
Surabaya – Umat Katolik di seluruh dunia memasuki masa-masa penting dalam pertumbuhan iman mereka. Minggu Palma yang jatuh pada 29 Maret 2026, mengawali Pekan Suci. Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, dan Minggu Paskah berurutan menyusul setelahnya.
Humas Gereja Katedral Hati Kudus Yesus (KHY) Surabaya, Himawan, mengatakan bahwa pihaknya sudah mempersiapkan Pekan Suci sejak jauh-jauh hari. Termasuk, mengantisipasi lonjakan jumlah umat.
Ia mengatakan bahwa misa diikuti oleh lebih dari 2.000 umat pada tiap jadwalnya. Untuk Minggu Palma, HKY menyelenggarakan lima kali misa pada Minggu, 29 Maret 2026. Plus, satu kali misa pada Sabtu, 28 Maret 2026.
“Kami memang menyediakan 2.000 kursi, tapi sepertinya akan kami tambah. Umatnya terus bertambah tiap jam misa,” ujarnya.
Pesan Damai Paus Leo XIV Kritik Perang AS-Israel vs Iran
Yang khas dari Minggu Palma adalah pemberkatan dan perarakan daun palma atau palem sebelum misa dimulai. Biasanya, dilakukan di luar gedung gereja.
Itu adalah ritual untuk mengenang masuknya Yesus Kristus ke Kota Suci Yerusalem sesuai yang tertulis dalam kitab suci. Daun palma juga melambangkan bahwa Sang Juru Selamat masuk ke Yerusalem dengan damai.
Selain membawa damai, Yesus juga meneladankan kesederhanaan. Yesus yang oleh umat Katolik diimani sebagai Anak Allah yang Mahatinggi itu hadir di Yerusalem hanya dengan menunggang keledai.
Dengan kesederhanaannya, sebagaimana dinubuatkan oleh Nabi Zakharia, Yesus dielu-elukan. Orang-orang meletakkan jubahnya di jalan yang hendak dilalui Yesus. Sebagian yang lain meletakkan dedaunan dan ranting.
“Minggu Palma adalah awal dari penyambutan umat terhadap inti ajaran kekristenan,” kata Uskup Surabaya Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo usai memimpin misa pukul 10.00 WIB di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus (HKY) Surabaya.
Dalam homilinya (khotbahnya), rohaniwan yang akrab disapa MoDik atau Romo Didik itu menyampaikan pesan perdamaian seperti yang diserukan Paus Leo XIV.
“Perang tidak menyelesaikan masalah. Perang itu hanya menambah luka dan mempersulit masa depan,” ungkapnya mengacu pada Perang AS-Israel dan Iran.
Seperti pesan bapa suci, MoDik menegaskan bahwa konflik harus bisa diselesaikan lewat jalur diplomasi. Menurutnya, kontak senjata hanya akan membuat masalah tidak selesai, bahkan memicu timbulnya masalah-masalah baru.
“Selesaikan dengan komunikasi. Omong dan cari solusi yang terbaik, bukan dengan cara membunuh dan merusak,” tegasnya.
Pesan perdamaian seperti yang MoDik sampaikan juga terukir pada jubah liturgi para imam. Tepatnya, jubah liturgi merah dengan logo PX. PX adalah singkatan dari Pax et Bonum yang artinya damai dan segala kebaikan.
DAUN PALMA digenggam oleh para petugas paduan suara sembari melantunkan pujian kepada Tuhan dalam Misa Minggu Palma.-Boy Slamet-Harian Disway
Orang Katolik seperti Tanaman Palem
Dalam kesempatan itu, MoDik menceritakan perjumpaannya dengan salah seorang umat yang punya banyak tanaman palem. Tanaman itu ada di samping kiri dan kanan pagar.
Ketika ditanya apa tujuan menanam banyak palem, umat itu menjawab bahwa semuanya disediakan untuk umat lain yang membutuhkan daunnya pada Minggu Palma. Apalagi, tanaman palem alias palma relatif mudah ditanam. Perawatannya juga tidak sulit.
Jawaban itu membuat MoDik berefleksi. Ia lantas mengatakan bahwa orang Katolik dan tanaman palem punya kesamaan.
“Palem itu meskipun tidak dirawat secara khusus dan tidak dipupuk, tetap tumbuh subur. Demikian juga orang Katolik. Jarang-jarang merawat kesuburan imannya dan melakukan sakramen, tapi tetap diberi berkat yang subur oleh Tuhan,” paparnya.
Pesan MoDik itu membuat sebagian besar umat tersenyum. “Mungkin, Bapak Ibu dan Saudara sekalian bisa mulai menanam palma di rumahnya masing-masing. Merawatnya sederhana, berguna menjelang Paskah,” candanya. info/red

Berita Lainnya
BPJS Kesehatan Luncurkan PANDAWA, Layanan Chat 24 Jam
Dinas Perikanan Kabupaten Kediri Tingkatkan keterampilan budidaya ikan Lele
Perayaan 08 Tahun Himpunan Mahasiswa Papua UTM: Satu Tujuan, Satu Keluarga