27 October 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Rumah yang Tak Pernah Memiliki Jam Istirahat untuk Ibu

60 / 100 SEO Score

rumah ibu
Penulis: Windiana Putri (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya / NIM 1152300145)

Pukul 17.00, laptop ditutup. Bagi banyak pekerja laki-laki, itu penanda jam kerja selesai. Bagi banyak perempuan, itu hanya pergantian shift. Ada makan malam yang harus disajikan di meja makan, seragam yang belum disetrika, dan anak yang ingin ditemani belajar. Kita biasanya menyebut “kodrat”. Padahal ini merupakan lembur tanpa digaji.

Angkanya cukup serius. Menurut Time Use Survey yang diterbitkan pada September 2026 oleh Menteri PPPA, Arifah Fauzi, wanita menghabiskan 2,8 kali lebih banyak waktu daripada pria untuk pekerjaan rumah dan perawatan anak yang tidak dibayar. Wanita menghabiskan 11.6 jam per hari secara rata-rata, sedangkan pria menghabiskan 9.2 jam per hari ketika kedua jenis pekerjaan digabungkan (KOMPAS.id, 2025). Sebuah BPS survey yang dilakukan pada tahun 2024 menunjukkan bahwa 84,39% wanita yang merupakan breadwinner utama masih melakukan tugas rumah tangga. Mereka adalah dasar ekonomi keluarga dan dapur. Menurut McKinsey, lebih dari 75% pekerjaan rumah dan perawatan di seluruh dunia dilakukan oleh wanita (Fortune IDN, 2026)

Menurut sosiolog Arie Hochschild, ini adalah situasi sift kedua. Menurut penelitiannya, wanita yang bekerja di luar rumah kembali ke rumah untuk melakukan shift kedua. Dalam setahun, jam tambahan yang mereka lakukan dibandingkan suami mereka hampir setara dengan satu bulan penuh (Hochschild & Machung, 1989). Meskipun penemuan ini dibuat lebih dari tiga puluh tahun yang lalu, hal ini masih terasa didapur sehari hari.

Feminisme Marxis sosialis membantu menjelaskan mengapa shift kedua ini bertahan. Dari sudut pandang ini, pekerjaan rumah tangga bukan hanya masalah keluarga tetapi juga dasar ekonomi. Coba pikirkan seorang karyawan yang pergi ke kantor setiap pagi. Mereka dapat bekerja karena seorang individu telah menyiapkan makanan mereka, mencuci pakaian mereka, menjaga mereka saat sakit, dan membesarkan anak-anak mereka, yang pada akhirnya akan menjadi pekerja dimasa yang akan datang. Perusahaan tidak akan memiliki karyawan yang siap untuk bekerja jika tidak ada semua itu.

Sebuah pekerjaan yang “Reproduksi” tenaga kerja manusia setiap hari disebut sebagai pekerjaan sosial reproduksi. Anehnya, kerja keras yang begitu penting sering kali tidak dibayar dan tidak diperhitungkan dalam ekonomi nasional. Alasannya adalah karena aktivitas ini sering dianggap sebagai wujud cinta “ibu benar-benar peduli dengan keluarganya” atau sebagai sifat perempuan “perempuan memang secara alami pandai mengurus rumah”. Kata sifat “alami” sangat penting dalam situasi ini. Ketika sesuatu dianggap alami, kita tidak mempertanyakannya, kita hanya menerimanya begitu saja. Padahal pembagian kerja ini sebenarnya muncul dari norma dan kebiasaan sosial, bukan karena bawaan. Ketidakseimbangan ini jarang dikritik karena terlihat normal dan dianggap alami.

Menurut buku komunikasi dan gender, sesuai dengan namanya “Marxis”, Teori feminisme ini dipengaruhi oleh pemikiran Karl Marx. Tokoh yang terkenal dalam teori Feminismen Marxis adalah Friedrich Engels, Iris Young, dan Alison Jaggar. Feminisme Marxist menganggap bahwa opresi terhadap perempuan bukanlah bentuk tindakan sengaja dari satu individu saja, tetapi merupakan produk dari struktur politik, sosial, ekonomi, tempat individu itu hidup serta berinteraksi.

Feminisme Marxis melihat adanya korelasi antara ketertindasan kaum perempuan (bukan seksisme) dengan kekuasaan sehingga ketimpangan sistem kelas menjadi alasan serta landasan terjadinya opresi dan diskriminasi terhadap kalangan perempuan. Sehingga dapat dikatakan bahwa adanya ketimpangan posisi antara laki-laki dan perempuan disebabkan adanya struktur sosial yang membelenggu kebebasan serta kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Di mana struktur ini merupakan sebuah agen yang sangat kuat, atau kekuatan yang sangat besar yang tidak bisa ditembus karena memang memiliki kekuasaan.

Menurut teori ini, sistem kapitalisme, yang sering merugikan perempuan, bisa dihancurkan untuk mewujudkan kebebasan perempuan. Misalnya, karyawan perempuan kadang-kadang dibayar lebih rendah atau, jika mereka dibayar, gaji mereka jauh lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Sehingga perempuan selalu dalam posisi tertindas.-

Inilah titik di mana komunikasi menjadi penting. Perhatikan kata “membantu.” Diyakini bahwa seorang suami yang mencuci piring sedang “membantu istrinya,” seolah-olah istrinya selalu bertanggung jawab untuk mencuci piring. Partisipasi suami di dapur atau dalam pengasuhan anak dipandang sebagai hal yang tidak biasa, terutama jika istrinya bekerja di luar rumah, karena ranah publik dianggap milik pria dan ranah domestik milik wanita. Seorang ibu yang memberi makan anaknya tidak dipuji karena itu dianggap sebagai tugasnya, tetapi seorang ayah yang melakukannya dipuji sebagai “ayah ideal.” Selain itu, kita terbiasa mendengar tentang “supermom,” “ibu luar biasa yang bisa melakukan segalanya,” dan saran manajemen waktu yang hampir sepenuhnya ditujukan kepada wanita. Pujian itu mungkin terdengar menyenangkan, tapi secara halus mengubah masalah struktural menjadi masalah pribadi jika kamu lelah, itu berarti kemampuan manajemen waktumu kurang.

Ketika seorang wanita ingin bekerja, coba perhatikan. “Bagaimana dengan mengurus anak-anak nanti?” adalah pertanyaan yang hampir selalu ditanyakan kepada wanita dan jarang ditanyakan kepada pria. Tangan yang mengaduk rempah dan mencuci piring di televisi hampir selalu tangan wanita. Pria tidak dilarang masuk ke dapur, tetapi iklan, tawaran pekerjaan, dan diskusi memperkuat pesan ini sampai kita menerimanya sebagai hal yang biasa.

Efeknya nyata. Menurut sebuah studi yang dilakukan di Madura oleh Paramita dkk. (2026), partisipasi perempuan dalam pelayanan publik justru menambah beban mereka secara keseluruhan daripada mengurangi pekerjaan rumah tangga. Meskipun bekerja karena kebutuhan finansial, petani perempuan tetap mengurus keluarga dan membersihkan rumah. Menurut data BPS, banyak pencari nafkah perempuan memilih usaha mandiri yang fleksibel dengan pendapatan rendah dan perlindungan sosial minim (Perpustakaan DPR RI, 2024). Menurut analisis McKinsey, partisipasi perempuan dalam angkatan kerja dan peluang mereka untuk memegang peran kepemimpinan berbanding terbalik dengan persentase pekerjaan perawatan tak dibayar (Fortune IDN, 2026). Dengan kata lain, sering kali, tempat di dapur adalah titik awal di mana plafon kaca muncul.

Pendapat saya sederhana: masalahnya bukan perempuan yang kurang tangguh, melainkan sistem yang mengandalkan ketangguhan itu secara gratis. Selama kita terus memuji ibu yang “kuat”, kita tak pernah bertanya mengapa ia harus sekuat itu.

Beberapa tindakan bisa dimulai. Pertama, ubah percakapan mulai dari rumah kata “membantu” menjadi “berbagi.” Tugas rumah tangga adalah tanggung jawab bersama, bukan bantuan. Kedua, ajari anak perempuan bahwa mengambil istirahat bukanlah sebuah kemewahan dan dorong anak laki-laki untuk mencuci piring. Ketiga, pemberi kerja harus memberikan cuti orang tua dan fleksibilitas kepada karyawan dari semua jenis kelamin, bukan hanya ibu. Keempat, peran perawatan harus dihargai oleh pemerintah. Pembaruan Peta Jalan Ekonomi Perawatan 2026, yang memprioritaskan pengakuan nilai, mengurangi beban yang tidak proporsional, dan berbagi tanggung jawab secara lebih adil, sudah mencerminkan kecenderungan ini (InfoPublik, 2026). Uji coba sedang diterapkan saat ini.

Ruang rapat bukanlah tempat di mana kesetaraan gender berakhir. Grup WhatsApp orang tua, meja makan, dan pertanyaan sederhana seperti “siapa yang masak malam ini?” semuanya digunakan untuk mengujinya. Mungkin ukuran sederhana kemajuan kita adalah ini, ketika semua orang di rumah bisa bilang “aku capek” dan sama-sama berhak rebahan.

60 / 100 SEO Score