
Pustakalewi.com – Harga minyak sedikit lebih tinggi pada hari Selasa karena pemerintah Amerika Serikat (AS) memperkirakan rekor konsumsi minyak bumi global tahun depan dan karena dolar melayang di posisi terendah tujuh bulan.
Mengutip Reuters, konsumsi global bahan minyak diperkirakan akan mencapai 102,2 juta barel per hari pada tahun 2024. Jumlah tersebut didorong oleh pertumbuhan di negara-negara seperti India dan China yang mencerminkan tren dalam kegiatan ekonomi.
Brent berjangka naik 45 sen atau 0,6 persen menjadi USD 80,10 per barel, sementara minyak mentah AS berakhir 49 sen atau 0,6 persen lebih tinggi menjadi USD 75,12 per barel.
Sementara saat ini, pasar juga menunggu kejelasan tentang rencana Federal Reserve AS atau The Fed untuk menaikkan suku bunga setelah Ketua Fed Jerome Powell menghindari komentar tentang kebijakan moneter dan ekonomi pada simposium. Investor sekarang melihat data indeks harga konsumen AS pada hari Kamis untuk indikasi prospek jangka pendek.
Tamas Varga dari pialang minyak PVM mengatakan dolar akan jatuh jika inflasi datang di bawah ekspektasi atau di bawah pembacaan November. Dolar melayang di sekitar level terlemahnya dalam tujuh bulan.
“Dolar yang lebih lemah dapat meningkatkan permintaan minyak, karena komoditas berdenominasi greenback menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya,” ujar Varga.
Sementara itu, Gubernur Fed Michelle Bowman mengatakan bank sentral AS harus menaikkan suku bunga lebih lanjut untuk memerangi inflasi yang tinggi dan kemungkinan akan menyebabkan kondisi pasar kerja yang lebih lemah.
Namun, para analis mengatakan kebangkitan permintaan China mungkin hanya memberikan dukungan terbatas pada harga minyak di bawah tekanan ke bawah dari ekonomi global.
“Mengingat pemulihan konsumsi masih pada tahap yang diharapkan, harga minyak kemungkinan besar akan tetap rendah dan terikat kisaran,” kata analis dari Haitong Futures.
Bank Barclays menyoroti penurunan USD 15-25 per barel dari perkiraan Brent USD 98 per barel untuk tahun 2023 jika kemerosotan dalam aktivitas manufaktur global memburuk serupa dengan episode 2009-09.
Goldman Sachs memperkirakan bahwa pertumbuhan kemampuan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk menaikkan harga tanpa terlalu banyak menekan permintaan akan membatasi risiko penurunan perkiraan minyak bullish untuk tahun 2023. Info/red

Berita Lainnya
Mulcindo Ikut Serta di INDOBUILDTECH 2026, Hadirkan Beragam Produk Material Bangunan Berkualitas
inDrive Terapkan Perpres Perlindungan Pekerja Transportasi Online, Tegaskan Komitmen terhadap Kesejahteraan Pengemudi
Pasar Ekspor Sepi, HIPKI: Sudah Waktunya Pemerintah Serius Membenahi Tataniaga Kelapa Bulat