
Surabaya – Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk menghidupkan kembali Taman Hiburan Rakyat (THR) dan Taman Remaja Surabaya (TRS) harus dibatalkan meskipun telah mendapat minat dari beberapa investor. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengungkapkan bahwa faktor utama pembatalan tersebut adalah permintaan harga tiket masuk yang rendah.
Eri Cahyadi menjelaskan bahwa permintaannya untuk menjual tiket masuk dengan harga murah sebesar Rp25 ribu menjadi poin pemberat yang membuat para investor mundur. Para investor tidak melihat adanya keuntungan finansial dalam investasi tersebut apabila tiket masuk dihargai sedemikian rendah.
“Saya minta (harga tiket) masuk Rp25 ribu. Jadi ketika saya minta itu, maka investasi juga dihitung. Tak hanya (harga) appraisal tanahnya, setelah dihitung kalau dipakai wahana masih berkurang (dengan tiket masuk Rp25 ribu),” ungkapnya pada Selasa, 9 April 2024.
Keputusan untuk menjual tiket masuk dengan harga yang terjangkau tersebut sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Surabaya untuk memberikan akses rekreasi yang lebih terjangkau bagi masyarakat. Namun, hal tersebut tidak sejalan dengan kebutuhan investasi yang diharapkan oleh para investor.
Meskipun rencana untuk menghidupkan kembali THR dan TRS batal untuk saat ini, Wali Kota Surabaya tetap berkomitmen untuk mencari solusi yang memungkinkan agar kedua taman tersebut dapat dihidupkan kembali dengan pendekatan yang lebih realistis dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Meskipun rencana untuk menghidupkan kembali Taman Hiburan Rakyat (THR) dan Taman Remaja Surabaya (TRS) batal karena ketidaksesuaian permintaan harga tiket masuk dengan kebutuhan investor, Pemerintah Kota Surabaya tetap berkomitmen untuk mencari solusi yang memungkinkan kedua taman tersebut dapat dihidupkan kembali dengan pendekatan yang lebih realistis dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Info/red

Berita Lainnya
KPPU dan Pusan National University Bahas Perbandingan Penegakan Persaingan Usaha
DJP dan BPOM Percepat Transformasi Digital Layanan Publik di Surabaya
Pedagogi Ekologis dan Etika Kemanusiaan, Refleksi Kritis Airlangga Pribadi Kusman dalam Seminar Nasional AIPI-UKWMS