8 August 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Gubernur BI: Indikator Ekonomi Kuartal II Terus Menguat

9 / 100 SEO Score
logo bi 1

Surabaya – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, peningkatan aktivitas perekonomian pada kuartal II 2022 menjadi berkah bagi prospek pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang ikut menguat.

Perry Warjiyo menyebut, peningkatan aktivitas perekonomian ini tercermin dari sejumlah indikator dini, yang didukung oleh meningkatnya mobilitas masyarakat dan pembiayaan dari perbankan.

“Beberapa indikator dini nampak positif, seperti penjualan eceran, ekspansi PMI Manufaktur, dan realisasi ekspor impor yang tetap tinggi,” tutur Perry Warjiyo dalam pembacaan hasil RDG BI Mei 2022 secara daring, Selasa (24/5/2022).

Ia mengatakan, berlanjutnya geliat aktivitas ekonomi di kuartal II didukung oleh berbagai indikator yang memang sudah meningkat juga di kuartal I 2022.

Sebagaimana diketahui, pertumbuhan ekonomi selama tiga bulan pertama tahun ini mencapai 5,01% year on year (yoy). Perkembangan ini terutama didorong oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi bangunan, dan terjaganya kinerja ekspor seiring peningkatan mobilitas masyarakat dan permintaan mitra dagang utama yang masih kuat.

Selanjutnya, dukungan dari kinerja positif mayoritas lapangan usaha, seperti industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta transportasi pergudangan. Secara spasial, nampak di seluruh kelompok provinsi di Indonesia.

“Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi 2022 diperkirakan tetap berada dalam kisaran proyeksi Bank Indonesia 4,5% hingga 5,3%,” tandasnya.

Sebelumnya, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI 7 Days Reverse Repo Rate) di posisi 3,5%.

Keputusan itu diumumkan Gubernur BI Perry Warjiyo, seusai rapat Dewan Gubernur BI, Selasa (24/5/2022).

Selain itu, Bank Indonesia juga menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, keputusan mempertahankan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan terkendalinya inflasi. Selain itu juga untuk tetap mendorong pertumbuhan, di tengah tekanan eksternal yang meningkat. Info/red

9 / 100 SEO Score