang yang menempatkan pengembang sebagai bagian dari sistem kota, bukan sekadar pencetak margin.

“Pada akhirnya, nilai investasi terbaik itu tercapai bahkan sebelum pengurusan IMB. Kesabaran itu kini membuahkan hasil berlipat ganda,” ujarnya.

Setiap akuisisi, kata Iwan, harus dilihat dari lensa kebijakan zonasi, rencana transportasi publik, hingga dinamika pertumbuhan populasi. Bukan hanya soal harga tanah hari ini, melainkan potensi ekosistem kota dalam sepuluh tahun ke depan.

Five Dock menjadi bukti paling telanjang dari filosofi itu. Sebuah showroom mobil bekas berubah menjadi pintu masuk menuju properti senilai triliunan rupiah.

One Global Capital: Platform dan Jaringan 1.000 Mitra
Setelah sukses di Five Dock, Iwan tak hanya berhenti sebagai pengembang. Ia membentuk One Global Capital: platform investasi properti dengan struktur modal kecil, utang rendah, dan visi jangka panjang.

“Dari sinilah lahir visi One Global Capital: platform untuk mengubah aset tersembunyi menjadi investasi unggulan — melalui struktur modal kecil, utang rendah, dan visi jangka panjang,” paparnya.

Dalam 12 bulan terakhir, One Global Capital telah mengakuisisi dan mengoperasikan sejumlah proyek bernilai besar. Di antaranya One Global Resorts, proyek resor dan kawasan gaya hidup senilai Rp1 triliun; Grand Eastlakes, proyek hunian mixed-use senilai Rp280 miliar; dan Macquarie Park Hotel, proyek hotel modular senilai Rp750 miliar. Ketiganya berbagi DNA Five Dock: keyakinan terhadap potensi tersembunyi dan kalkulasi jangka panjang.

Kini, Iwan tengah membangun jaringan sindikasi eksklusif yang terdiri dari 1.000 mitra terpilih lintas negara dan kelas aset dengan pendekatan yang menggabungkan co-investor aktif dan mitra pasif.

“Banyak mitra baru kami berasal dari AS dan Tiongkok, yang tertarik bergabung lantaran stabilitas properti Australia dan pendekatan investasi butik kami yang personal,” jelasnya.

Berbeda dari platform investasi properti konvensional, One Global Capital menegaskan diri bukan sebagai institusi dana atau platform urun dana massal. “One Global Capital bukan institusi dana atau pula platform urun dana (crowdfunding) massal. Ini adalah jalur investasi yang eksklusif, personal, dan kolaboratif,” tegas Iwan.

Model hybrid yang ditawarkan memungkinkan mitra pasif menikmati hasil stabil, sementara mitra aktif ikut membentuk proyek sejak tahap awal.

Visi Investasi Global
Ambisi Iwan kini tidak berhenti di Sydney. Jaringan sindikasi yang tengah dibangun oleh One Global Capital mencakup proyek-proyek baru di Jakarta, Los Angeles, dan Singapura.

Setiap lokasi dipilih dengan pendekatan yang sama: berbasis keyakinan, utang rendah, arus kas nyata, dan pertumbuhan nilai jangka panjang. Filosofi urban chess menjadi fondasi di tiap kota yang disentuh.

Proyek terbaru di Five Dock pun tak sekadar pengembangan properti biasa. Iwan dan timnya kini tengah merancang proyek mixed-use mid-rise yang terletak hanya 20 menit dari Central Business District (CBD) menggunakan proyek Sydney Metro West yang kini sedang dibangun. Dirancang sebagai ikon baru kawasan, proyek ini adalah lanjutan konkret dari strategi yang telah terbukti.

Dalam industri yang sering diramaikan oleh tren, buzzword, dan valuasi tinggi semu, Iwan Sunito memilih diam bekerja dalam keyakinan.

“Kami hanya butuh 1.000 orang yang berpikir seperti kami—yang ingin membangun kota, bukan sekadar portofolio,” pungkasnya.

Pernyataan ini bukan hanya visi, tapi mungkin juga sekaligus kritik terhadap praktik investasi jangka pendek yang kerap mengabaikan nilai tata kota.

Five Dock menjadi monumen kesabaran, strategi, dan imajinasi jangka panjang. Sebuah showroom tua berubah menjadi kawasan bernilai triliunan.

Dari tempat yang tak dianggap, Iwan Sunito membuktikan bahwa: ketika lahan dibaca sebagai papan catur, bukan sekadar komoditas, maka setiap langkah kecil bisa menjadi awal dari langkah besar. info/red

59 / 100 SEO Score