17 April 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Ibadah Jumat Agung dan Kamis Putih, Uskup Surabaya Ajak Umat Meneladani Kasih dan Pengorbanan Kristus

56 / 100 SEO Score

Romo Didik

Surabaya – Perayaan Paskah 2026 bagi umat Kristiani memasuki puncak permenungan pada Jumat Agung, Jumat (3/4), setelah diawali dengan rangkaian Tri Hari Suci sejak Kamis Putih sehari sebelumnya. Momen sakral ini menjadi waktu bagi umat untuk mengenang sengsara dan wafat Yesus Kristus di kayu salib, sekaligus merefleksikan makna kasih dan pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada Kamis (2/4), ribuan umat memadati Gereja Katolik Hati Kudus Yesus (HKY) Surabaya untuk mengikuti Misa Kamis Putih yang menandai awal Tri Hari Suci. Sekitar 5.000 umat hadir dalam perayaan yang dipimpin Uskup Surabaya, Agustinus Tri Budi Utomo, didampingi RD. Dominicus Mardiyatto Rudi Septiadi sebagai konselebran.

Suasana khidmat begitu terasa sejak awal misa. Umat yang didominasi busana putih mengikuti perayaan dengan penuh penghayatan. Kamis Putih sendiri menjadi peringatan Perjamuan Malam Terakhir Yesus Kristus bersama para murid-Nya—peristiwa yang dikenal sebagai The Last Supper, yang juga menginspirasi karya seni legendaris karya Leonardo da Vinci di Milan, Italia.

Dalam homilinya, Uskup yang akrab disapa Romo Didik atau MoDik itu menegaskan bahwa Kamis Putih bukan sekadar mengenang peristiwa sejarah, melainkan panggilan untuk meneladani kasih dan pelayanan Yesus Kristus. Pesan tersebut diwujudkan melalui ritual pembasuhan kaki terhadap 12 umat terpilih, yang melambangkan 12 murid Yesus. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mencerminkan keterbukaan dan kesetaraan dalam Gereja.

“Kita tidak melihat jabatan, kekayaan, atau kepandaian. Orang yang kita layani justru ditempatkan lebih tinggi daripada kita yang melayani,” ujar MoDik.

Ia juga mengajak umat untuk memahami simbol-simbol kesederhanaan dalam liturgi. Salah satunya, penggunaan bunyi kayu menggantikan gemerincing lonceng dalam Doa Syukur Agung, sebagai simbol penderitaan Kristus di kayu salib.

Lebih jauh, MoDik mengingatkan agar umat tidak terjebak pada aspek seremonial atau hiburan dalam misa. Ia menekankan bahwa homili hanyalah pengantar menuju inti perayaan iman, yakni perjumpaan pribadi dengan Kristus.

“Sering kali orang menilai misa dari lucu atau tidaknya khotbah. Padahal, itu hanya pengantar menuju perjumpaan dengan Kristus,” tegasnya.

Memasuki Jumat Agung, umat Kristiani diajak melanjutkan permenungan atas penderitaan dan wafat Yesus. Hari ini menjadi momentum hening, reflektif, sekaligus penuh makna, sebelum mencapai puncak sukacita dalam perayaan Kebangkitan pada Hari Raya Paskah.

Melalui rangkaian Tri Hari Suci ini, umat diharapkan tidak hanya menjalani ritual, tetapi juga menghidupi nilai-nilai kasih, kerendahan hati, dan pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kasih Tuhan selalu membuka jalan pertobatan. Tuhan bukan pendendam, Ia tidak mengungkit masa lalu. Namun, kita harus mau datang dan berjumpa dengan-Nya,” pungkas MoDik. info/red

56 / 100 SEO Score