6 August 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Berikut Alasan OJK Sektor Keuangan Indonesia Tetap Aman Meski Geopolitik Memanas

44 / 100 SEO Score

kantor OJK jatim

Surabaya – Memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah serta kebijakan tarif baru Amerika Serikat terhadap puluhan negara belum menggoyahkan stabilitas sektor jasa keuangan nasional. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan kondisi sistem keuangan Indonesia hingga akhir Juli 2026 tetap terjaga dengan baik, ditopang fundamental ekonomi domestik yang masih solid.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan ketidakpastian global memang masih membayangi perekonomian dunia. Eskalasi konflik di Timur Tengah setelah gagalnya upaya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran pada awal Juli kembali memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan premi risiko di pasar keuangan global.

Selain faktor geopolitik, Amerika Serikat juga mulai memberlakukan kebijakan tarif baru terhadap sekitar 60 negara mitra dagang setelah berakhirnya tarif sementara. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memperpanjang volatilitas harga komoditas sekaligus meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.

“Naiknya tekanan di pasar energi global serta pengenaan tarif baru membuat premi risiko global tetap tinggi dan volatilitas harga komoditas berpotensi berlanjut,” ujar Friderica, yang akrab disapa Kiki.

Ia menjelaskan, pemulihan ekonomi dunia masih berlangsung tidak merata. Aktivitas manufaktur di negara-negara maju menunjukkan perbaikan yang lebih kuat, sedangkan negara berkembang masih menghadapi pertumbuhan yang lebih terbatas.

Di Amerika Serikat, inflasi terus melandai dengan aktivitas ekonomi yang relatif stabil. Sementara itu, ekonomi Tiongkok pada kuartal II 2026 mencatat pertumbuhan terendah sejak akhir 2022 akibat lemahnya konsumsi domestik dan investasi swasta, sehingga ekspor masih menjadi penopang utama perekonomian negeri tersebut.

Adapun kawasan Eropa dan Inggris juga menunjukkan tren penurunan inflasi.

Dana asing juga masih tercatat keluar dari sejumlah pasar keuangan global meski intensitasnya mulai berkurang dibandingkan periode sebelumnya. Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3 persen dari sebelumnya 3,1 persen.

Meski demikian, perkembangan investasi di sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dinilai berpotensi menjadi faktor penopang pertumbuhan ekonomi dunia.

Di tengah tekanan eksternal tersebut, kondisi ekonomi domestik dinilai tetap resilien. Inflasi Indonesia pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,88 persen secara tahunan (year on year/yoy), sementara aktivitas manufaktur kembali memasuki fase ekspansi dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) sebesar 50,2.

Menurut Kiki, kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang ditempuh pemerintah bersama Bank Indonesia berhasil menjaga stabilitas perekonomian nasional sehingga sektor jasa keuangan tetap berada dalam kondisi yang sehat.

“Berdasarkan perkembangan tersebut, stabilitas sektor keuangan tetap terjaga didukung oleh bauran kebijakan fiskal dan moneter yang memadai,” kata Friderica. info/red

44 / 100 SEO Score