
Sektor pertanian merupakan urat nadi perekonomian warga Desa Kertosono, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik. Sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup dari hasil bumi. Namun, produktivitas dan keamanan para petani kerap terhambat oleh minimnya fasilitas penerangan di jalan usaha tani dan area persawahan saat malam tiba.
Menjawab tantangan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya hadir membawa solusi inovatif berupa instalasi penerangan berbasis energi terbarukan panel surya. Kegiatan yang dilaksanakan pada Juli 2026 ini dipimpin oleh dosen pendamping Daffa Dwi Sri Diyanti, S.Psi., M.Psi., Psikolog, bersama tim mahasiswa lintas program studi yang terdiri dari Josua Ekklesia Lokeswara, Jeslin Cecilia Thunggal, Nabila Nazwa Salsabilah, dan Mohammad Sigit Andriansyah.
Berdasarkan hasil observasi lapangan, tim menemukan bahwa gelapnya area persawahan di malam hari menyulitkan aktivitas petani serta berpotensi terjadinya tindak kriminalitas ataupun kecelakaan. Bisa dilihat bahwa beberapa kegiatan krusial seperti pengawasan lahan, pengecekan saluran irigasi, dan persiapan pertanian seringkali harus dilakukan pada sore hingga malam hari atau bahkan dini hari.
“Minimnya penerangan ini tidak hanya membuat aktivitas petani menjadi kurang optimal, tetapi juga menurunkan tingkat keamanan lingkungan karena area persawahan menjadi sangat sulit dipantau di malam hari,” ungkap Daffa Dwi Sri Diyanti selaku ketua pengusul program.
Di sisi lain, memperluas jaringan listrik konvensional (PLN) ke area persawahan memiliki kendala tersendiri, mulai dari jarak yang jauh hingga biaya operasional yang membebani masyarakat desa secara berkelanjutan. Oleh karena itu, SubKelompok 7 Untag Surabaya mengusulkan penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) yang dapat beroperasi secara mandiri (off-grid).
Desa Kertosono memiliki potensi intensitas sinar matahari yang tinggi sepanjang tahun. Potensi inilah yang dimaksimalkan oleh tim mahasiswa Untag Surabaya dengan merakit dan memasang sistem panel surya. Sistem ini terdiri dari panel surya, solar charge controller (SCC), baterai (aki kering), dan lampu LED yang dipasang pada tiang setinggi 4-5 meter. Energi matahari yang diserap pada siang hari akan disimpan di dalam baterai, lalu digunakan untuk menyalakan lampu secara otomatis begitu malam tiba.
Kegiatan pengabdian ini tidak berhenti pada pemasangan alat saja. Dalam rangka memastikan keberlanjutan program, tim mahasiswa juga mengadakan sosialisasi dan pelatihan bagi Kelompok Tani Desa Kertosono. Para petani menerima edukasi mengenai prinsip kerja energi terbarukan, cara pengoperasian, hingga langkah-langkah perawatan sederhana agar umur pakai komponen lebih panjang. Sebagai panduan jangka panjang, tim juga menyusun dan menyerahkan Buku Panduan Operasional dan Perawatan sistem panel surya kepada pihak desa. Program ini merupakan wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi serta dukungan terhadap kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), di mana mahasiswa mengaplikasikan ilmunya langsung untuk memecahkan permasalahan di masyarakat.
Melalui hadirnya fasilitas penerangan ramah lingkungan ini, diharapkan lingkungan persawahan di Desa Kertosono menjadi lebih aman, nyaman, dan produktif. Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi pemantik kesadaran masyarakat desa akan pentingnya beralih ke pemanfaatan teknologi energi terbarukan yang ekonomis dan berkelanjutan, sehingga dari blueprint yang telah diimplementasi semoga warga desa memahami bagaimana cara panel surya bekerja dan bisa mengembangkan lebih lagi bagi teknologi yang ada di desa Kertosono, Gresik.
Penulis: Joshua Ekklesia Lokeswara

Berita Lainnya
Ratusan Pendaftar Beasiswa di Kabupaten Kediri Gugur saat Verifikasi
Inovasi Alat Pencetak Pentol untuk Meningkatkan Produktivitas UMKM di Desa Sukorejo
Mahasiswa KKN Untag Surabaya Latih Ibu-Ibu PKK Kertosono Kelola Emosi lewat Journaling