21 August 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Belajar Demokrasi dari Sawah, Pasar, dan Sampah a la Komunitas Qaryah Thayyibah

56 / 100 SEO Score

sesi 2 pleno seminar AIPI

Surabaya, Pustakalewi News – Rangkaian Seminar Nasional, Bedah Buku, dan Pameran yang digagas oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bersama Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) pada Rabu (19/08) terus berlangsung dengan antusiasme tinggi. Setelah sukses menggelar sesi pleno pertama yang membahas “Etika Kemanusiaan dalam Tata Kelola Kawasan“, acara yang berlangsung di Teater Barat, Kampus Pakuwon City, UKWMS, Surabaya, ini memasuki Sesi Pleno 2 dengan tema strategis, “Pendidikan Warga sebagai Ko-Kreator Demokrasi” berdasarkan buku yang dibedah.

Sesi yang dimoderatori oleh Kristoforus Sri Ratulayn K.N., M.Phil. ini menghadirkan tiga narasumber kompeten, yakni Dr. Anastasia Jessica Adinda Susanti, M.Phil. (dosen UKWMS), Bahruddin (perwakilan Komunitas Qaryah Thayyibah), serta (Romo) Dr. Ferry Sutrisna Wijaya (penggiat Eco Camp). Dalam pemaparannya, para narasumber menyoroti urgensi pemberdayaan dan pendidikan warga sebagai fondasi utama untuk menciptakan demokrasi yang partisipatif dan berkelanjutan.

Salah satunya, Bahruddin, perwakilan Komunitas Qaryah Thayyibah, membahas tentang demokrasi yang memiliki permasalahan berupa keropos. Isu dalam buku yang dipermasalahkan adalah demokrasi Indonesia mengalami pengeroposan, warga direduksi menjadi objek atau konsumen politik semata, dan demokrasi butuh lebih dari sekadar lembaga dan hukum, maka dibutuhkan sikap kebersamaan serta perilaku demokratis dari warga.

Menurut pendapat berdasarkan pendidikan yaitu Dari Teori ke Konteks, dibahas pula kaitan antara teori dan konteks melalui pendekatan praktik baik yang telah berjalan. Buku yang dijadikan rujukan menekankan perlunya kepekaan sosial serta merujuk pada nilai-nilai lokal dalam membangun pendidikan demokrasi. Sementara itu, komunitas seperti KBQT (Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah) menerapkan pembelajaran dari kehidupan sehari-hari, seperti sawah, pasar, pengelolaan sampah, dan konservasi air di Salatiga. Salah satu contoh praktik baik yang ditampilkan adalah ketika terjadi hujan deras atau kekeringan, anak-anak diajak untuk menganalisis secara bersama-sama mengenai penyebab, dampak, dan solusi dari fenomena tersebut. Proses ini secara langsung melatih kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan empati, serta mengasah keterampilan pemecahan masalah sejak dini.

Di tengah hiruk-pikuk perdebatan politik nasional yang kerap memanas, sesi ini hadir sebagai secercah harapan yang menenangkan. Para narasumber tidak hanya berbicara tentang konsep, tetapi juga menghadirkan praktik nyata yang telah berjalan di komunitas-komunitas kecil seperti Qaryah Thayyibah dan KBQT di Salatiga. Mereka menunjukkan bahwa demokrasi tidak selalu harus dimulai dari gedung-gedung parlemen, melainkan bisa lahir dari kegelisahan sederhana seorang anak yang bertanya mengapa sawah kekeringan atau mengapa sampah menumpuk di lingkungannya. Dr. Anastasia Jessica Adinda Susanti, Bahruddin, dan Romo Ferry Sutrisna Wijaya dengan rendah hati mengingatkan bahwa setiap warga, dari latar belakang apa pun, memiliki panggilan untuk menjadi bagian dari perubahan.

Seminar yang berlangsung hingga siang hari ini meninggalkan kesan mendalam: bahwa demokrasi yang sehat bukanlah tentang siapa yang berkuasa, melainkan tentang bagaimana kita saling mendengarkan, belajar bersama, dan bergerak kolektif untuk menciptakan keadilan dari akar rumput. Karena pada akhirnya, demokrasi adalah cerita tentang kita semua. Jadi bagaimana kita merawat kebersamaan di tengah perbedaan, dan tentang bagaimana kita tidak pernah lelah memperjuangkan masa depan yang lebih adil bagi generasi yang akan datang.

(AIPI/Pramodya)

56 / 100 SEO Score