1 March 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Kisah Dedikasi: Pengalaman Pengasuh dan Guru di Sekolah Luar Biasa Bangun Bangsa

61 / 100 SEO Score

WhatsApp Image 2026 01 22 at 14.00.05 1

Di Jalan Oro-oro II Nomor 35, Tambaksari, Surabaya, ada seorang pengasuh penuh kesabaran bernama Ibu Ngatining
Biasanya dipanggil bu Ning. Setiap hari, beliau mendampingi dua anak perempuan berkebutuhan khusus di Asrama SLB Bangun Bangsa. Beliau menjaga mereka membutuhkan energi dan perhatian yang jauh lebih besar, karena setiap anak memiliki keunikan dan kebutuhan khususnya sendiri.

Anak-anak perempuan di asrama ini tidur di aula sekolah yang disulap menjadi ruang istirahat. Fasilitas yang ada mungkin terlihat sederhana—hanya tikar yang di atasnya diletakkan kasur Busa yang dihampar di lantai sebagai alas tidur—namun di situlah kebersamaan dan rasa aman mereka tumbuh.

Ibu Ning telah mengabdi sebagai pengasuh sejak 2022. Pengalamannya tidak biasa; ia mendampingi anak-anak selama 24 jam penuh, termasuk ketika salah seorang dari mereka terbangun di malam hari dan melakukan aktivitas seperti merobek-robek kertas. Bagi Bu Ning, malam-malam sunyi itu adalah bagian dari komitmennya untuk memastikan anak-anak merasa selalu didampingi.

Selain para pengasuh, ada juga guru-guru yang dengan tekun menyalurkan harapan. Salah satunya adalah Bu Emma Hayati, S.Pi, dikenal dengan sebutan bu Emma. Beliau adalah seorang pengajar di Bangun Bangsa yang dengan bangga bercerita tentang anak didiknya yang berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Salah seorang alumnus sekolah ini, yang memiliki minat kuat pada dunia animasi—sejalan dengan pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial—kini mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di Universitas Katolik Widya Mandala. Prestasi ini bukan sekadar capaian akademis, melainkan bukti bahwa dengan dukungan yang tepat, anak berkebutuhan khusus juga dapat meraih mimpi dan berkontribusi di bidang yang mereka cintai.

Di balik fasilitas yang sederhana, yang tumbuh justru dedikasi tanpa batas. Dari tangan dan hati Ibu Ning, Bu Emma, serta seluruh keluarga besar Bangun Bangsa, setiap hari mereka membuktikan bahwa pendidikan inklusif tidak hanya tentang mengajar, tetapi tentang memberi hati, waktu, dan keyakinan bahwa setiap anak berhak untuk bersinar. Info/red/pram

61 / 100 SEO Score