15 July 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Membangun Budaya Peduli Lingkungan Sejak Dini Melalui Inovasi Pengolahan Sampah Organik

56 / 100 SEO Score

KKN Untag sampah organik

Persoalan sampah hingga saat ini masih menjadi salah satu tantangan lingkungan yang perlu mendapatkan perhatian serius. Berdasarkan pengalaman kami dalam kegiatan pengabdian masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), permasalahan sampah bukan hanya berkaitan dengan jumlah limbah yang terus meningkat, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana masyarakat memahami dan mengelola sampah tersebut.

Salah satu jenis sampah yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari adalah sampah organik, seperti sisa makanan, daun kering, dan limbah dapur. Sampah jenis ini sebenarnya memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan kembali, namun masih banyak yang berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa melalui proses pengolahan. Jika kondisi tersebut terus berlangsung, maka volume sampah akan semakin meningkat dan dapat memberikan dampak terhadap kualitas lingkungan.

Sebagai mahasiswa yang terlibat langsung dalam kegiatan pengabdian masyarakat, kami melihat bahwa perubahan perilaku menjadi aspek penting dalam menyelesaikan persoalan sampah. Teknologi memang dapat membantu proses pengolahan, tetapi keberhasilan pengelolaan sampah tetap bergantung pada kesadaran dan kebiasaan masyarakat dalam memperlakukan sampah sejak dari sumbernya.

Melalui kegiatan KKN, kami berupaya menghadirkan solusi yang sederhana namun dapat diterapkan melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan penggunaan LAHSAMOR (Alat Pengolah Sampah Organik) kepada para guru di MI Daroyissalam, Desa Kertosono, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata dalam mengenalkan alternatif pengelolaan sampah organik yang lebih ramah lingkungan.

Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, kami bersama tim memberikan pemahaman kepada para guru mengenai pentingnya mengenali jenis sampah organik, melakukan pemilahan sampah sejak awal, serta memahami proses pengolahan menggunakan alat LAHSAMOR. Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti demonstrasi penggunaan alat agar dapat memahami secara langsung bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan dalam pengelolaan sampah di lingkungan sekolah.

Kami memilih guru sebagai sasaran utama kegiatan karena guru memiliki peran penting dalam membangun karakter peduli lingkungan pada peserta didik. Sekolah bukan hanya tempat untuk memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga tempat membentuk kebiasaan dan nilai positif dalam kehidupan sehari-hari. Melalui keterlibatan guru, edukasi mengenai pengelolaan sampah diharapkan dapat diteruskan kepada siswa melalui kegiatan pembelajaran maupun budaya sekolah.

Sebagai Dosen Pembimbing Lapangan, kami melihat kegiatan seperti ini memiliki nilai penting dalam memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat. Mahasiswa tidak hanya belajar memahami kondisi nyata di lapangan, tetapi juga diberikan kesempatan untuk menerapkan ilmu pengetahuan melalui solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pendampingan terhadap kegiatan KKN juga menjadi bagian dari upaya memastikan program yang dilakukan memiliki manfaat dan keberlanjutan.

Penerapan teknologi LAHSAMOR di lingkungan sekolah merupakan salah satu langkah sederhana dalam mendukung pengelolaan sampah berbasis sumber. Sisa makanan maupun limbah organik dari lingkungan sekolah memiliki peluang untuk diolah menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan kembali. Dengan demikian, sampah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang dapat memberikan manfaat.

Dari kegiatan ini, kami memahami bahwa penyelesaian persoalan sampah tidak cukup hanya melalui penyediaan teknologi. Hal yang lebih penting adalah membangun kesadaran dan membentuk kebiasaan baru dalam masyarakat. LAHSAMOR menjadi alat pendukung, sedangkan perubahan perilaku menjadi kunci utama keberhasilan pengelolaan sampah.

Melalui kolaborasi antara mahasiswa, dosen, guru, dan masyarakat, kami berharap kegiatan pengabdian seperti ini dapat terus dikembangkan di berbagai lingkungan pendidikan. Sekolah yang mampu menerapkan pengelolaan sampah secara mandiri dapat menjadi contoh bagi lingkungan sekitarnya dan membantu membangun generasi yang lebih peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.

Pada akhirnya, sampah bukan hanya persoalan yang harus diselesaikan, tetapi juga peluang untuk menciptakan perubahan. Dengan pengetahuan, kepedulian, dan tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten, lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan dapat diwujudkan bersama.

Penulis: Mohammad Khakim Ardiansyah (Mahasiswa Peserta KKN)
Dibawah Dosen Pembimbing Lapangan Daffa Dwi Sri Diyanti, S.Psi., M.Psi.

56 / 100 SEO Score