Surabaya, pustakalewi.com – Menjelang akhir tahun 2021, pandemi COVID-19 masih belum selesai. Meskipun demikian, kondisi di Indonesia sudah mulai membaik. Beberapa daerah di Indonesia sudah turun PPKMnya hingga level satu. Hal tersebut menjadi kabar baik dunia pariwisata, khususnya perhotelan.
Operation Manager Grand Whiz Bromo Hotel, Muhammad Syaikhul Akbar menyatakan bahwa masalah pandemi itu persoalan global. Semua pihak pasti terdampak. “Bahkan di sini lebih parah karena hotel di kawasan ini hanya mengandalkan Bromo. Jika Bromo tutup sudah tidak bisa ngapa-ngapain lagi,” tambah Akbar.\
Grand Whiz Bromo dulunya bernama Grand Bromo Hotel dan disahkan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1991. Kemudian ada tragedi lumpur Lapindo di tahun 2006. “Akses jalan menuju ke sini hanya ada satu pada saat itu dan belum ada tol, sehingga jalannya terputus karena Lapindo. Hal tersebut membuat hotel ini tutup sementara hingga tahun 2018 karena sudah tidak bisa lagi beroperasi,” ujar Akbar.
Setelah kurang lebih sepuluh tahun vakum, hotel ini kembali beroperasi di bawah PT Intiwhiz International. Nama hotel pun berubah menjadi Grand Whiz Hotel Bromo. Manajemen hotel melihat adanya perubahan tren dan menambahkan hotel kapsul.
“Pada tahun 2018-an itu banyak backpacker. Banyak tamu overseas dari Australia atau Korea itu yang backpackeran ke sini. Jadi Whiz membaca market tersebut hingga dibangunlah kapsul di sini,” jelas Akbar.
Tren tersebut berkembang di tahun 2018-2019. Hotel kapsulnya banyak diminati pengunjung. “Namun seiring berjalannya waktu, terjadi pandemi sehingga orang overseas gak bisa datang ke sini. Hanya tersisa orang-orang lokal saja. Orang lokal justru tidak suka di kapsul, lebih suka kamar family dan villa,” tambah Akbar.
Saat ini Grand Whiz Bromo memiliki 80 unit hotel kapsul, 20 unit kamar superior, 25 unit kamar deluxe, dan 5 unit villa yang terdiri dari 4 villa standar dan satu villa VIP. Selain itu, manajemen Whiz juga membuat outdoor cafe dengan nama Jungle Cafe di depan hotel.
Meskipun sudah buka sejak 2019, namun cafe tersebutlah yang bisa menghidupi karyawan hotel di saat pandemi. Masyarakat sekitar pun menerima cukup baik kehadiran outdoor cafe ini.
“Saya sih berharap pandemi segera berakhir dan semuanya bisa kembali normal. Sehingga kita bisa memanggil kembali teman-teman yang kita rumahkan,” pungkasnya. (PJ)




Berita Lainnya
YELLO Hotel Jemursari Surabaya Hadirkan Wedding Showcase dengan tema “Timeless Intimacy”
Kolaborasi Swiss-Belinn Malang, RSU BRI Medika, dan UMM Tingkatkan Awareness Kesehatan Mental melalui Health Expo
The Alana Surabaya Rayakan Anniversarynya yang ke-13