25 July 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Alami Pemalakan di Banyuwangi, Bus Pariwisata Ditahan Oknum Karena Minta Jatah Pengawalan

197314680

Dugaan Alami Pemalakan di Banyuwangi, Bus Pariwisata Ditahan Oknum Karena Minta Jatah Pengawalan

Surabaya – Sebuah kejadian menakutkan dialami rombongan wisata asal Surabaya yang sedang mengunjungi area wisata Bangsring Under Water Banyuwangi, pada Sabtu 13 Desember 2025.

Di mana bus rombongan wisatawan yang hendak pulang dicegat oleh oknum yang mengatasnamakan warga setempat.

Para wisatawan yang mayoritas para lansia mengaku seperti diculik dan trauma karena bus yang mereka tumpangi disandera dan tak boleh meninggalkan lokasi.

Tour Leader yang membawa rombongan tersebut menanyakan perihal penyanderaan bus wisatawan dari Surabaya tersebut.

“Sudah bayar tiket Rp25 Ribu dan karcis masuk sejumlah wisatawan, lalu dimintain uang Rp150 Ribu untuk apa?, tanya Timothy Tour Leader rombongan tersebut.

Lelaki yang mengaku bernama Busahra tersebut mengatakan bahwa itu merupakan iuran yang dibuat oleh Desa setempat, dan memang sidah menjadi aturan.

“Ini sudah aturannya di sini! Kalau sampaian (anda) tidak mau bayar, busnya saya tahan gak bisa keluar!” tegas Busahra dengan nada mengancam.

Mendapat ancaman tersebut Tour Leader kemudian meminta tanda bukti, namun Busahra berkelit dan bertingkah berbelit-belit dengan alasan tanda bukti tersebut berada di rumah. Sebuah alasan tak masuk akal dan jauh dari kata profesional. Namun Tour Leader meminta Busahra untuk mengambil tanda bukti tersebut.

“Ambil aja tanda buktinya, saya gak akan kabur!” ucap Timothy. Namun ternyata tanda bukti yang diberikan hanyalah sebuah kwitansi abal-abal dengan tulisan tangan tanpa adanya stempel desa ataupun keterangan yang membuktikan bahwa tanda terima tersebut asli dari Desa. Bahkan Busahra juga menantang meskipun pihak rombongan wisatawan melaporkan hal tersebut ke kepolisian, dirinya tak takut dan terkesan justru meremehkan aparat.

“Sampaian laporkan saya tidak takut!” ucap Busahra dengan Jumawa. Akhirnya pihak wisatawan terpaksa memberikan uang tersebut kepada Busahra, karena mengutamakan rombongan wisatawan yang merasa tersandera dan mengalami trauma. Perjalanan wisata ke Banyuwangi yang mempunyai pesona alam memukan yang seharusnya menjadi sukacita akhirnya menjadi pengalaman dukacita yang meninggalkan trauma.

Yang lebih membingungkan, apakah saat ini warga sipil mempunyai kuasa dan kredibilitas untuk memposisikan diri sebagai pengawal dengan bayaran tertentu kepada wisatawan? Ataukah ada pembiaran dari pihak-pihak terkait, mengingat ternyata kejadian seperti ini ternyata kerap dialami oleh rombongan wisatawan. Info/red