
Surabaya – Suasana malam yang guyub dan meriah menyelimuti halaman parkir timur GKJW Jemaat Ngagel pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Komunitas Pambuko sukses menggelar acara bertajuk “Campursari: Guyub Rukun Lumantar Budaya Jawa”. Lebih dari sekadar hiburan, acara ini menjadi wadah pelestarian budaya Nusantara.
Menariknya, konser ini menyajikan keindahan budaya Jawa melalui aransemen musik campursari modern yang menggunakan gamelan diatonis, berbeda dengan gamelan Jawa tradisional yang bersifat pentatonik. Perpaduan alat musik saron diatonis, kendang, gitar listrik, gitar akustik, ukulele, dan keyboard ini menciptakan nuansa yang segar, namun tetap kental akan budaya Jawa.
Acara yang dipandu oleh Ibu Elisabeth Oesodo ini dibuka dengan meriah melalui instrumen tembang “Nyidam Sari” yang dibawakan oleh grup campursari Komunitas Pambuko di bawah pimpinan Pambuko Christian. Setelah penampilan pembuka, acara dilanjutkan dengan doa pembukaan yang dipimpin oleh Pdt. Budi Cahyono. (Pukul 19.00)
Penampilan pertama lagu “Siji Loro Telu” oleh Bu Devin langsung menarik perhatian penonton. Antusiasme semakin terasa saat sesi kuis berlangsung. Kemeriahan malam itu terus berlanjut dengan penampilan Mbak Lika yang membawakan tembang “Jenang Gulo”, disusul oleh Mbak Genes.
Panggung campursari juga dimeriahkan oleh penampilan Pak Layen Endro dengan tembang “Setyo Tuhu”, serta Mas Aris dari GKJW Perak yang membawakan lagu “Endah Cahyaning Gusti”. Seluruh penonton diajak menyanyi bersama-sama membawakan lagu “Perahu Layar”.
Tak berhenti di situ, penampilan Pak Bambang Sudibyo bersama Mbak Devin dengan lagu “Yen Wong Lagi Gandrung” kembali menghibur hadirin. Deretan lagu populer pun dibawakan secara bergantian oleh Mbak Lika, Mbak Genes, dan Mbak Devin, mulai dari “Suket Teki”, “Negara Angin”, “Langgam Surabaya”, hingga “Jogja Istimewa”, yang berhasil membuat beberapa penonton maju ke depan untuk berjoget bersama.
Malam yang semakin hangat ditutup dengan deretan lagu akrab di telinga seperti “Rungkad”, “Anoman Obong”, “Kalung Emas”, hingga “Kempling”.
Dengan lewat konser ini, Komunitas Pambuko tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menegaskan komitmennya untuk melestarikan budaya Indonesia, khususnya budaya Jawa. Perpaduan gamelan diatonis dan musik modern diharapkan dapat mendekatkan warisan budaya kepada generasi muda tanpa kehilangan nilai guyub rukun dan identitas budaya Jawa. Info/red

Berita Lainnya
Pemkab Kediri Benahi Area Publik Rehabilitasi Taman Kilisuci
Pemerintah Kabupaten Kediri melakukan rehabilitasi Taman Kilisuci di Kecamatan Pare
Tol Paspro Dialihkan hingga 22 Oktober, Berikut Jalur Alternatifnya