19 January 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Sebanyak 80 Karya Tampil di Gelar Karya SMP Labschool Unesa 3

58 / 100 SEO Score

Lab School event

Surabaya – Sebagai puncak proyek kelulusan siswa kelas 9, SMP Labschool Unesa 3 Surabaya menampilkan 80 karya orisinal dalam sebuah gelar karya bertajuk “Dream it, Make it, Be it!”. Kegiatan ini digelar di Mall Ciputra World Surabaya selama dua hari, menjadi bagian dari implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam Kurikulum Merdeka.

Menurut Kepala SMP Labschool Unesa 3, Dian Hijrah Saputra, kegiatan ini bukan hanya ajang pameran, tetapi juga ruang bagi siswa untuk menunjukkan potensi, ide, dan inovasi yang telah mereka kembangkan selama satu semester terakhir.

“Karya yang dihasilkan tahun ini jauh lebih beragam dan inovatif. Ada 80 produk yang semuanya dipresentasikan oleh siswa secara langsung kepada dewan juri,” ungkap Dian saat ditemui di lokasi acara, Selasa (3/6).

Beragam tema mewarnai karya yang ditampilkan, mulai dari Teknologi, Seni dan Mode, hingga Produk Ramah Lingkungan. Beberapa produk menarik di antaranya Smart Home berbasis digital, busana rancangan sendiri, lagu orisinal, komposter vertikal, hingga makanan sehat seperti Bakso Sehat tanpa bahan pengawet.

Tidak hanya itu, karya dalam bidang Literatur dan Edukasi juga tak kalah mencuri perhatian. Misalnya, Flash Card untuk belajar huruf Jepang Hiragana, buku cerita anak, hingga produk bertema Arsitektur dan Inovasi, seperti Exo Enzim Shampo dan simulasi abrasi pantai sebagai sarana edukasi kebencanaan.

Menurut Dian, selain menghasilkan karya, siswa juga diminta untuk mempertanggungjawabkan idenya secara langsung lewat sesi presentasi. “Juri akan bertanya secara mendalam. Kalau karyanya bukan buatan sendiri, pasti ketahuan. Ini sekaligus menguji pemahaman dan tanggung jawab mereka,” jelasnya.

Lebih dari sekadar proyek kelulusan, Dian menyebut kegiatan ini sebagai bentuk nyata pembentukan karakter sesuai nilai-nilai Pelajar Pancasila: kreatif, mandiri, peduli lingkungan, serta mampu bekerja sama.

“Yang ingin kami tanamkan adalah kemampuan untuk menghubungkan teori dengan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Bukan sekadar tahu, tapi bisa membuat dan menjelaskan,” katanya.

Antusiasme terhadap acara ini juga datang dari para wali murid. Retno, orang tua siswa kelas 7, menilai gelar karya ini membuka wawasan anak dan orang tua sejak dini soal pentingnya pengembangan soft skill.

“Ini bukan hanya soal nilai akademik. Anak-anak juga belajar cara berpikir kritis, komunikasi, dan keberanian tampil. Pengalaman ini bisa mereka bawa sampai SMA bahkan kuliah nanti,” ujar Retno.

Ia juga mengapresiasi langkah sekolah yang membuka kesempatan bagi siswa kelas 7 dan 8 untuk ikut menyaksikan proses presentasi. “Sebagai orang tua murid kelas tujuh, saya merasa lebih siap untuk mendampingi anak saat nanti mereka juga menjalani proyek kelulusan,” tambahnya. Info/red

58 / 100 SEO Score