3 September 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Kinerja BYD Semester I 2026 Tertekan, Ekspor Jadi Penyelamat

63 / 100 SEO Score

WhatsApp Image 2026 08 27 at 07.38.58 1

Surabaya – Kinerja keuangan BYD pada semester pertama 2026 tak semoncer penjualan mobil listriknya di pasar global. Pendapatan dan laba bersih raksasa otomotif China itu sama-sama merosot, seiring melemahnya penjualan kendaraan energi baru (NEV) dan tekanan nilai tukar mata uang asing.

Dikutip dari CNEV Post, BYD membukukan pendapatan 344,82 miliar yuan pada semester I 2026. Angka tersebut turun 7,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lebih parah, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham anjlok 20,54 persen menjadi 12,33 miliar yuan. Pelemahan bisnis otomotif dan kerugian akibat fluktuasi kurs menjadi pukulan bagi kinerja perusahaan.

Penjualan Mobil BYD Anjlok 15,72 Persen

Sektor otomotif menjadi sumber tekanan terbesar bagi BYD. Pendapatan dari otomotif, produk terkait, dan produk lainnya turun 8,98 persen menjadi 275,34 miliar yuan.

Sektor tersebut menyumbang sekitar 79,85 persen dari total pendapatan grup.

Sementara pendapatan dari sektor elektronik dan produk lainnya justru naik tipis 0,96 persen menjadi 69,41 miliar yuan, dengan kontribusi sekitar 20,13 persen terhadap total pendapatan.

Penurunan tersebut sejalan dengan melemahnya penjualan kendaraan BYD.

Sepanjang semester pertama 2026, BYD mencatat penjualan 1.808.511 unit kendaraan. Angka itu turun 15,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan penjualan menjadi salah satu faktor utama yang menekan kinerja keuangan perusahaan.

Ekspor Jadi Penyelamat BYD

Namun, ada satu bagian bisnis BYD yang justru melaju kencang: ekspor.

Di tengah penjualan yang melemah, BYD mengirim sekitar 792 ribu kendaraan ke pasar luar China sepanjang semester pertama 2026.

Angka tersebut melonjak 67,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Artinya, ketika pasar domestik memberikan tekanan, BYD semakin agresif mencari pertumbuhan di luar China.

Ekspansi global ini juga terlihat dari performa merek-merek premium milik BYD. Penjualan gabungan Denza, Fang Cheng Bao, dan Yangwang meningkat hingga 61 persen.

Kontribusi merek-merek kelas atas tersebut terhadap total penjualan kendaraan penumpang BYD juga meningkat menjadi 12,8 persen.

BYD Tetap Jor-joran Kembangkan Teknologi

Menariknya, tekanan laba tidak membuat BYD mengerem investasi teknologi.

Perusahaan tetap menggelontorkan dana besar untuk penelitian dan pengembangan (R&D). Pada semester pertama 2026 saja, investasi R&D BYD mencapai sekitar 28,9 miliar yuan.

Nilai tersebut setara sekitar 2,3 kali lipat laba bersih BYD pada periode yang sama.

Jika dihitung secara akumulatif, total belanja R&D BYD bahkan telah menembus lebih dari 270 miliar yuan.

Langkah ini menunjukkan BYD masih agresif membangun teknologi dan produk baru meski profit perusahaan sedang tertekan.

Juli Mulai Bangkit, Penjualan Tembus 419 Ribu Unit

Kabar baik mulai terlihat memasuki semester kedua.

Pada Juli 2026, BYD mencatat penjualan 419.211 unit, naik 21,76 persen dibandingkan Juli tahun sebelumnya.

Kinerja tersebut sekaligus menandai pertumbuhan penjualan selama tiga bulan berturut-turut.

Lebih mengejutkan lagi, ekspor kendaraan penumpang dan truk pikap BYD ke luar China mencetak rekor baru.

Pada Juli, jumlah ekspornya mencapai 179.841 unit, meroket 124,3 persen secara tahunan.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa meski kinerja semester pertama BYD tertekan, mesin ekspor perusahaan justru semakin panas.

Jika tren penjualan dan ekspor tersebut berlanjut, BYD punya peluang untuk menutup tekanan pada semester pertama dengan performa yang lebih kuat pada paruh kedua 2026.

Bisnis BYD memang sedang kena rem di dalam negeri, tetapi gas ekspor justru diinjak semakin dalam. info/red

63 / 100 SEO Score