3 July 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Ubah Sampah Jadi Berkah: Langkah Kecil Bagi Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat Gresik

55 / 100 SEO Score

IMG 20260625 WA0024

Ubah Sampah Jadi Berkah: Langkah Kecil Bagi Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat Gresik

Surabaya – Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Kampus Merah Putih) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Kabupaten Gresik melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2026, bulan Mei-Juli, tepatnya di Kecamatan Bungah dan Kecamatan Sidayu. Wilayah Kabupaten Gresik selama ini merasakan keresahan yang cukup mendalam terkait pengolahan sampah. Seiring meningkatnya volume sampah setiap hari, persoalan ini kian terasa berat, terutama bagi masyarakat di desa-desa yang kerap merasa terabaikan dan kurang mendapat perhatian dalam penanganan limbah rumah tangga mereka.

Pada hari Kamis, tanggal 25 Juni 2026, KKN 2026 mengadakan eksibisi pengabdian masyarakat dengan tema “Membangun Ketahanan Masyarakat: Meningkatkan Kemandirian, Kesiapsiagaan, serta Adaptasi dengan Perubahan untuk Mewujudkan Kesejahteraan.” Lokasi yang dilaksanakan di Gedung Graha Wiyata, Plasa Proklamasi. Sebanyak 29 kelompok KKN memperlihatkan alat-alat Teknologi Tepat Guna (TTG). Peralatan TTG tersebut dirancang untuk membantu masyarakat Gresik mencapai kesejahteraan melalui pengolahan sampah.

Pengolahan sampah bisa dimulai dari hal sederhana di rumah, yaitu dengan memilah sampah organik dan anorganik. Sampah organik, seperti sisa sayur dan buah, bisa diolah menjadi kompos yang menyuburkan tanah, sementara sampah anorganik seperti plastik dan kertas dapat didaur ulang atau disetorkan ke bank sampah. Selain itu, sampah rumah tangga yang masih bernilai ekonomi juga bisa disulap menjadi kerajinan tangan yang bermanfaat. Yang terpenting, kesadaran kolektif untuk mengurangi, memakai ulang, dan mendaur ulang perlu terus ditumbuhkan, karena setiap langkah kecil dari warga desa maupun kota sangat berarti bagi lingkungan yang lebih sehat dan nyaman ditinggali.

Pengomposan adalah proses alami di mana sampah organik seperti sisa sayuran, kulit buah, ampas kopi, daun kering, dan potongan rumput diurai oleh mikroorganisme menjadi bahan yang mirip tanah subur yang disebut kompos. Proses ini tidak memerlukan teknologi canggih; cukup dengan menyediakan wadah atau lubang di tanah, menumpuk bahan organik secara bergantian antara lapisan “hijau” (basah, kaya nitrogen) dan “cokelat” (kering, kaya karbon), lalu menjaga kelembapan dan sirkulasi udara. Dalam beberapa minggu hingga bulan, tumpukan itu akan berubah hangat karena aktivitas bakteri, perlahan-lahan menyusut, dan berakhir menjadi kompos yang hitam, gembur, dan berbau seperti tanah hutan. Hasil ini bukan sekadar pupuk, melainkan “makanan” bagi tanah yang mampu memperbaiki struktur lahan, menahan air, serta menyuburkan tanaman tanpa bahan kimia berbahaya.

Lebih dari itu, mengubah sampah menjadi kompos adalah tindakan nyata yang mengembalikan “Siklus hidup” ke alam. Daripada membiarkan sampah organik membusuk di Tempat Pembuangan Akhir dan melepaskan gas metana yang merusak iklim, kita justru mengubahnya menjadi berkah bagi kebun dan ladang. Di tingkat desa, program pengomposan bisa menjadi kegiatan kolektif yang menggandeng warga secara mandiri, berbagi bahan baku, bergantian merawat, lalu memanen bersama untuk digunakan di pekarangan masing-masing. Ini bukan hanya solusi sampah, tetapi juga wujud kepedulian antarwarga dan rasa hormat kepada bumi yang telah memberi kita kehidupan. Dengan kompos, sampah tak lagi dianggap kotoran, melainkan awal dari kesuburan baru.

Pada akhirnya, pengolahan sampah yang bijak bukan hanya tentang mengurangi tumpukan di tempat pembuangan, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan hidup yang lebih sehat bagi kita semua. Sampah yang dikelola dengan baik tidak akan menjadi sumber penyakit, melainkan sumber manfaat yang kembali ke kehidupan sehari hari. Kompos menyuburkan tanaman yang kita konsumsi, daur ulang mengurangi polusi yang kita hirup, dan kesadaran kolektif menjaga kebersihan lingkungan yang kita huni. Dari sampah, kita belajar bahwa kesehatan tidak hanya datang dari makanan bergizi atau udara bersih, tetapi juga dari cara kita memperlakukan bumi dan sesama. Dengan langkah kecil yang konsisten, kita tidak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga menjaga kesehatan anak cucu kita di masa depan. Info/red

55 / 100 SEO Score