
Sidang Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly/WHA) ke‑79 yang akan datang, di bawah naungan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa pada 18–23 Mei, merupakan titik krusial bagi seluruh penghuni “Desa Global.” Para pemangku kepentingan akan berkumpul dalam acara penting ini untuk membahas dan merampungkan rencana aksi terkait isu kesehatan global, mengoordinasikan upaya internasional dalam mencegah, mempersiapkan, dan memerangi penyakit.
Setiap negara adalah mata rantai penting dalam keamanan kesehatan global dan manajemen bencana. Sejak berakhirnya darurat kesehatan masyarakat COVID‑19, Taiwan telah mendedikasikan diri untuk bersiap menghadapi krisis di masa depan. Namun, pertanyaannya tetap: apakah Desa Global siap menghadapi ancaman berikutnya? Setiap negara telah menarik pelajaran dari pandemi sebelumnya di berbagai tingkat kesehatan dan administrasi—realitas yang juga dialami oleh Indonesia dan Taiwan.
Kesehatan adalah hak asasi manusia fundamental dan nilai universal. Keamanan kesehatan global secara inheren saling terkait; namun Taiwan dan 23,5 juta penduduknya tetap menjadi celah geografis dan sistemik dalam kerangka ini. Karena pandemi dan penyakit menular tidak mengenal batas, upaya kolektif komunitas internasional tidak boleh dikompromikan oleh celah yang memungkinkan penyakit menyebar tanpa terkendali.
Menjaga kesehatan global membutuhkan kerja sama tanpa hambatan karena konektivitas dunia modern yang belum pernah terjadi sebelumnya. Taiwan adalah mitra yang andal dan mampu dalam sistem kesehatan internasional, namun tetap dikecualikan dari jaringan WHO karena pertimbangan politik yang tidak adil. Penafsiran yang keliru terhadap Resolusi Majelis Umum PBB 2758 melalui apa yang disebut “Prinsip Satu China” sama sekali tidak konsisten dengan fakta.
Perlu diperjelas: Resolusi 2758 hanya berkaitan dengan representasi Republik Rakyat China di PBB. Resolusi tersebut tidak meniadakan hak Taiwan untuk berpartisipasi dalam forum internasional. Taiwan mengelola perbatasannya sendiri, menerbitkan paspornya sendiri, dan beroperasi dengan otonomi penuh. Sebagai anggota yang bertanggung jawab dalam komunitas kesehatan internasional, partisipasi bermakna Taiwan akan memungkinkan WHO membangun kerangka kesehatan global yang benar‑benar komprehensif.
Semua negara harus menerapkan pelajaran masa lalu untuk mengembangkan kerangka kerja kolaborasi yang lebih koheren dan kohesif. Desa Global harus bekerja sama, baik di Taiwan, Indonesia, maupun di tempat lain. Penyakit tidak membeda‑bedakan; oleh karena itu, komunitas internasional harus tetap netral ketika menangani isu kesehatan. WHO tidak memiliki alasan yang dapat dibenarkan untuk terus mengecualikan Taiwan.
Taiwan secara konsisten menempati peringkat teratas dalam NUMBEO Health Care Index sejak 2018. Sistem National Health Insurance (NHI) berkualitas tinggi, yang didirikan pada 1995, memberikan cakupan penuh kepada komunitas Indonesia di Taiwan, melindungi kesejahteraan lebih dari 350.000 individu. Pada 2024, pemerintah Taiwan meluncurkan visi kebijakan “Healthy Taiwan,” memanfaatkan teknologi AI untuk membangun infrastruktur kesehatan yang lebih kuat dan meningkatkan harapan hidup. Selain itu, pada 2025 Taiwan berhasil mengeliminasi Hepatitis C—lima tahun lebih cepat dari target WHO 2030.
Taiwan sangat menghargai kemitraan dan persahabatan dengan Indonesia. Baik pekerja migran, mahasiswa, profesional bisnis, maupun pasangan, orang Indonesia yang tinggal di Taiwan dianggap sebagai sahabat dan keluarga dekat. Lembaga terkemuka, seperti Rumah Sakit Universitas Nasional Taiwan, telah ditugaskan oleh pemerintah Taiwan untuk bekerja sama dengan lembaga kesehatan Indonesia menuju tujuan bersama. “Taiwan Can Help” lebih dari sekadar slogan; ini adalah rekam jejak yang terbukti.
Pengecualian Taiwan dari WHO dan WHA adalah tindakan ketidakadilan internasional dan diskriminasi politik. Taiwan mendesak WHO untuk menjunjung profesionalisme dan netralitas, menolak campur tangan politik, dan mengundang Taiwan untuk ikut bergabung. Dengan hormat kami meminta pengertian dan dukungan Indonesia agar Taiwan dapat berpartisipasi aktif dan bermakna dalam WHO dan WHA. Bersama, dengan mitra seperti Indonesia, Taiwan siap memajukan kesehatan global dan menjadikan Desa Global tempat yang lebih aman bagi kita semua.
Oleh: Isaac Chiu
Director General of Taipei Economic and Trade Office in Surabaya

Berita Lainnya
Piala Dunia 2026: Inggris, Belgia dan Amerika Serikat Susul ke 16 Besar
Piala Dunia 2026: 7 Negara Angkat Koper, 13 Tim Lolos
Mahasiswa Kampus Merah Putih Membangun Branding Digital UMKM Teh Kota & Anak Babi