9 December 2025

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Festival Bakcang Surabaya Angkat Filosofi di Balik Kuliner Tionghoa

60 / 100 SEO Score

Festival Bakcang

Surabaya – Festival Bakcang Surabaya 2025 sukses digelar di Nola Learning Center, Sungkono Lagoon Avenue, Sabtu sore (7/6/25). Lebih dari sekadar perayaan kuliner khas Tionghoa, acara ini mengajak generasi muda memahami filosofi luhur di balik bentuk limas dan rasa hangat dari sebungkus bakcang.

Festival bertajuk “Bakcang dan Falsafah di Dalamnya” ini merupakan kolaborasi apik antara Lagoon Avenue, Unimaxx Photography Community, Seni dan Budaya Nusantara, Miss Tionghoa Indonesia, dan Nola Learning Center. Rangkaian acara berlangsung meriah sejak pukul 14.00 WIB hingga malam, menghadirkan bincang budaya, demo membuat bakcang, fashion show, hingga lomba foto.

Stephen Tony ST, MM dari Pecinta Seni dan Budaya Surabaya menjelaskan bahwa ini adalah kali pertama acara semacam ini digelar di Surabaya, dengan tujuan mengangkat nilai-nilai budaya Tionghoa yang mulai terlupakan.

“Bentuk bakcang yang limas dengan empat sudut menyimbolkan empat nilai luhur: Zhi zu (legowo), Gan en (bersyukur), Shan jie (berpikiran positif), dan Bao rong (penerimaan dengan kasih),” ungkap Stephen. “Kami ingin generasi muda tidak hanya mengenal rasa bakcang, tapi juga maknanya.”

Acara dibuka dengan bincang santai yang menghadirkan Rasmono Sudarjo (Ketua Seni Budaya Nusantara) dan Budi Kurniawan (Ketua Prodi Mandarin UK Petra). Mereka membahas sejarah bakcang yang erat kaitannya dengan kisah patriotik Qu Yuan dari Dinasti Chu dan perayaan Peh Cun (Duanwu Festival).

“Bakcang bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol cinta tanah air dan bentuk penghormatan atas nilai-nilai kebaikan,” ujar Rasmono. Ia mengajak generasi muda untuk mencintai dan melestarikan budaya Nusantara, termasuk yang berakar dari Tionghoa.

Menariknya, peserta juga diajak langsung membuat bakcang bersama Lusiana Tantra, dosen Prodi Mandarin UK Petra. Ia membagikan cara membuat bakcang halal dengan isian ayam dan kuning telur asin. “Kelihatannya mudah, tapi membungkusnya butuh latihan,” ucapnya sambil tersenyum.

Selain itu, hadir pula parade budaya lewat fashion show dari Miss Tionghoa Indonesia dan Megan, Little Miss Tionghoa Jatim. Anak-anak tampil anggun dengan busana Tionghoa yang penuh warna, memperkuat kesan bahwa budaya adalah warisan yang indah untuk diteruskan.

Denny D’Colo, Ketua Unimaxx Photography Community, menambahkan semangat pelestarian budaya lewat seni visual. “Lewat lomba foto on the spot, kami ingin mengajak fotografer mengabadikan kekayaan budaya dan menyebarkannya ke khalayak luas.”

Founder PKBM NOLA, Onggo Susilo ST, M.Pd, menyampaikan bahwa tempatnya terbuka untuk kegiatan budaya seperti ini agar generasi muda lebih sadar dan mencintai keberagaman yang dimiliki Indonesia. Sejalan dengan itu, Nita selaku pendiri Miss Tionghoa menekankan pentingnya menanamkan kecintaan terhadap budaya sejak dini.

Festival ini turut didukung berbagai sponsor seperti Cheers, Chery, Apollo Gadget Store, Cito Laboratorium Medis, Jamoe Ibu, Maxim, Young Living, Universitas Kristen Petra, Rose Belle, Selly Soetanto, dan masih banyak lagi.

Lebih dari sekadar perayaan kuliner, Festival Bakcang Surabaya 2025 jadi ruang lintas generasi untuk merayakan dan merawat nilai-nilai budaya. Sebuah pengingat bahwa di balik kudapan tradisional, tersimpan falsafah hidup yang relevan dan abadi. info/red

60 / 100 SEO Score