
Sidoarjo,pustakalewi.com – Sejak tahun 2017, Sri Tjahyaningsih bersama suami, Agung Wahyu Winadi mengisi waktu senggangnya setiap hari dengan merajut. Tentunya tak luput dari perkembangan jaman, pasangan suami istri ini pun memulai usaha dari rumah dengan berjualan tas, gantungan kunci, topi dan juga sepatu yang dirajut dengan tangan secara online.
Sri Tjahyaningsih yang akrab dipanggil Oma Pit (Oma Pipit) akhirnya memiliki produknya sendiri yang bernama “Omapit Rajut dan Sol Sepatu” yang kini berlokasi di Pesona Sekar Gading blok A-6 Sekardangan, Sidoarjo.
Berbagai macam jenis sol sepatu mulai dari anak-anak hingga dewasa baik pria maupun wanita tersedia dengan segala ukuran. Usahanya pun semakin dikenal dan berkembang pesat sehingga memiliki banyak agen resmi untuk penjualan sol sepatu rajut.
Pasangan suami istri ini pun terbesit angan-angan untuk memberikan kado pada saat hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-76, maka tercetuslah ide secara gotong royong untuk membuat bendera merah putih terbesar dari rangkaian rajut dengan cara memberikan informasi melalui media sosial @crochetforindonesia.
Agendanya adalah para peserta yang sukarela memberikan waktu beserta tenaganya untuk menyumbangkan Granny Block (pola rajut berbentuk persegi) dengan cara mendaftar ke Omapit Rajut, lalu akan diinstruksikan untuk pembuatan pola rajut tersebut.

“Para peserta yang telah mendaftar hingga akhir Mei 2021 ini membuat di rumah masing-masing yaitu satu pcs Granny Block dan mengirimkan rajutan berwarna merah atau putih yang telah ditentukan sesuai kebutuhan yang berukuran 30×30 cm ke alamat rumah Oma Pit, setelah itu setiap bagian dari rajutan berukuran persegi tersebut disambung menjadi satu bagian oleh Oma Pit.” Ujar Agung.
Meski dalam keadaan pandemi, hal ini tidak menjadi halangan bagi para peserta yang antusias untuk mengikuti dan menjadi bagian dari sejarah pada tahun 2021 dengan harapan hasil karyanya akan tercatat di Museum Rekor Indonesia.
“Tentunya hal ini tidak mudah, namun kami sangat senang mendapatkan antusias yang besar dari para perajut di seluruh Indonesia. Beberapa Granny Block yang dikirimkan ke rumah kami juga ada yang tidak sesuai ukuran, alhasil kami menambahkan kembali rajutannya agar mempermudah untuk penyambungan bendera merah putih dari hasil karya teman-teman pecinta rajut.” Lanjut Agung menambahkan.
Dalam waktu 2,5 bulan saja, semua persyaratan dan kriteria untuk pendaftaran telah diselesaikan dengan baik dan pada tanggal 17 Agustus 2021, Museum Rekor Indonesia atau MURI telah mencatat Bendera Merah Putih Terbesar dari Rangkaian Rajut Pertama di Indonesia dalam kategori Seni dan Budaya. Dengan ukuran 4 meter x 6 meter dan berat hingga 50 kg yang dikerjakan oleh total 350 peserta dan dibentangkan oleh perwakilan para Rajuters Nusantara di Pandurata, Prigen, Jawa Timur tentunya sesuai dengan protokol kesehatan.

Gelaran ini juga merupakan salah satu persyaratan untuk validasi Rekor MURI, bendera merah putih dari rangkaian rajut ini pun sudah dikirimkan ke Jakarta dan dokumentasi secara virtual juga telah dikirimkan ke tim validasi.
Bendera Merah Putih Terbesar Pertama di Indonesia dari rangkaian rajut ini bisa Anda lihat di Museum Rekor Indonesia di Jakarta. “Tentunya dengan pencapaian rekor MURI ini kami berharap dapat memotivasi para pelaku kreatif di Indonesia khususnya para penggemar rajut supaya dapat berkembang dan bisa merambah ke ranah internasional dan juga menjadi kebanggaan Indonesia.” info/red

Berita Lainnya
YELLO Hotel Jemursari Surabaya Hadirkan Wedding Showcase dengan tema “Timeless Intimacy”
Kolaborasi Swiss-Belinn Malang, RSU BRI Medika, dan UMM Tingkatkan Awareness Kesehatan Mental melalui Health Expo
The Alana Surabaya Rayakan Anniversarynya yang ke-13