19 April 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Literasi Keagamaan Lintas Budaya di Sekolah Kristen, Sebuah Keniscayaan

12 / 100 SEO Score

Diakui atau tidak, sekolah di Indonesia masih belum benar-benar menanamkan sikap menerima dan menghargai perbedaan agama dan budaya pada anak didiknya. Situasi itu terjadi baik sekolah berbasis agama atau tidak. Dalam konteks pendidikan Kristen, sebagai seorang guru, saya menyadari kami kurang menyiapkan anak didik terlibat aktif secara nyata dalam membangun toleransi menghadapi perbedaan agama dan budaya yang lekat pada bangsa ini. Sebaliknya, guru sekolah Kristen masih berkutat mengajarkan materi ajar dari sudut pandang iman sendiri, tanpa mencoba mengajak anak didik berpikiran lebih luas di negara plural seperti Indonesia.

Benar kata Koordinator Umum Sekolah Kristen Gloria, Yana Poedjianto, saat memberikan sambutannya pada Pelatihan Internasional Literasi Keagamaan dan Lintas Budaya (LKLB) akhir Februari 2023. Perasaan takut dan was-was masih merasuk di benak para guru sekolah Kristen tatkala harus mengajak anak didik belajar tentang agama lain. Mereka tampak takut dan gentar ketika harus mendorong kesadaran multikultural anak didik. Bahkan para guru merasa resah manakala ingin membangun rasa empati dan toleransi. Mereka khawatir, jangan-jangan menyimpang dari misi sekolah Kristen dalam menjalankan Amanat Agung.

Sesuai Amanat Agung, sekolah Kristen tak hanya sebagai penyelenggara pendidikan yang membentuk nilai hidup, mentransfer pengetahuan dan melatih keterampilan anak didik. Lebih dari itu, sekolah Kristen perlu menekankan pada pengajaran nilai-nilai kristiani yang bersumber dari Alkitab, menjadikan semua bangsa murid Kristus, memberitakan Allah dan karya-Nya yang agung, dan memimpin anak didik mengalami kelahiran baru.

Konsekuensi menjalankan misi Amanat Agung seringkali menjebak sekolah Kristen pada sikap tertutup dalam memahami pandangan agama lain. Tanpa sadar, sekolah Kristen lebih menjalankan kurikulum pendidikan berbasis agama dibanding multikultural. Dominan mengajarkan prinsip agama, namun sedikit menekankan perilaku hidup sesuai prinsip pendidikan multikultural. Pada akhirnya, sekolah minim mengajak anak didik saling mengenal dan berkolaborasi dengan sesama temannya yang berbeda latar belakang agama dan budayanya.

Sebagai agen utama pendidikan, sekolah harus mengedepankan filosofi pluralisme budaya dalam menyusun kurikulum ataupun sistem pendidikannya. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, Ahmad Suradi di jurnal Wahana Akademika (2018) menekankan pentingnya anak didik diajarkan prinsip persamaan (equality) dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bagaimana mereka perlu memiliki sikap saling menghormati, menerima, memahami siapa saja yang berelasi dengan mereka. Tak hanya itu, anak didik juga sangat perlu ditanamkan memiliki komitmen moral yang kuat untuk memperjuangkan keadilan sosial.

Filosofi pluralisme budaya akan lebih berakar di sekolah jika sekolah menerapkan pendidikan multikultural. Senada dengan Ahmad Suradi, Ainul Yawin (Jurnal Kebijakan Pendidikan Edisi 3
Volume VI Tahun 2017, halaman 310) menekankan bahwa sebagai sebuah strategi, pendidikan multikultural mengupayakan cara mengenalkan semua perbedaan kultural (agama, suku, ras, gender,
budaya, dan lain-lain) dengan lebih mudah pada anak didik. Maka, sangat relevan jika dalam konteks Indonesia saat ini, sekolah Kristen perlu menerapkan pendekatan LKLB untuk menumbuhkan pendidikan multikultural dalam proses pembelajaran di semua mata pelajarannya. Tujuannya agar anak didik sekolah Kristen bisa menjunjung tinggi prinsip-prinsip persamaan (equality) dalam berelasi dengan sesamanya, baik di sekolah ataupun di masyarakat.

LKLB adalah Oase
LKLB menjadi oase bagi sekolah Kristen dalam upaya menumbuhkan dasar pendidikan multikultural. Implementasi kompetensi LKLB oleh guru sekolah Kristen menunjukkan sekolah Kristen dapat lebih fokus dalam melaksanakan pendidikan multikultural. Oleh karena itu, sangat penting guru sekolah Kristen belajar LKLB supaya dapat mengajarkan anak didik kemampuan memahami diri sendiri, toleransi, dan kerjasama dengan orang lain yang berbeda agama dan budaya. Disinilah sebenarnya esensi pendidikan multikultural.

Ada tiga kompetensi LKLB yang perlu dimiliki para guru sekolah Kristen. Hal itu ditekankan Dr. Chris Seiple pada Pelatihan Internasional Pengenalan LKLB bagi Guru Kristen tanggal 27 Februari–3 Maret 2023. Menurut Chris Seiple, “LKLB merupakan sebuah kerangka atau pendekatan berpikir, bersikap dan bertindak yang akan memampukan guru sekolah Kristen dapat bekerja sama dengan orang lain yang berbeda agama dan kepercayaan. Tentunya kerjasama yang dilakukan harus didasarkan pada pemahaman yang benar akan kerangka moralitas, spiritual dan pengetahuan diri pribadi dan orang lain yang berbeda dengan dirinya”.

Dengan mengikuti seminar, pelatihan ataupun belajar konsep dan praktik LKLB, guru sekolah Kristen akan semakin terasah memiliki pemahaman yang benar akan agamanya dengan dasar teologi yang mendalam. Tak hanya itu, mereka juga akan memiliki cara pandang yang moderat dalam melihat agama lain. Alhasil, dalam proses pembelajaran di sekolah, guru akan mampu mendorong sikap inklusif, memberikan pengaruh positif dalam hal beragama, serta mengajarkan toleransi dan keterbukaan pada anak didik dalam menghadapi berbagai perbedaan yang ada disekitarnya.

Menghadapi berbagai sekat pemisah masyarakat yang meresahkan eksistensi negara Indonesia saat ini, bagaimana sekolah Kristen mempersiapkan anak didiknya dalam merespon kondisi ini dengan bijak? Apakah akan terus diam, atau harus bangkit memperbaiki sistem pendidikannya?

Sekolah Kristen harus berbenah mengakhiri sekat-sekat pemisah itu. LKLB menjadi suatu keniscayaan bagi sekolah Kristen untuk mengurangi sekat pemisah itu. Butuh kesadaran, keterbukaan dan kerelaan para guru untuk mau dan mampu mengajarkan kepada anak didik bagaimana melihat sesuatu dari sudut pandang agama lain. Di tingkat praktik bermasyarakat, peserta didik perlu diajarkan cara hidup berdampingan secara damai tanpa membedabedakan orang terdekat di sekitar mereka, seperti teman sekolah dan bermain, tetangga, asisten rumah tangga, sopir ataupun tukang kebun mereka yang bisa jadi berbeda agama dan kelas ekonomi dengan mereka.

Perspektif LKLB harus “meracuni” cara berpikir para guru, pemilik, dan stakeholder sekolah Kristen untuk mampu menginternalisasikan kompetensi pribadi, komparatif dan kolaboratif kepada anak didiknya. Niscaya, sekolah Kristen akan mampu mengembangkan kompetensi dan keterampilan
anak didik dalam berelasi dengan orang yang berbeda agama dengan fasih penuh toleransi. Benar-benar menjadi Indonesia yang berbhineka tunggal ika. Sebagaimana dalam Alkitab dinyatakan, “Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan
dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya” (Roma 10:12).

 

Penulis: Erna Widi Septiharyanti (Guru Sekolah Kristen Gloria Surabaya dan Alumni LKLB Angkatan 27)

Tulisan ini sudah dibukukan dalam buku “Menghidupkan Relasi, Merajut Kolaborasi. Kumpulan Esai Literasi Keagamaan Lintas Budaya” diterbitkan oleh Perkumpulan Institut Leimena tahun 2023.

 

12 / 100 SEO Score