
Sorong, LewiNews – Konsultasi Nasional (Konas) XV Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen di Indonesia (JKLPK) resmi ditutup dalam ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Debora Mambrasar. Mengacu pada Mazmur 74:23, ibadah ini menjadi seruan pertolongan kepada Tuhan di tengah realitas eksploitasi lingkungan yang masih didukung oleh kekuatan yang besar. “Tuhan, tolong kami! Kami membutuhkan kekuatan dari-Mu,” demikian seruan yang menggema, menegaskan bahwa perjuangan keadilan adalah pergumulan iman.
Estafet Kepemimpinan Baru
Salah satu keputusan penting Konas adalah terpilihnya kepengurusan Pokja JKLPK yang baru:
· Ketua: Susi Rio Panjaitan (Region Jabodetabek)
· Sekretaris: Pdt. Ni Made Endang Beta (Region Bali)
· Bendahara: Sri Rahayu Ambarwati (Region Jawa Tengah)
Mereka diutus untuk menahkodai JKLPK dalam jangka waktu tiga tahun ke depan dalam keberpihakan yang semakin tajam kepada kelompok miskin, lemah, tertindas, dan menderita.

Seruan Sorong: Suara Gereja untuk Keadilan
Konas XV menghasilkan Seruan JKLPK yang menjadi sikap profetik organisasi menyikapi situasi bangsa. Berikut intisarinya:
1. Kebebasan Beribadah: Intoleransi, diskriminasi, dan regulasi daerah yang diskriminatif masih terjadi dan dibiarkan, menempatkan korban dalam posisi terus mengalah.
2. Demokrasi dan HAM: Pendekatan keamanan di Papua memperburuk situasi. JKLPK mendesak dialog berbasis budaya serta penyelesaian kasus HAM masa lalu yang berpihak pada korban.
3. Anak, Perempuan, dan Disabilitas: Kekerasan masih tinggi, penegakan hukum lemah, dan budaya patriarki memperparah ketimpangan.
4. Sumber Daya Alam: Kebijakan negara dituding berpihak pada investasi, menyebabkan kerusakan lingkungan, konflik agraria, dan hilangnya ruang hidup masyarakat adat.
5. Keadilan Iklim: Komitmen iklim tidak selaras dengan praktik. Industri ekstraktif terus beroperasi, mengabaikan hak masyarakat adat dan meningkatkan emisi.
6. Papua: Pembangunan masih eksploitatif. Tanah dan hutan dirampas, masyarakat adat tersingkir. “Papua bukan ruang kosong, melainkan wilayah hidup yang harus dihormati.”

Penegasan dan Pengutusan
Konas XV di Sorong menegaskan komitmen JKLPK untuk memperkuat advokasi, merumuskan program yang berpihak pada korban, dan mendesak pemerintah meninjau ulang proyek strategis nasional di Papua.
Ibadah diakhiri dengan momen sakral: setiap peserta menuliskan komitmen pribadi bagi pelayanan, dan Pokja yang baru resmi diutus. Dari Sorong, seruan kenabian telah dikumandangkan—panggilan untuk berlaku adil, mengasihi kesetiaan, dan berjalan rendah hati di hadapan Tuhan kini kembali dibawa ke seluruh penjuru negeri.
Sampai bertemu kembali di Konas JKLPK XVI di Manado, Sulawesi Utara.

Berita Lainnya
JKLPK Dorong Keadilan dan Pelestarian Lingkungan dalam Pembukaan Konas XV di Sorong
Persekutuan Doa YPPA Lahai Roi: Mazmur 88 dan Refleksi Pergumulan Mahasiswa
Pemuda GKJW Ngagel : Membara Bersama Tuhan dalam Setiap Aktivitas