
Surabaya,pustakalewi.com – Berawal dari keluhan petani Desa Munggugebang, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik terkait hama tikus yang menyerang padi di sawah mereka, para mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Narotama Surabaya yang sedang melakukan KKN di sana pun tergerak untuk memberikan solusi untuk masalah tersebut. Pasalnya, masalah hama tikus tersebut mengakibatkan hasil panen petani menjadi kurang maksimal.
“Berdasarkan permasalahan tersebut, kelompok KKN kami membuat alat pengusir hama tikus sederhana berbasis Internet of Things bernama Dual Sonic Pestrepeller. Alat tersebut kami bangun dengan komponen yang mudah dicari dan harga yang murah di kantong mahasiswa dengan kualitas yang standar,” kata Ketua Kelompok KKN, Arrahman Kaffi.
Ia melanjutkan, alat tersebut bekerja dengan mendeteksi adanya pancaran sinar infra merah dari suatu obyek. “Jadi, alat ini dapat mendeteksi radiasi dari berbagai obyek karena semua obyek memancarkan energi radiasi. Sebagai contoh, ketika terdeteksi sebuah gerakan dari sumber infra merah dengan suhu tertentu, yakni makhluk hidup baik manusia maupun hewan dengan radius 5 meter. Kemudian, setelah sensor mendeteksi obyek, secara otomatis speaker piezo akan berbunyi selama 1 menit dan mengirimkan notifikasi ke smartphone,” jelas mahasiswa Program Studi Sistem Informasi tersebut.
Meskipun dibuat dengan komponen yang sederhana, alat yang mereka buat itu mampu menanggulangi hama di sawah petani Desa Munggugebang terutama hama tikus dan burung yang sering mengganggu dan merusak area persawahan pada mitra kelompok KKN mereka. “Respon mitra KKN dan kepala dusun desa setempat sangat senang dengan alat ini. Dikarenakan salah satu faktor masalah pada sawah di Desa Munggugebang memang adalah hama tikus dan burung,” paparnya.
Pembuatan alat tersebut memang sedikit terkendala karena mereka yang merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer, kurang memahami tentang rangkaian elektronika. Tapi itu semua tidak menghalangi mereka untuk terus mencoba membuat alat tersebut sampai berhasil. “Kurang lebih kami membutuhkan waktu 1 bulan. Mulai dari perencanaan, perancangan, hingga akhirnya terbuatlah alat Dual Sonic Pestrepeller ini. Memang agak lama, tapi kami tidak menyerah untuk membantu para petani,” ujar Kaffi.

Berita Lainnya
BINUS @Malang Buka Beasiswa hingga 100 Persen, Siapkan Talenta Digital dan Technopreneur
Terpilih Jadi Ketum MUKI Sortaman Saragih Ungguli Jannus Hutapea
MUNAS III MUKI Berlangsung Damai, dr. Sortaman Saragih MARS Terpilih sebagai Ketua Umum