
Surabaya – Meski aktivitas Gunung Anak Krakatau telah mereda, statusnya masih berada pada Level III (Siaga), sehingga masyarakat tetap perlu mewaspadai paparan abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan, khususnya sistem pernapasan.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Petra sekaligus spesialis pulmonologi dan respirasi, dr. Venny Singgih, Sp.P., menjelaskan material erupsi terdiri atas partikel dan gas. Partikel mikroskopis seperti PM10, PM2,5, serta debu silika kristalin dapat masuk hingga saluran napas bawah dan alveoli.
Paparan akut dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit, batuk, sesak napas hingga penurunan saturasi oksigen, sedangkan paparan silika dalam jangka panjang dapat memicu silikosis dan fibrosis paru yang bersifat permanen.
Untuk mencegah dampak kesehatan, masyarakat yang terpapar abu vulkanik dianjurkan segera berlindung di dalam rumah dengan menutup pintu dan jendela, membilas mata menggunakan air bersih tanpa menguceknya, serta melepas dan mengamankan pakaian yang terkena debu sebelum mandi.
Masyarakat di wilayah rawan juga perlu menyiapkan perlindungan diri berupa goggles, masker penyaring partikel seperti N95, dan pakaian tertutup. Kelompok rentan, seperti penderita asma, anak-anak, bayi, dan lansia, juga perlu memastikan obat rutin, termasuk inhaler, selalu tersedia.
Dr. Venny mengimbau masyarakat tidak panik dan tetap memantau perkembangan situasi melalui sumber resmi. Pembersihan abu vulkanik juga harus dilakukan secara aman dengan menghindari penggunaan sapu atau alat peniup debu yang dapat menerbangkan kembali partikel ke udara.
Debu sebaiknya dibersihkan menggunakan lap basah atau vacuum cleaner, sementara masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Info/red

Berita Lainnya
UK Petra Resmikan Batik Corner Dengan Konsep Madura Pesisir
UK Petra Ajak Mahasiswa Rawat Identitas Arsitektur Indonesia
UC Beri Pembekalan Bagi 100 Dosen Dampingi 1.000 Mahasiswa Magang