22 August 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Gathering Starlight Community Satukan Pecinta Dansa di Surabaya

63 / 100 SEO Score

Gathering Starlight Community

Surabaya – Suasana penuh semangat dan keceriaan mewarnai Gathering Starlight Community yang digelar di Bima Restaurant Surabaya, Jumat malam (21/8/2026). Acara tersebut diisi dengan penampilan singing, dancing, hingga line dance yang atraktif dan menghibur.

Starlight Community merupakan komunitas dansa dan sosial di Surabaya yang berdiri sejak Desember 2024. Komunitas ini menjadi wadah bagi masyarakat yang memiliki minat terhadap dansa, line dance, dan bernyanyi. Selain kegiatan rutin, Starlight Community juga aktif menggelar acara dansa setiap bulan serta berbagai kegiatan untuk memperingati hari jadinya.

Pendiri Starlight Community sekaligus pemilik Surabaya International Ballroom Dancesport Academy (SIBDA), Hadi Tjahjono, mengatakan komunitas tersebut hadir untuk memberikan ruang bagi masyarakat Surabaya yang memiliki hobi berdansa. Lebih dari itu, Starlight Community juga ingin mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar menjadikan dansa sebagai kegiatan positif yang dapat ditekuni hingga meraih prestasi.

Menurut Hadi, gathering kali ini terasa istimewa karena menghadirkan pasangan dansa muda, Sebastian Maximillian Tjahjono dan Rachel Lee Soon Qing. Keduanya baru sekitar enam bulan menjadi partner dansa, namun telah mampu menorehkan prestasi di tingkat dunia.

Sebastian Maximillian Tjahjono, yang akrab disapa Max, merupakan putra Hadi Tjahjono dan kini berusia 18 tahun. Sementara itu, Rachel Lee Soon Qing merupakan remaja asal Malaysia yang baru berusia 14 tahun. Meski baru sekitar enam bulan berpasangan, keduanya telah menorehkan prestasi membanggakan di cabang olahraga DanceSport dengan meraih runner-up pada kategori Amateur Asia Pacific dan peringkat keenam pada kategori Amateur Open.

“Kehadiran Max dan Rachel ini sangat menarik. Kami ingin masyarakat, khususnya anak-anak muda, semakin gemar berdansa dan tidak menutup kemungkinan bisa meraih prestasi. Anak-anak muda biasanya lebih menyukai hip hop dan K-pop,” ujar Hadi.

Hadi menilai dansa tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menjadi aktivitas positif yang dapat melatih kedisiplinan, koordinasi tubuh, konsentrasi, serta membuka peluang untuk berprestasi.

Hal senada disampaikan Puspitadewi Prijadi, salah satu anggota Starlight Community dan SIBDA. Presiden Direktur PT Matahari Sakti tersebut mengaku telah bergabung di SIBDA sekitar empat tahun lalu dan merasa senang dapat terus belajar serta mengembangkan kemampuan berdansa bersama Hadi Tjahjono.

Menurut Puspitadewi, berdansa memberikan banyak manfaat, baik bagi kesehatan tubuh maupun kemampuan otak. Gerakan dansa yang membutuhkan konsentrasi dan kemampuan menghafal berbagai langkah serta koreografi membuat aktivitas tersebut tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membantu menjaga pikiran tetap aktif.

“Berdansa itu membuat kita lebih enjoy dan banyak manfaatnya untuk kesehatan. Kita juga harus menghafalkan step dan koreografi, sehingga otak terus bekerja. Dansa memiliki banyak teknik. Kalau kita tidak menguasai teknik dengan baik, tentu kita tidak bisa berdansa dengan indah dan harmonis,” ungkapnya.

Dalam gathering tersebut, Hadi juga mengajak seluruh hadirin mempraktikkan gerakan dasar dansa dengan ketukan musik yang ritmis dan sederhana.

Para peserta diajak memulai dengan berdiri tegak dan rileks sambil merasakan irama musik. Gerakan kemudian dilanjutkan dengan menggeser kaki kanan ke samping, merapatkan kaki kiri sambil memindahkan berat badan, kemudian berganti ke arah sebaliknya.

Hadi juga mengajarkan gerakan dasar maju dan mundur. Peserta melangkahkan kaki kanan sedikit ke depan sambil memindahkan berat badan, kemudian menariknya kembali ke posisi semula. Setelah itu, kaki kanan dilangkahkan sedikit ke belakang sebelum kembali ke posisi berdiri normal. Seluruh gerakan dilakukan secara berulang dengan mengikuti irama musik.

Suasana pun semakin meriah ketika seluruh hadirin mengikuti instruksi Hadi dengan penuh perhatian. Tak hanya peserta berusia muda, anggota komunitas dari berbagai kelompok usia turut menikmati setiap gerakan.

Hadi mengatakan usia bukan menjadi penghalang untuk mulai belajar dansa. Sebagian muridnya bahkan berusia lebih dari 40 tahun. Beberapa di antaranya telah berusia sekitar 75 tahun, namun tetap sehat, aktif, dan energik saat berdansa.

“Jadi, tidak ada kata terlambat untuk belajar dansa. Yang penting mau bergerak, menikmati musik, dan terus belajar,” tuturnya.

Malam itu, Hadi juga memberikan hadiah angpao kepada Max dan Rachel sebagai bentuk apresiasi atas prestasi yang telah mereka raih. Acara kemudian ditutup dengan pembagian door prize bagi sejumlah peserta yang beruntung.

Gathering Starlight Community tersebut sekaligus menunjukkan bahwa dansa bukan sekadar aktivitas hiburan. Dansa dapat menjadi ruang untuk bersosialisasi, menjaga kebugaran, melatih konsentrasi, mengembangkan kemampuan, sekaligus membuka peluang bagi generasi muda untuk meraih prestasi di tingkat yang lebih tinggi. info/red

63 / 100 SEO Score