8 May 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Demam Kopi Santan di Tiongkok yang Pusing Pabrik Minyak Kelapa di Indonesia

56 / 100 SEO Score

WhatsApp Image 2026 05 06 at 08.03.04

Kalimat ini mungkin paling tepat menggambarkan fenomena “Demam Coconut Latte” yang melanda Tiongkok dalam dua tahun terakhir. Tren ini bukan sekadar gaya hidup urban, melainkan badai ekonomi yang membuat pasokan kelapa di Indonesia terkuras habis hingga mengancam ambisi hilirisasi nasional.

1. Fenomena Luckin Coffee: Kelapa Menjadi “Emas Putih”
Semuanya bermula ketika raksasa kopi Tiongkok, Luckin Coffee, meluncurkan menu Raw Coconut Latte. Minuman ini meledak di pasar, terjual jutaan cangkir dalam waktu singkat, dan memicu kompetitor lain seperti Cotti Coffee untuk ikut terjun ke dalam “perang santan”.
Masyarakat Tiongkok sedang mengalami shifting diet. Mereka mulai meninggalkan susu sapi dan beralih ke santan kelapa sebagai campuran kopi karena dianggap lebih sehat, eksotis, dan lactose-free. Dampaknya? Permintaan kelapa bulat (kelapa utuh) dari Indonesia meroket ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
2. Data Statistik: Indonesia Menyuplai “Tenggorokan” Tiongkok
Tiongkok adalah importir kelapa terbesar di dunia, dan Indonesia adalah ladang utama mereka. Dominasi Tiongkok terhadap komoditas kita tercermin dalam angka-angka berikut:
* Pangsa Pasar Ekspor: Berdasarkan data terbaru tahun 2025-2026, Provinsi Hainan di Tiongkok—pusat pengolahan kelapa mereka—mengimpor sekitar 516.000 ton kelapa dari Indonesia.
* Ketergantungan Tinggi: Indonesia menyumbang sekitar 87,2% dari total impor kelapa ke wilayah tersebut.
* Lonjakan Nilai: Nilai ekspor kelapa Indonesia ke Tiongkok tercatat melampaui USD 245 juta pada tahun 2025, meningkat tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Para pembeli dari Tiongkok berani memborong kelapa langsung ke tingkat petani dengan harga yang jauh lebih tinggi daripada yang sanggup dibayar oleh pabrik pengolahan lokal di Indonesia.
3. Hilirisasi yang Terseok-seok: Pabrik Minyak “Mati Suri”
Ironisnya, di saat pemerintah Indonesia sedang gencar menggaungkan hilirisasi (mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah), industri pengolahan kelapa domestik justru “mati lemas” karena kekurangan bahan baku.
• Krisis Pabrik Minyak Kelapa: Pabrik-pabrik minyak kelapa di Indonesia kini terseok-seok mencari bahan baku. Karena kelapa bulat lebih menguntungkan untuk diekspor utuh ke Tiongkok, pasokan untuk diolah menjadi minyak kelapa (Crude Coconut Oil) dan turunannya menjadi langka. Tanpa minyak kelapa yang stabil, industri lanjutannya pun ikut terhenti.
• Hambatan Hilirisasi Total: Hilirisasi bukan sekadar membuat santan, tapi mengolah kelapa menjadi produk bernilai tinggi seperti fatty acids, gliserin, hingga produk kosmetik. Ketika bahan baku dasarnya saja sudah hilang dari pasar lokal, ambisi Indonesia untuk naik kelas menjadi produsen produk turunan kelapa dunia menjadi terhambat besar.
• Kapasitas Produksi Anjlok: HIPKI melaporkan banyak pabrik pengolahan di dalam negeri kini hanya beroperasi dengan kapasitas di bawah 50%. Mesin-mesin mahal di pabrik-pabrik minyak kelapa berhenti berputar karena kelapanya sudah “terbang” ke Tiongkok.
• Lonjakan Harga Lokal: Di pasar tradisional, harga kelapa melonjak dari Rp10.000 menjadi Rp20.000. Masyarakat lokal harus membayar harga “ekspor” untuk mengonsumsi hasil bumi sendiri.
4. Paradoks Komoditas: Punya Bahan, Tapi Bukan Pemilik Cerita

Ada sebuah ironi besar di sini. Indonesia adalah pemilik lahan kelapa terluas di dunia dan penghasil biji kopi terbaik—mulai dari Gayo yang aromatik hingga Robusta Lampung yang kuat. Secara logika, Kopi Santan seharusnya menjadi produk kebanggaan nasional yang mendunia dari tangan kita sendiri. Namun, mengapa justru brand Tiongkok yang memenangkan panggung global?
Selama ini, kita terlalu nyaman menjadi raw material supplier. Kita sibuk mengirim green beans dan kelapa bulat, sementara negara lain sibuk melakukan riset pasar dan menciptakan “kebutuhan” baru. Akibatnya, kita punya bahan bakunya, tapi mereka yang punya ceritanya.

Oleh Dr. Ir. Ivan Gunawan, S.T., M.MT., CSCM., IPM., ASEAN Eng.

56 / 100 SEO Score