25 April 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Hikmat Allah (1)

7 / 100 SEO Score
IMG 20220603 WA0025


“Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, aku memimpin engkau di jalan yang lurus.” (TB Ams 4:11)

INSPIRASI:
Di dalam Perjanjian Lama, Hikmat dipahami sebagai tindakan yang di satu sisi selaras dengan kehendak Allah dan menarik kesimpulan atau mengambil keputusan masuk akal yang didasari oleh pengalaman iman. Secara umum kata ‘hikmat’ (Inggris: wisdom) memiliki arti: suatu pengertian dan pemahaman yang dalam mengenai orang, barang, kejadian atau situasi, yang menghasilkan kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan perbuatan sesuai pengertian tersebut. Dengan hikmat, orang dimampukan untuk membuat keputusan dengan benar, dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak.
Dari manakah datangnya hikmat? “Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.” (Amsal 2:6). Tertulis pula, “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” (Amsal 9-10). Daud dapat beroleh hikmat, yakni dari persekutuannya yang intim dengan Tuhan dan ketekunannya dalam merenungkan firman Tuhan di sepanjang hidupnya. “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan.” (Mazmur 119:97-99). Jadi kita dapat beroleh karunia hikmat dengan menjalin keintiman atau kedekatan dengan Tuhan serta merenungkan firman-Nya.
Kita sangat membutuhkan hikmat Allah untuk bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan; untuk tetap berjaga-jaga bagi kedatangan Kristus kembali; untuk mengasihi sesama. Apabila kita kekurangan hikmat, dapat memohon pada Tuhan: “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, – yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit –, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” (TB Yak 1:5) Amin.

7 / 100 SEO Score