2 July 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Mashal Khan Nasibnya Lebih Tragis Dari Ade Armando

10 / 100 SEO Score
Ade mashal

Di penghujung April 2022 ini saya mengingat kisah dua pria tambun yang menarik dan nyaris mirip. Yang satu tragis dari Pakistan yang adalah mahasiswa dan yang satu dosen bernasib baik dari Indonesia.

Mashal Khan adalah mahasiswa jurusan jurnalistik berusia 26 tahun di Universitas Abdul Wali Khan di kota Mardan, Pakistan. Pada 13 April 2017 dipukuli secara brutal dan disiksa beramai-ramai hingga meninggal oleh ratusan orang rekan-rekannya sendiri, pada penyelidikan polisi belakangan menunjukkan dia juga ditembak hanya karena alasan penodaan agama disaat mereka kalah adu argumen atau kalah dalam berdebat sehari sebelumnya dalam diskusi yang sengit.

Mashal seorang mahasiswa pintar, yang selalu menulis menyesali keterbelakangan negaranya Pakistan. Dia diseret dipukuli atau dianiaya hingga meninggal secara mengenaskan. Selain pintar, Mashal juga seorang humanis dan bisa mengemas pemikirannya secara gamblang di status-status facebooknya. Pada tingkat penyelidikan polisi telah memastikan bahwa tidak ada bukti bahwa Marshal menghujat.

Namun terlanjur isu menyebar hingga imam masjidpun menolak untuk mensholatkan jenasahnya. Keluarganya lalu meminta seorang teknisi untuk jadi imam. Para tetangga yang tadinya takut menshalatkan Mashal, akhirnya meminta maaf & membaca Al Fatihah di makamnya.

Warga disekitar kediaman Mashal pada dasarnya mereka baik tetapi takut pada kaum intoleran. Sampai sekarang warga Karachi terus berkabung untuk Mashal. Walaupun mereka hidup dalam kecemasan, was-was. Mereka menyadari dan tahu persis bahwa kejadian seperti ini akan terus berulang. Jika dimana ada yang berpikir kritis pasti dihakimi masa.

Di Pakistan, Undang-undang Penodaan Agama Pakistan dibuat pada rejim militer Zia Ul-Haq puluhan tahun silam untuk konsolidasi kekuasaan dan menghantam kaum moderat juga sekular. Undang-undang Penodaan Agama membuat intoleran merasa benar. Dan hampir setiap tahun selalu ada yang mati mengenaskan dirajam karena dianggap meremehkan agama di Pakistan. Negara itu sudah berubah jadi negara terror dan ketakutan.

Nasionalis Pakistan sepanjang tahun protes pada radikalisme yang semakin beringas. Apa ada hasilnya? Tidak ada. Karena radikal memakai kekerasan untuk menekan dan warga menjadi takut. Protes menuntut keadilan bagi Mashal Khan. Apalah gunanya, mampukah kemanusiaan dan keadilan hadir di tempat intoleran subur seperti Pakistan? Sangat mustahil.

Di Pakistan kaum radikal intoleran tidak perlu jadi mayoritas untuk berkuasa, mereka hanya vokal dan militan saja. Sedangkan mayoritas moderat diam dan ragu-ragu. Kaum intoleran bersedia melakukan apa saja untuk menang termasuk membunuh sekalipun dan kaum moderat hanya menonton di tv dan hanya berdiam berharap keadaan membaik.

Tragedi Marshal bukanlah akhir di Pakistan hingga kini. Setelah kematian Mashal Khan, terjadi pembunuhan lagi berlatar dugaan penistaan agama. Polisi menangkap tiga perempuan karena membunuh seorang pria Syiah yang dituduh menghujat Islam. Aktivis Jibran Nasir mengatakan kepada BBC bahwa “sejauh ini kemarahan masyaralat lebih diarahkan untuk menuntut hukuman yang lebih keras terhadap pelaku penistaan, dan bukan mereformasi undang-undangnya”.

Di Indonesia ada modus operandi mirip Pakistan. Jikalau ingin menyingkirkan seseorang, cukup memakai tuduhan penistaan agama. Hanya berbekal hasutan masa dengan istilah penodaan agama kaum intoleran sudah sangat bringas dalam tindakan main hakim sendiri. Hingga tersadisnyapun berkata halal darahnya. Walau tanpa dalil yang mumpuni itulah kaum sumbu pendek.

Yang terbaru adalah Insiden pengeroyokan terhadap, Dr. Ade Armando, M.Sc, Pegiat Media Sosial dan Dosen Fisip Universitas Indonesia (UI). Yang berlangsung di depan pagar Gedung DPR/MPR, Jakarta pada Senin 11 april 2022. Akibat aksi kekerasan itu, tampak Ade Armando babak belur, luka yang dialami Ade Armando cukup parah. Terlihat dalam video yang beredar di media sosial Ade dikeroyok bahkan ditelanjangi, Celananya bahkan hilang.

Beruntung aparat kepolisian yang ada di dekat lokasi dan Wakapolres Metro Jakarta Pusat AKBP Setyo Koes Heryatno yang memberanikan diri memasuki kerumunan dan mencegah aksi main hakim sendiri itu terjadi. Dan langsung bergerak mengevakuasi Ade Armando.

Ade Armando sebelumnya mengaku hadir untuk mendukung aksi yang akan dilakukan rekan-rekan mahasiswa di gedung DPR RI. Dalam menolak wancana Presiden 3 periode.

Diakhir menjelang selesai ada kelompok penyusup yang diduga kaum pengacau yang selalu bersebrangan dengan pemerintah, intoleran dan kaum sumbu pendek (kadrun) yang radikal meneriaki Ade “munafik, buzzer, bunuh, bunuh Ade Armando dll,” teriak massa yang anarkis itu.

Beruntung ada polisi yang sigap, jika tidak maka melayang nyawa Ade Armando yang terkenal menginspirasi dan mencerahkan itu dalam mendos-medsosnya yang kritis itu. Demikian kritis, dia dianggap tidak berpihak pada agamanya dan dianggap tidak islamiah dalam pemaparannya.

Tidaklah sulit menghancurkan negara yang kecanduan agama. Tidak perlu rudal dan peluru cukup beri dukungan asupan-asupan penistaan agama saja. Maka lihatlah manusia intoleran akan bermunculan bagaikan ikan piranha yang kelaparan memangsa yang berlainan faham.

Untuk menjawab kebenaran maka gunakan nalar yang sehat. Jangan diam untuk hal benar terus suarakan.! Hukum harus ditegakkan seadil-adilnya untuk memberi efek jerah kaum intoler dan radikal.

Mari dewasa dalam berpikir maju yang kritis dan mencerahkan, justru itu baik untuk kemajuan peradaban zaman ini bukan dihambat atau bilah perlu dibabat, mari pupuk cinta akan tanah air. Wassalam (p-sib)

(*tulisan diatas adalah rublik opini pembaca pustakalewi)

10 / 100 SEO Score