
Kediri – Perjuangan Kartini saat itu sudah membawa dampak dengan memudahkan perempuan di era sekarang. Menjadi lebih mudah mewujudkan mimpi dan cita-citanya. Salah satunya seperti yang ditunjukkan Dewi Mariya Ulfa. Sosok ini tampil sebagai wakil Bupati Kediri sejak 2021 hingga sekarang. Menjadi penegas bahwa wanita mampu menembus posisi strategis dalam birokrasi.
“Alhamdulillah hari ini sudah banyak kesempatan yang diberikan untuk kaum perempuan untuk mengambil peran-peran yang dulu mungkin dianggap tidak mampu, tapi hari ini sudah banyak perempuan-perempuan berani mengambil peran tersebut,” ujarnya.
Bagi Dewi, Kartini di era sekarang telah banyak bertransformasi. Berani menembus batas gender. Ada yang menjadi kepala dinas, kepala sekolah, politisi, pengusaha, dan sebagainya. Hal ini menandakan bahwa wanita bisa menjadi apa saja. Dan gender bukan jadi alasan.
Di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri, Dewi mendorong para pegawai wanita agar berani untuk menunjukkan kemampuannya. Tidak boleh minder atau merasa tidak layak. Ada banyak kesempatan yang bisa didapat. Buktinya, beberapa wanita berhasil menempati posisi strategis seperti kepala dinas, camat, kepala bidang, dan lainnya.
“Saya mendorong bahwa mereka (pegawai wanita, Red) mampu. Kalau integritasnya bagus, beranilah ambil posisi-posisi itu. Karena terkadang ditawari itu ada juga yang mundur, jadi kami motivasi kalau mereka bisa,” cerita wanita asal Kecamatan Ngadiluwih ini.
Perjuangannya menembus batas gender tak sebatas itu saja. Sebagai wakil bupati, Dewi juga mendorong sekaligus mendukung program-program untuk perempuan. Mulai dari pemberdayaan, pemberian modal usaha, hingga pendampingan dalam kasus kekerasan perempuan dan anak.
“Melalui beberapa dinas kami berkolaborasi program-program yang diperuntukkan untuk para perempuan di berbagai hal. Kalau untuk kasus kekerasan anak, ada DP2KBP3A melalui pendampingan-pendampingan, lalu juga ada shelter. Di pengembangan ekonomi, melalui Dinas Kopusmik, Disnaker, kami memberikan banyak pelatihan bahkan modal untuk para pelaku usaha perempuan,” terangnya.
Di sisi lain, Dewi juga mendorong perempuan untuk aktif dalam berorganisasi. Apapun itu. Apakah Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), organisasi agama, atau bahkan tingkat yang paling kecil seperti arisan RT. Pasalnya, organisasi bisa menjadi wadah bagi perempuan untuk mengembangkan potensi dalam dirinya. Lalu juga bisa menjadi sarana untuk saling bertukar informasi, pengalaman, pengetahuan, dan sebagainya.
“Tingkat perempuan rawan stress itu kan tinggi, apalagi mungkin dengan kondisi himpitan ekonomi. Ini kalau kita (perempuan) masih ketemu orang lain, istilahnya ketemu, guyon, mungkin ada masukan positif. Kalau rujukannya hanya di rumah, referensinya hanya TV, apa Tiktok, ini kan bahaya. Saya amati, banyak kasus yang menimpa (perempuan) itu pasti ada kelainan sosial, orang yang kuper (kurang perhatian), orang yang nggak bersosialisasi,” katanya.
Baginya, langkah-langkah itu bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) seorang perempuan. Pasalnya, ada peran vital perempuan di tengah pesatnya pembangunan infrastruktur di Kabupaten Kediri. Misalnya dari keberadaan Bandara International Doho. Dewi menuturkan, peran perempuan sangat krusial agar tidak terjadi kemunduran peradaban di lingkungan masyarakat sekitar bandara.
“Perempuan harusnya juga mengambil peran di situ. Tidak hanya untuk mendapatkan tambahan ekonomi, tapi juga bagaimana menjaga lingkungan sosial di Kabupaten Kediri tetap terjaga kesantunannya, akhlaknya karena tidak menutup kemungkinan, semakin banyak orang datang ke Kediri, memberikan pengaruh negatif ya,” jelasnya.
Selain bergerak di lingkup pemerintahan, Dewi pun aktif di organisasi keagamaan di Kabupaten Kediri. Bahkan, dia dipercaya sebagai Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Kediri untuk kali kedua. Di samping itu juga aktif dalam organisasi keagamaan di PDI Perjuangan, yaitu Baitul Muslimin. Dia melihat, ada hubungan kuat antara nilai religiusitas dan nasionalisme.
“Cinta tanah air itu kan bagian dari iman. Jadi nggak bisa pisah, itu udah harga mati. Kita nggak bisa hanya mencitai Allah tanpa peduli sama sesama. Wujud ketakwaan kita itu tidak hanya berhubungan dengan Tuhan, kalau iman kita bagus pasti kita juga memperlakukan orang lain dengan bagus, menjaga kerukunan, menjaga lingkungan tidak rusak, mengharagai orang lain. Itu bagian dari cinta kita kepada Tuhan, juga cinta kita kepada Tanah Air,” ujarnya.
Oleh karenanya, dia mengajak para perempuan untuk berani bergerak dalam berbagai hal. Dia meyakinkan bahwa kesibukan dan tanggung jawab yang dimiliki tidak akan merampas kebebasannya. Kuncinya hanya pada skala prioritas. Lantaran sudah berkomitmen menjadi pejabat publik, otomatis kepentingan masyarakat menjadi yang utama.
“Makanya saya pulang di dekat rumah orang tua biar tiap hari saya minimal bertemu orang tua,” ceritanya untuk menyeimbangkan kesibukan dengan hubungan di keluarga.
Selain itu, Dewi sesekali juga menyempatkan untuk mengeksplor hobinya di saat tak ada agenda. Biasanya, memasak adalah kegiatan yang dilakukan saat senggang. Dan saat dirinya sudah fokus di dapur, artinya Dewi sudah sangat penat. .
“Dulu masa kampanye, saya sudah masuk dapur, temen-temen wah ini Mbak Dewi sudah butuh healing,” candanya.
Tak ayal, sosok Dewi ini patut disebut sebagai Kartini era kini. Kehadirannya menjadi bukti bahwa perempuan bisa melakukan banyak hal. Sebagai wakil pemimpin daerah, memimpin organisasi, dan tentu sebagai seorang anak. Dia membuktikan perempuan bisa menjalankan banyak peran. Sekaligus membuktikan bahwa perjuangan Raden Ajeng Kartini benar-benar berdampak nyata terhadap perempuan.
“Kartini adalah motivasi untuk kita para perempuan berani muncul menjadi perempuan yang tangguh, mandiri, pastinya juga yang cerdas dan memberi manfaat seperti slogannya Ibu Kartini Habis Gelap Terbitlah Terang. Hari ini kita (perempuan) yang dianggap kanca wingking, dianggap tidak punya potensi, ternyata dengan perjuangan Ibu Kartini, hari ini perempuan sebenarnya tidak beda dengan potensinya kaum laki-laki,” tandasnya sembari dia mengingatkan agar para perempuan tetap tidak menyalahi kodrat sebagai perempuan. info/red

Berita Lainnya
DPR Resmi Sahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga jadi UU
Ratusan ASN Kabupaten Kediri Gelar Kerja Bakti Masal, Bupati Dhito: Wujud Kepedulian Pemerintah Peduli Kebersihan Lingkungan
PDI Perjuangan Surabaya Kawal Proses PAW, Tunggu Persetujuan Gubernur