3 July 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Pentingnya Komunikasi Pariwisata bagi Generasi Z dalam Memperkenalkan Potensi Wisata Pantai Selok Malang

50 / 100 SEO Score
Suasana Pantai Selok Malang
Suasana Pantai Selok Malang

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pariwisata, terutama dalam cara masyarakat mencari dan memperoleh informasi mengenai suatu destinasi wisata. Generasi Z sebagai generasi yang lahir dan tumbuh di era internet memiliki kebiasaan mengakses informasi melalui media sosial, website, maupun berbagai platform digital lainnya. Sebelum memutuskan untuk berkunjung ke suatu tempat, mereka cenderung mencari ulasan, foto, video, hingga pengalaman wisatawan lain yang telah lebih dahulu datang. Oleh karena itu, komunikasi pariwisata menjadi aspek yang sangat penting dalam memperkenalkan dan mempromosikan potensi wisata kepada masyarakat, khususnya Generasi Z.

Komunikasi pariwisata tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyebaran informasi, tetapi juga menjadi alat untuk membangun citra positif suatu destinasi sehingga mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung Melalui pengamatan yang dilakukan oleh Sheila Adelia Permata Putri, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Pantai Selok merupakan salah satu destinasi wisata yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui strategi komunikasi pariwisata yang efektif. Pengamatan ini juga sejalan dengan pembelajaran Komunikasi Pariwisata yang dibimbing oleh Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A, yang menekankan pentingnya komunikasi sebagai sarana untuk memperkenalkan, membangun citra, serta meningkatkan daya tarik suatu destinasi wisata kepada masyarakat luas, khususnya Generasi Z yang sangat dekat dengan perkembangan media digital.

Pantai Selok merupakan salah satu destinasi wisata yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui strategi komunikasi pariwisata yang efektif. Pantai ini berada di kawasan Malang Selatan dan berjarak sekitar 60–65 kilometer dari pusat Kota Malang. Letaknya yang cukup terpencil membuat Pantai Selok belum sepopuler beberapa pantai lain di wilayah Malang. Padahal, pantai ini menawarkan keindahan alam yang masih asri dengan suasana yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, sehingga cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati wisata alam secara lebih dekat dan autentik.

Pada awalnya, kawasan Pantai Selok hanya ditempati oleh masyarakat setempat dan para nelayan. Selain digunakan sebagai tempat mencari nafkah, wilayah pantai ini juga sering dimanfaatkan sebagai lokasi meditasi dan pelaksanaan berbagai ritual adat oleh masyarakat sekitar. Kehidupan masyarakat yang masih dekat dengan tradisi menjadikan Pantai Selok memiliki karakteristik budaya yang khas. Keunikan lain dari pantai ini terletak pada asal-usul namanya yang memiliki cerita sejarah tersendiri. Pada sekitar tahun 1900, Belanda datang ke kawasan tersebut untuk mengambil sarang burung walet yang terdapat di tebing-tebing pantai. Aktivitas tersebut dilakukan berulang kali sehingga menarik perhatian masyarakat sekitar. Masyarakat yang menyaksikan kegiatan tersebut dari kejauhan merasa heran sekaligus kesal karena sering melihat orang-orang mengambil sarang walet di kawasan tersebut. Dari peristiwa itulah muncul istilah “Selok” yang berasal dari ungkapan Jawa “kesel oleh ndelok“, yang berarti “kesal karena melihat”. Ungkapan tersebut merujuk pada kebiasaan masyarakat yang melihat dari kejauhan aktivitas pengambilan sarang burung walet yang terus dilakukan. Seiring berjalannya waktu, istilah tersebut kemudian melekat dan menjadi nama resmi pantai yang dikenal hingga saat ini.

Dalam konteks komunikasi pariwisata, Pantai Selok merupakan destinasi yang memiliki banyak nilai jual yang dapat dipromosikan kepada Generasi Z. Pantai Selok merupakan destinasi wisata alam yang menawarkan keindahan pantai, sejarah, serta budaya lokal yang unik sebagai daya tarik utama. Pengenalan dan promosi destinasi ini dapat dilakukan oleh pemerintah daerah, pengelola wisata, masyarakat setempat, wisatawan, maupun kreator konten digital yang aktif membagikan pengalaman perjalanan mereka. Pantai Selok berada di wilayah Malang Selatan dengan jarak sekitar 60–65 kilometer dari pusat Kota Malang. Komunikasi pariwisata perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama menjelang musim liburan, akhir pekan, maupun saat terdapat kegiatan budaya yang dapat menarik minat wisatawan. Upaya komunikasi tersebut penting karena masih banyak masyarakat yang belum mengetahui keberadaan Pantai Selok beserta potensi wisata yang dimilikinya. Adapun cara yang dapat dilakukan untuk memperkenalkan Pantai Selok kepada Generasi Z adalah melalui pemanfaatan media sosial seperti Instagram, TikTok, YouTube, website pariwisata, serta kolaborasi dengan influencer atau content creator yang memiliki jangkauan audiens luas.

Bagi Generasi Z, daya tarik suatu destinasi wisata tidak hanya terletak pada keindahan tempatnya, tetapi juga pada cerita dan pengalaman yang ditawarkan. Oleh karena itu, komunikasi pariwisata yang efektif harus mampu mengemas informasi mengenai Pantai Selok secara menarik dan mudah dipahami. Cerita mengenai asal-usul nama pantai, tradisi masyarakat setempat, aktivitas nelayan, serta pemandangan alam yang masih alami dapat menjadi konten yang menarik untuk dibagikan melalui berbagai platform digital. Dengan adanya komunikasi yang baik, Pantai Selok tidak hanya dikenal sebagai tempat wisata, tetapi juga sebagai destinasi yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang patut dilestarikan.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa komunikasi pariwisata memiliki peran yang sangat penting dalam memperkenalkan potensi wisata kepada Generasi Z. Pantai Selok merupakan contoh destinasi yang memiliki keindahan alam, sejarah, dan budaya yang unik, namun masih memerlukan promosi yang lebih luas agar dikenal oleh masyarakat. Melalui pemanfaatan media digital dan strategi komunikasi yang tepat, Pantai Selok dapat menarik lebih banyak wisatawan, meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar, serta menjaga keberlangsungan warisan budaya lokal. Oleh karena itu, komunikasi pariwisata tidak hanya berfungsi sebagai sarana promosi, tetapi juga sebagai jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Indonesia.

Penulis: Sheila Adelia Permata Putri (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya)

50 / 100 SEO Score