
Surabaya – Wakil Ketua Bidang Kaderisasi dan Ideologi DPC PDI Perjuangan Surabaya, Eko Wahyono, menilai anggapan yang menyebut generasi Z sebagai generasi apolitis, apatis, dan individualistis tidak sesuai dengan kondisi yang terjadi di lapangan. Menurutnya, keterlibatan anak muda dalam berbagai gerakan sosial justru menunjukkan tingginya kepedulian terhadap persoalan kebangsaan.
Eko mengatakan, berbagai aksi demonstrasi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, seperti Reformasi Dikorupsi, Gejayan Memanggil, demonstrasi Agustus tahun lalu, hingga aksi Reformati Indonesia menjadi bukti bahwa generasi Z memiliki karakter perjuangan yang berbasis pada isu dan data.
Menurutnya, mayoritas gerakan tersebut digerakkan oleh organisasi kemahasiswaan yang didominasi generasi Z. Ia menilai karakter perjuangan berbasis isu memiliki kemiripan dengan pola perjuangan Soekarno muda yang menjadikan persoalan rakyat sebagai orientasi utama dalam gerakan politiknya.
“Karakteristik yang dimiliki oleh kebanyakan generasi Z memiliki kesamaan dengan perilaku Soekarno muda yang memang karier politik dan pergerakannya bersifat issue-driven, atau berfokus pada isu serta kebijakan,” katanya.
Berangkat dari kesamaan karakter tersebut, Eko menilai tantangan saat ini bukan pada relevansi Marhaenisme, melainkan bagaimana nilai-nilai ideologi itu dapat dipahami oleh generasi yang tumbuh di era digital.
Ia menilai pembahasan Marhaenisme selama ini masih terlalu terfokus pada romantisme sosok Soekarno sehingga menciptakan jarak dengan realitas kehidupan generasi muda saat ini.
“Sudah menjadi tugas kita bersama, orang-orang yang berada dalam barisan generasi Milenial bahkan Boomer untuk melakukan redefinisi strategi agar pemikiran bapak pendiri bangsa seperti Soekarno selalu relevan bagi generasi Z dan generasi-generasi berikutnya,” ujarnya.
Aktivis GMNI itu menawarkan tiga pendekatan untuk membumikan Marhaenisme di kalangan generasi Z. Pertama, menghubungkan nilai-nilai Marhaenisme dengan isu-isu kontemporer yang dekat dengan kehidupan anak muda, seperti kesejahteraan pekerja ekonomi digital, termasuk pengemudi ojek online.
Menurut Eko, kelompok pekerja tersebut merupakan contoh masyarakat yang memiliki alat produksi sendiri, namun masih menghadapi tekanan sistem sebagaimana digambarkan Soekarno dalam konsep Marhaenisme.
Pendekatan kedua adalah mengubah metode penyampaian ideologi agar lebih sesuai dengan karakter generasi digital. Ia menilai penyampaian melalui pidato panjang maupun kuliah satu arah sudah tidak lagi efektif menjangkau generasi Z.
Sebagai gantinya, penyampaian ideologi perlu memanfaatkan platform digital, menggunakan bahasa yang lebih dekat dengan keseharian anak muda, serta didukung penyajian visual yang menarik tanpa mengurangi substansi pemikiran Marhaenisme.
Selain itu, alumni Universitas Airlangga tersebut juga mendorong metode kaderisasi yang lebih partisipatif melalui diskusi kelompok, lokakarya, kegiatan gotong royong, hingga advokasi masyarakat. Menurutnya, pendekatan berbasis pengalaman akan lebih mudah diterima oleh generasi Z dibandingkan metode pembelajaran yang bersifat satu arah.
Eko menegaskan, upaya membumikan Marhaenisme bukan bertujuan mengubah nilai-nilai ideologi tersebut, melainkan memastikan pemikiran Bung Karno tetap relevan sebagai alat untuk membaca persoalan masyarakat yang terus berkembang.
“Melalui pembumian gagasan ideologi Marhaenisme terhadap generasi Z, hal tersebut berimplikasi bahwa ideologi haruslah menjadi alat bedah analisis, bukan hanya sekadar menjadi rapalan mantra belaka,” tegasnya. info/red

Berita Lainnya
Pemkab dan DPRD Kediri Sepakati Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025
Pemkab Kediri salurkan 200 ton benih jagung, Mas Dhito: Dukung ketahanan pangan
Pastikan Tak Ada Anak Putus Sekolah di Kabupaten Kediri, Mas Dhito Buka Beasiswa Berdaya Tahap 2