
Surabaya,pustakalewi.com – Berbekal dedaunan dan bunga, Dwi Sabda Irawati (39), berhasil menjadikan kain dan kulit memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Dedaunan dan bunga-bunga disulap sebagai bahan untuk memberikan corak pada kain dan kulit. Sehingga menimbulkan lukisan alami dari dedaunan dan bunga.
Berawal dari tidak sengaja yang kemudian menjadi hobi, ibu rumah tangga yang tinggal di Jalan Empu Nalar Nomer 10 Keluarahan Kepanjen, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang ini menekuni usaha di bidang natural tekstil dan kulit.
Dalam proses pembuatannya, wanita yang akrab disapa Sabda ini menggunakan teknik ecoprint. Teknik ecoprint merupakan proses mencetak dengan menyertakan dedaunan dan bunga. Sehingga menghasilkan kain dengan motif unik dan alami, warnanya pun lebih natural.

“Saya sudah hampir tiga tahun ini menekuni usaha tersebut,” terangnya saat dihubungi Pustakalewi.com Minggu, (19/09/2021).
Produk yang dihasilkan antara lain pakaian, syal, kerudung, tas, dan juga sepatu dan sandal.
Kain yang diproduksi dengan teknik ecoprint ini memiliki proses yang cukup panjang. Mulai dari teknik mordan (mordanting) sampai dengan teknik dikunci atau fiksasi. Minimal proses pengerjaan 10 hari.
Sabda mengaku, tujuan utama menekuni bisnis ecoprint adalah pelestarian lingkungan. Hal ini dibuktikan dengan pewarnaan menggunakan kunyit, mahoni dan pewarna alami lainnya.
Selain itu, ia juga menanam tumbuh-tumbuhan sendiri sebagai bahan ecoprint di pekarangan depan rumahnya.

“Untuk daun yang digunakan sebagai motif itu ada daun jati, daun lanang, daun jarak dan bunga kamboja,” imbuhnya.
Tak disangka, usaha yang ia tekuni ini sudah sampai keluar negeri. Seperti Hongkong dan Malaysia.
Dalam satu bulan omzet yang didapat bisa mencapai Rp 30 juta.Tak cukup puas dengan dedaunan dan bunga, Sabda melakukan inovasi baru dengan membuat model sepatu yang dikombinasi tumbuhan eceng gondok.

“Banyak orang mengganggap eceng gondok sebagai tanaman pengganggu. Jadi saya ingin coba menaikkan kelasnya dengan membuat sepatu berbahan eceng gondok,” tuturnya.
Untuk mengembangkan usaha ini Sabda tidak sendiri, dia berhasil mengajak warga sekitar dan komunitas wanita yang ada di gerejanya untuk bersama-sama mengerjakan usaha ecoprint tersebut
Memanfaatkan media dan teknologi, ibu paruh baya ini menjual dagangannya di marketplace dan juga sosial media. Selain itu ia bekerjasama dengan Mirota (pusat kerajinan dan oleh oleh) yang ada di Surabaya.
Harga pakaian yang ia dipatok sekitar Rp 250 ribu sampai Rp 1,8 juta per item, kain Ecoprint paling murah Rp 250 ribu sampai Rp 2 juta. Sedangkan harga sepatu dan sandal ecoprint dibanderol sekitar Rp 250 ribu sampai Rp 1,5 juta. Guna menembus masyarakat kelas menengah ke bawah, Sabda meluncurkan produk tote bag, pounch bag, dan t-shirt (kaos) dengan harga di bawah Rp 100 ribu. Info/red

Berita Lainnya
Pedagogi Ekologis dan Etika Kemanusiaan, Refleksi Kritis Airlangga Pribadi Kusman dalam Seminar Nasional AIPI-UKWMS
BI Luncurkan Kartu Kredit Indonesia, Perluas MDR QRIS 0 Persen
KPPU Gelar Sosialisasi Guna Perkuat Pemahaman Kemitraan dan Persaingan Usaha