
Surabaya – Perkembangan teknologi yang pesat telah mendorong digitalisasi di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia perbankan. Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Vera Eve Lim, menyikapi fenomena ini dengan melihatnya sebagai keniscayaan. Di BCA, 91% transaksi keuangan dilakukan melalui mobile banking atau internet banking seperti KlikBCA.
Meskipun demikian, Vera menyatakan bahwa BCA tetap memosisikan diri sebagai bank hybrid yang dapat melayani nasabah melalui berbagai saluran. “Tentunya BCA memosisikan diri sebagai bank hybrid, bisa ke cabang, bisa melalui mobile banking. Jika pelanggan ingin bertanya atau membutuhkan bantuan, mereka dapat melalui layanan halo BCA tanpa perlu ke kantor cabang,” kata dia.
Vera menyoroti bahwa bank digital yang berkembang saat ini memiliki pangsa pasar yang terbatas dan tidak seluas bank hybrid. Kemampuannya dalam melayani nasabah juga terbatas untuk segmen tertentu, terutama segmen retail dan anak-anak muda.
Sementara itu, dalam hal segmentasi, BCA selalu memosisikan diri sebagai bank hybrid yang melayani semua segmen di Indonesia. “Prioritas kami untuk semua segmen, baik korporasi, UMKM, maupun konsumen, semuanya sama. Kami berharap semua segmen dapat tumbuh bersama,” kata Vera.
Bank BCA juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berlanjut, tercermin dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) per kapita saat ini sekitar US$5.200.
“Kami memperkirakan pada tahun 2030, itu akan mencapai antara US$ 8.000 hingga US$ 10.000. Jika pertumbuhan ini terjadi, pertumbuhan middle class juga akan meningkat,” ungkap Vera.
“Kebutuhan pembiayaan, konsumsi, atau bisnis, saya yakin akan terus meningkat, jadi kami sangat optimistis dengan pertumbuhan lima tahun ke depan,” tambahnya. info/red

Berita Lainnya
ignitePRO Hadir di BATIC 2026, Dorong Transformasi AI ke Aksi Nyata
BATIC 2026 Buka Babak Baru Transformasi Digital Asia Pasifik
KKI 2026 Dorong UMKM Bangkit, Puluhan UMKM Binaan BI Jatim Ikut Pameran