
“Bangun Bangsa: Sekolah Berasrama yang Menjadi Pelabuhan Harapan bagi Anak Berkebutuhan Khusus”
Surabaya – Di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya, terselip sebuah pelabuhan kecil yang penuh kehangatan: Sekolah Luar Biasa (SLB) Bangun Bangsa. Sekolah ini bukan sekadar tempat belajar, tapi juga rumah yang memberikan cahaya bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Kisahnya berawal dari sebuah niat tulus pada tahun 1999 di Kindang Kulon. Saat itu, Kepala Sekolah Octalia Pramurdiasti memulai perjalanan panjangnya dengan memberikan bimbingan belajar kepada anak Pak Haji. Dari ketulusan itu, benih kebaikan tumbuh. Pada 2006, sekolah ini berpindah ke Jalan Oro-oro II Nomor 35, Kecamatan Tambaksari, Surabaya, Jawa Timur, tempatnya kini berdiri.
SLB Bangun Bangsa adalah sekolah swasta berakreditasi B yang membuka peluang seluas-luasnya. Sekolah ini melayani berbagai kebutuhan, mulai dari disabilitas fisik seperti tunanetra, tunarungu, dan tunadaksa, hingga hambatan intelektual seperti tunagrahita dan lamban belajar. Juga diterima anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD), ADHD, gangguan belajar spesifik (disleksia, disgrafia, diskalkulia), gangguan komunikasi, anak berbakat istimewa, dan tunalaras.
Faktor yang membuat sekolah ini begitu istimewa adalah fasilitas asrama yang menyambut anak-anak dari jenjang TK hingga SMA. Dari total 114 siswa, asrama menjadi rumah bagi mereka yang merindukan kasih sayang keluarga—sebagian adalah anak yatim atau yang telah ditinggalkan orang tuanya. Pada tahun 2026, ada 11 anak yang menghuni asrama, terdiri dari 9 anak laki-laki dan 2 anak perempuan dari 114 siswa yang terdaftar. Meski begitu, Bangun Bangsa tetap membuka pintu lebar bagi peserta didik baru
Dengan 18 guru yang berdedikasi, sistem pembelajaran diatur dengan penuh perhatian. TK dan SD digabung dalam satu kelas, sementara SMP dan SMA dipisahkan. Sekolah ini memiliki enam ruang kelas—empat di lantai dua dan dua di lantai satu. Pembelajaran dibagi dalam dua waktu: kelas pagi dan kelas siang, di mana kelas pagi berfungsi sebagai kelas persiapan untuk jenjang yang lebih tinggi.
Kehidupan di asrama mengajarkan lebih dari sekadar pelajaran akademik. Setiap Jumat, anak-anak diajak beribadah ke gereja, sementara pengajian juga disediakan bagi yang beragama Islam. Di sini, perbedaan bukanlah pemisah, melainkan benang yang merajut kebersamaan.
SLB Bangun Bangsa adalah bukti bahwa dari kesederhanaan dan kepedulian, lahir harapan-harapan baru yang kokoh. Setiap anak, dengan keunikan masing-masing, ditemani untuk tumbuh dan menemukan cahayanya sendiri. info/red/pram

Berita Lainnya
Rayakan 10 Tahun BINUS @Malang, Cetak Talenta Digital Berdaya Saing Global
Pemkab Kediri Siapkan Anggaran Rp30 M untuk Beasiswa Tahun Ini
Dokter UK Petra Ingatkan Risiko Fenomena Bediding, bagi Kelompok Rentan