
Cuaca yang tak menentu kerap menjadi momok menakutkan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang proses produksinya masih bergantung pada alam. Hal ini dirasakan langsung oleh Home Industri Kerupuk Bawang 43 di Dusun Sidorukun, Desa Kertosono, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik.
Selama bertahun-tahun, ritme produksi kerupuk di tempat ini sepenuhnya bergantung pada teriknya sinar matahari. Ketika musim hujan tiba atau langit sekadar mendung, waktu pengeringan yang biasanya cepat bisa molor hingga berhari-hari. Dampaknya tidak hanya pada omzet yang menurun dan kapasitas produksi yang terhambat, tetapi juga memicu tekanan pikiran bagi pekerja karena tumpukan pekerjaan yang berantakan dan pesanan pelanggan yang tertunda.
Suatu respon terhadap keresahan tersebut, kelompok mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya yang dibimbing oleh Dosen Pendamping Lapangan (DPL), Daffa Dwi Sri Diyanti, S.Psi., M.Psi., Psikolog., turun tangan memberikan solusi nyata melalui program Pengabdian kepada Masyarakat. Tim mahasiswa ini tidak datang membawa bantuan modal semata, melainkan merancang sebuah inovasi Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa mesin oven pengering yang diberi nama SICO-BAWANG 43.
“Dari hasil observasi dan diskusi kelompok kami di lapangan, masalah utama yang dihadapi mitra adalah ketidakpastian. Pemilik UMKM tidak bisa memprediksi kapan produknya siap jual karena faktor cuaca,” ungkap perwakilan kelompok mahasiswa pelaksana program. “Oleh karena itu, pengadaan Oven SICO-BAWANG 43 ini kami rancang secara bersama-sama agar ritme kerja mereka bisa lebih terukur, efisien, dan memberikan ketenangan pikiran bagi pelaku usaha karena tidak lagi panik saat hujan turun.”
Mesin berkapasitas 49 liter tersebut dirancang menggunakan material stainless steel berlapis rangka besi hollow, serta mengandalkan sistem ruang tertutup dengan pemanas kompor gas LPG. Mesin ini mampu mengunci suhu agar tetap stabil di angka 50 hingga 60 derajat celcius. Dengan teknologi ini, proses pengeringan yang dulunya memakan waktu seharian penuh, kini bisa memproduksi 1,5 hingga 2 kilogram kerupuk siap goreng hanya dalam waktu satu jam.
Selain merakit dan memberikan alat, kelompok mahasiswa Untag Surabaya ini juga berkolaborasi menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait tata cara penggunaan dan perawatan mesin. Mereka turut memberikan edukasi Keamanan dan Keselamatan Kerja (K3) pada penggunaan instalasi gas agar mitra bisa mandiri.
Penerapan inovasi ini disambut dengan penuh rasa syukur oleh pihak Home Industri Kerupuk Bawang 43. Kini, meskipun cuaca diluar sedang hujan lebat, dapur produksi tetap mengepul. Waktu produksi terpangkas, tingkat higienitas produk meningkat tajam karena terhindar dari debu, dan kedamaian pikiran kembali hadir menyertai keseharian UMKM.
Kehadiran kelompok mahasiswa Untag Surabaya di Desa Kertosono membuktikan bahwa kerja sama tim, kepedulian sosial, dan inovasi teknologi mampu menciptakan kemandirian yang berkelanjutan bagi UMKM di Indonesia.
Penulis: Wafa Amiroh

Berita Lainnya
Mahasiswa KKN Untag Surabaya Rancang Rocket Stove, Dorong Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Desa Kertosono
Atasi Polusi Asap Pembakaran, Mahasiswa KKN Untag Surabaya Kembangkan ‘Tungku Roket’ di Desa Kertosono
Gugah Kepedulian Lingkungan, Tim Pengabdian Masyarakat UNTAG Latih Ibu PKK Desa Melirang Kelola Sampah Berbasis Ecobrick