5 September 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Webinar Pengelolaan Data Sejarah Gereja GKJW Hadapi Kesenjangan Arsip Masa Lalu

55 / 100 SEO Score

webinar sejarah gkjw

Surabaya, Pustakalewi News – Institut Pendidikan Theologi Balewiyata di bawah naungan Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW )menyelenggarakan webinar bertema “Pengelolaan dan Perawatan Data-Data Sejarah Gereja” yang berlangsung secara online melalui platform Zoom pada hari Selasa, 1 September 2026. Acara yang sarat makna ini bukan sekadar seremonial, melainkan bersifat edukatif dan praktis dengan tujuan mulia membekali para jemaat pengetahuan serta keterampilan nyata dalam merawat dan mengelola arsip administrasi gereja serta dokumen bersejarah milik gereja, sehingga dokumen-dokumen berharga tersebut tidak lapuk dimakan waktu dan tetap dapat diakses oleh generasi mendatang.

Kehadiran IPTh Balewiyata sebagai penyelenggara yang memiliki kewenangan dan kompetensi di bidang pendidikan serta pelestarian sejarah gereja memberikan rasa percaya bahwa acara ini dikelola dengan serius, penuh tanggung jawab, dan sangat bermanfaat bagi siapa pun yang peduli pada warisan sejarah gereja.

Webinar ini dihadiri perwakilan para jemaat GKJW , antara lain GKJW Wiyung, GKJW Darmo , GKJW Jambangan, GKJW Pasuruan, dan lain-lain. Acara webinar tersebut dibuka oleh Hardiyan Triasmoroadi. Lalu webinar tersebut menghadirkan narasumber utama, yaitu Pdt. Yusak Soleiman, Ph.D., yang membawakan materi, serta didampingi oleh seorang moderator, Pdt. Maria Theofani Widayat, M.Th.

Pdt. Yusak Soleiman mengajukan sebuah pertanyaan reflektif yang cukup mendasar, yaitu bagaimana gereja-gereja dapat mencari dan menemukan data serta informasi masa lalu dengan mudah, cepat, tepat, dan murah. Pertanyaan ini menjadi cerminan dari sebuah idealisme tentang sistem kearsipan gereja yang ideal.

Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa situasi tersebut masih jauh dari harapan. Hingga tahun 2022, dan bahkan masih berlaku hingga tahun 2026 ini, sebagian besar gereja dan lembaga Kristen di Indonesia belum mampu mewujudkan kemudahan itu. Meskipun beberapa gereja telah mulai menerapkan aplikasi gereja digital, kemudahan tersebut hanya terbatas pada dokumen-dokumen terkini.

Sementara itu, dokumen-dokumen masa lampau, terutama arsip-arsip tertua sejak awal berdirinya gereja hingga beberapa puluh tahun pertama perjalanan sejarahnya, masih sulit diakses dan belum tersentuh oleh sistem digital. Dengan kata lain, ada kesenjangan yang cukup besar antara kemajuan teknologi saat ini dengan kondisi pelestarian arsip sejarah gereja yang masih memprihatinkan. Para jemaat memperhatikan bahwa apakah lembaga dari gereja memiliki peraturan atau tata cara terhadap arsip informasi dahulu kala.

Beliau juga menyarankan buku untuk para jemaat GKJW yaitu berjudul “Membangun Rumah Allah” yang ditulis oleh Yusak Soleiman sendiri. Buku tersebut merupakan dokumen arsip yang memuat hasil keputusan persidangan sinode gereja dengan fokus utama pada proyek pembangunan rumah ibadah. Meskipun nama Kartini muncul dalam salah satu catatan yang diduga sebagai nama program, simbol, atau tokoh penggagas, teks aslinya kemungkinan besar mengalami kesalahan pembacaan sehingga kalimat terkait tidak terbaca utuh. Secara keseluruhan, buku ini menyajikan keputusan keputusan sinode secara kronologis mulai dari sidang pertama hingga pencapaian akhir dalam proses pembangunan gereja. Buku lainnya ialah “Langkah Awal Gereja Kristus di Batavia“, “Sumber sejarah zaman Jepang di Toraja” dan  “75 tahun DGI/ PGI” oleh Prof. Jan S. Aritonang”.

Webinar online tersebut bukan hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga wadah diskusi yang hidup bagaimana menjaga dokumen-dokumen sejarah gereja original antar jemaat dari berbagai GKJW. Dalam sesi tanya jawab dan berbagi pengalaman, terlihat semangat kolektif untuk saling bertukar praktik baik sekaligus mengakui keterbatasan masing masing dalam mengelola arsip sejarah.

Diskusi tersebut menguatkan kesadaran bahwa persoalan pengolahan dan pelestarian data sejarah bukanlah beban satu gereja saja, melainkan tanggung jawab bersama seluruh keluarga besar GKJW. Dengan kebersamaan ini, diharapkan setiap generasi, baik yang sekarang aktif melayani maupun generasi mendatang, dapat mengenal dan mempelajari fakta fakta sejarah gereja mereka secara utuh, mudah diakses, dan terawat dengan baik. Sebab sejarah yang terpelihara adalah jembatan iman yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan umat Tuhan.

(Pramodya)

55 / 100 SEO Score