
Sorong, Papua Barat Daya – Konsultasi Nasional (Konas) XV Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen di Indonesia (JKLPK) resmi dibuka di Hotel Rylich Panorama, Kota Sorong, pada Selasa (04/06). Berlangsung selama 2-4 Juni 2026, Konas XV JKLPK mengusung tema kenabian dari Mikha 6:8, “Berlakulah Adil, kasihilah kesetiaan dan hiduplah dengan rendah hati di hadapan Tuhanmu”. Konsultasi nasional ini menjadi panggung refleksi mendalam atas isu kemanusiaan dan kerusakan lingkungan.
Ibadah pembukaan yang dipimpin oleh Pdt. Diana Pesireron langsung menggemakan subtema “Berjuanglah bersama untuk mewujudkan keadilan di bumi, keutuhan ciptaan dan martabat kemanusiaan.” Pesan ini diperkuat melalui khotbah dari Yehezkiel 36:26-38 yang merefleksikan pembaruan hati dan pemulihan negeri.

Refleksi Teatrikal dan Kemeriahan Budaya Nusantara
Salah satu momen paling menyentuh adalah penampilan sendratari berjudul “Pengharapan di Balik Luka” oleh mahasiswa dan alumni Sekolah Tinggi Theologia di Sorong. Pertunjukan ini secara apik merefleksikan peran Gereja dan Lembaga Kristen yang harus hadir sebagai jawaban atas berbagai persoalan HAM dan lingkungan. Suasana semangat keberagaman dibawakan oleh Sanggar Seni Tari Sithipagu melalui tari “Nusantara”, di mana para penari dengan rancak mengenakan busana dari berbagai daerah, menggambarkan kekayaan suku dan budaya Indonesia. Kemeriahan bertambah dengan alunan musik Okulele dari para Pendeta GKI Tanah Papua Klasis Sorong.

Laporan dan Dukungan Pemerintah
Ketua Panitia Konas, Ibu Elche Esdadow, melaporkan bahwa kegiatan ini dihadiri oleh 72 peserta dari 12 Region yang membentang dari Sumatra hingga Papua. Ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada Gubernur Papua Barat Daya beserta staf, serta para donatur yang telah mendukung penuh acara ini. Ucapan selamat datang hangat juga disampaikan oleh Pokja JKLPK Region Papua Barat, Pdt. Jane Haurissa.
Sementara itu, Ketua Pokja JKLPK, Sonny S. Saragih, menegaskan peran organisasi. “JKLPK memiliki tugas untuk menjadi mercusuar bagi Keindonesiaan. Kami sangat mengapresiasi Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya yang telah mendukung penuh,” ujarnya.
Sambutan Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, yang dibacakan oleh Staf Ahli Bidang Otonomi Khusus, Ibu Beatrice M. Shiren, menekankan bahwa keadilan dan kerendahan hati adalah fondasi kehidupan yang harmonis dan bermartabat. Menurutnya, berbagai persoalan kemanusiaan dan lingkungan membutuhkan kolaborasi. “Pemerintah Provinsi Papua bertanggung jawab menjaga keutuhan ciptaan, bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi. JKLPK adalah mitra strategis pemerintah dalam membangun masyarakat dan lingkungan,” ujarnya.
Komitmen untuk Kemanusiaan dan ‘Paru-paru Dunia’
Konsultasi Nasional XV secara simbolis dibuka oleh Ketua Sinode GKI Tanah Papua, Domine Andrikus Nofu, yang menabuh Tifa. Dalam sambutannya, ia menyerukan persatuan. “Gereja-gereja di tanah Papua sadar tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kita harus bersatu karena dunia sedang tidak baik-baik saja, termasuk di Papua,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa Konas ini adalah komitmen nyata. Dalam perspektif iman, JKLPK harus memberi sumbangsih bagi kemanusiaan dan lingkungan. Pdt. Andrikus menyoroti secara tajam kondisi ekologis Indonesia, “Saat ini, Papua adalah penyumbang oksigen terbesar di dunia karena hutan di Sumatera dan Kalimantan telah tinggal kenangan.” Pernyataan ini menjadi penegas urgensi perjuangan bersama menjaga keutuhan ciptaan.

Berita Lainnya
Konas JKLPK XV Ditutup: Pengutusan Pengurus Baru dan Seruan Profetik dari Tanah Papua
Persekutuan Doa YPPA Lahai Roi: Mazmur 88 dan Refleksi Pergumulan Mahasiswa
Pemuda GKJW Ngagel : Membara Bersama Tuhan dalam Setiap Aktivitas